ART AND CRAFT

Saatnya ‘mengacak-acak’ dunia seni

Augustman (Indonesia) - - Contents - PENULIS FARHAN SHAH + AMELIA NURTIARA FOTO THE COMMISSIONED

Apakah karya seni harus mahal?

HANYA DI DUNIA SENILAH Anda dapat menciptakan bercak cat di atas kanvas sebagai mahakarya dan dilelang seharga puluhan juta dolar. Seseorang membeli lukisan Mark Rothko berbentuk persegi panjang dengan warna dasar kuning seharga 47 juta dolar Amerika beberapa bulan yang lalu. Bagus untuk dipajang di galeri. “Tetapi apakah seni itu harus mahal, terutama untuk hal yang Anda tidak mengerti? Apakah seni harus mewah?“tanya Melvin Yuan, pendiri Commissioned (lihat side bar).

Yuan berpikir bahwa dunia seni adalah ibarat pakaian kaisar. Kaisar jelas-jelas telanjang bulat namun tidak ada yang berani berkata karena takut atau tidak kompeten. Butuh seorang anak untuk menyuarakan apa yang orang lain pikirkan. Yuan ingin menjadi anak tersebut. Dia ingin memajukan dunia seni dengan The Commissioned, ia percaya bahwa ialah pemenangnya. “Saya berani bertaruh, bahwa orang-orang di seluruh dunia pasti banyak yang menginginkan karya seni digantung di dinding rumah mereka tanpa harus membeli,“tutur Yuan.

Menurut Yuan, galeri seni adalah nilai utama dalam ilusi rumit ini. Mereka pindah ke negara lain, biasanya negara ketiga di dunia namun kelas satu di kreatifitas (seperti Bali dan Vietnam) atau mengincar seniman berbakat. Mereka menyampaikan kepada artisnya bahwa mereka akan membeli semua karya seninya untuk dua tahun ke depan seharga 500 dolar per buah. Artisnya senang. Galeri seni pun tersenyum di sudut ruangan. Ketika karya seni itu menggantung di galeri seni, harganya naik menjadi 2.000 dolar. Keuntungan yang tidak adil.

“Seni itu untuk semua orang. Biasanya untuk menceritakan kisah dan dihargai. Tidak harus mewah yang hanya bisa dinikmati 10% manusia saja,“desak Yuan. Tidak hanya Yuan yang merasakan ini tetapi juga kritikus seni Amerika, Dave Hickey juga pernah berkata bahwa dunia seni itu hampir mati.

“Mereka sedang membatasi bisnis, makanya ketika di seni mereka seperti mendapat durian runtuh. Ini lebih dari serius. Editor seni dan kritikus telah menjadi kelas punggawa. Semua yang kita lakukan adalah membayangkan berjalan di kerajaan dan menasehati para orang kaya. “Demikian pula, kritikus seni lain dan mantan direktur museum Julian Spalding tanpa ampun mengkritik seni kontemporer di setiap kesempatan, pelabelan terjadi pada seniman seperti Damien Hirst dan Jeff Koons yang dikenal karena: langka; tidak orisinil; dan memiliki ornamen yang berkilauan.” Yuan ingin terlibat lebih dalam lagi soal ini. Dengan mendirikan The Commissioned, ia telah memindahkan isi kepalanya ke sini. Apakah kartunya tertahan itu lain cerita lagi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.