TRAVEL

Di Wisconsin, kami menemukan dunia dimana pesawat dan bagasi saling berkaitan.

Augustman (Indonesia) - - Contents - TEKS DARREN HO FOTO RIMOWA + CORBIS IMAGES

Terbang bersama Rimowa

MENATAP SPIRAL KUNINGYANG disemburkan DC 13 ke langit membuat saya juling dan pusing. Pesawat itu menukik naik turun seperti roller coaster. Pada satu titik pesawat memiringkan badannya tanpa melaju ke depan, sebuah pertunjukan aeronautikal yang cemerlang dari sang pilot. Tak berhenti di sana, pesawat lain seakan tidak mau kalah dan bermanuver sangat rendah, bahkan seharusnya sudah mencium tanah.

Di sisi lain, serangkaian pesawat jet mendapat tepuk tangan dan riuh ribuan penonton karena menampilkan formasi diamondserta beberapa formasi rapi lainnya. Orang-orang itu tengah berada di Oshkosh menyaksikan airshowberbagai pesawat terbang.

EAA Airventure di Oshkosh adalah pertunjukan udara terbesar di dunia. Digelar selama seminggu pada setiap bulan Juli, pertunjukan ini menjadi daya tarik bagi ribuan orang yang menggilai berbagai hal mengenai pesawat, mulai dari penggemar fisik pesawat, penyuka sejarah pesawat, hingga kumpulan pelancong dengan pesawat. Bersama-sama, mereka berkumpul di sebuah kota kecil di Winnebago, Wisconsin, untuk menggali serbaserbi pesawat, mulai dari yang baru hingga pesawat model tua sekalipun.

Acara tahunan yang telah rutin digelar selama 4 dekade ini tak hanya menampilkan pesawat, tapi juga menjadi tempat debut bersejarah teknologi aeronautikal. Tahun ini khusus di kelas lightweightdan pesawat eksperimental, banyak perakit pesawat yang memperlihatkan konsep baru dan unik, mulai dari kendaraan single seateryang sebesar teras belakang rumah, hingga pesawat listrik rakitan Honda. Airbus juga ikut ambil bagian dalam gelaran ini dengan membawa pesawat komersil tipe A350 yang mendemonstrasikan kepiawaiannya saat mendaki di altittudeyang tinggi maupun menukik menuju ketinggian yang lebih rendah.

Semuanya sungguh sangat menarik, tapi sejatinya bukan itulah yang membuat kami berada di pertunjukan ini. Beramai-ramai menuju etalase Rimowa, kami menunggu untuk peluncuran seri bagasi kopor terbaru dari sebuah merek yang terinspirasi oleh salah satu mesin terbang tertua di dunia: F13 Junkers.

The Junkers Company didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Hugo Junkers. Perusahaan ini awalnya adalah perusahaan komersial yang memproduksi ketel uap dan radiator. Tidak begitu menarik, tapi hal itu membuka jalan bagi Junkers untuk membangun masa depan produksi pesawat dan konstruksi.

GERMAN ENGINEERING

Jerman, pada pergantian abad ke-20, adalah entitas kuat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi penelitian serta desain dan rekayasa ilmiah yang sangat mengakar. Hugo Junkers adalah salah satu perwujudan tersebut. Selain Junkers juga ada Alfred Wilm, ilmuwan Jerman lainnya yang ahli di bidang metalurgi. Ia menemukan cara bagaimana untuk mengeraskan dan membuat alumunium tahan lebih lama, dengan mencampur bahan tersebut dengan tembaga.

Terakhir, ia memadukan bahan-bahan tersebut pada panas berskala suhu kamar yang

Penambahan tembaga ke dalam aluminium menghasilkan lakur yang lebih keras namun tetap ringan dan kuat

membuat racikannya itu mengeras dengan sangat signifikan. Materinya pun tetap ringan dan kuat. Racikannya itu pun dijuluki dengan nama “duralumin”, sesuatu yang terdengar keluar dari komik Captain America. Pada tahun 1909, duralumin dianggap sangat baik untuk diterapkan pada teknologi penerbangan.

Pesawat yang lebih berat dari udara seperti airships, zeppelin, dirigibles, adalah konsep baru bila dibanding pesawat yang lebih ringan dari udara. Akan tetapi, campuran udara yang digunakan dalam airshipscenderung berisiko. Insiden bencana Hindenburg menunjukkan risiko teknologi tersebut dan memudarkan pengembangan konsep pesawat yang lebih bertenaga.

Sampai kemudian, dikembangkanlah konsep pengggunaan balok dan rangka pada pesawat. Dengan bingkai kayu yang diperkuat dengan kabel dan ditutupi dengan kain. Adanya rancangan baru ini membuat kekhawatiran akan keselamatan saat terbang menjadi terpinggirkan. Inovasi untuk dunia penerbangan pun kembali bergairah.

Junkers sendiri mulai bereksperimen dengan prototipe pesawat J1, dimana semua permukaan pesawat berlapis logam. Ia mengadopsi gaya rancangan mobil balap, tapi dengan timbal baja membuat prototipe itu bergerak dengan berat dan lamban, bahkan juga manuver yang buruk. Saat itu alumunium masih merupakan barang yang cukup mahal, sedangkan racikan duralumin belum bisa diproduksi ke dalam bentuk lembaranlembaran.

Tapi, 3 tahun kemudian, setelah 2 desain prototipe dan berhasil dalam inovasi duralumin, Junkers akhirnya berhasil membuat pesawat pertamanya yang berlapis logam, yaitu J4. J4 adalah sebuah pesawat lapis baja, dirumuskan selama masa perang dan dirancang untuk digunakan dalam serangan militer. Petelah Perang Dunia I usai, produksi J4 pun dihentikan. Tapi Junkers mendapat izin untuk menggunakan pesawat itu untuk kepentingan riset penerbangan sipil. Hal inilah yang akhirnya mengarah untuk terciptanya F13, sebuah pesawat angkut pertama di dunia yang berbahan logam.

Dengan sepasang sayap rendah yang berpenyangga logam, pesawat yang berlogo huruf F(untuk ‘Flugzeug’, yang berarti pesawat dalam bahasa Inggris) menjadi pesawat penumpang yang dirancang untuk penggunaan komersial. Bahkan desainnya jauh lebih baik dari pesawat sejawat yang ada saat itu. Diproduksi 322 unit, hanya segelintir yang masih tersisa saat ini.

RIMOWA AND JUNKERS

Junkers banyak diperebutkan selama masa Nazi Jerman dan ditugaskan memproduksi pesawat untuk Luftwaffe. Serangan dahsyat yang dipimpin Angkatan Udara Jerman di Eropa menunjukkan betapa mengagumkannya teknologi buatan Junkers. Pasca perang sebagian perusahaan diinvestasikan dalam perjalanan angkasa, tetapi justru berakhir untuk menjadi aset dalam perusahaan lain.

Namun pesawat buatan Junkers terus beroperasi melalui perusahaan lain dan masih menawarkan penerbangan privatedalam cakupan wilayah Eropa. Kemampuan low-flight mereka sangat menarik perhatian pilot dan penggemar penerbangan yang bisa melihat secara nyata bagaikan pandangan seekor burung di bawah permukaan, khususnya dengan F13 yang tidak memiliki kaca depan. Kacamata, helm, dan sarung tangan yang dikenakan pilot, diperlukan untuk melindungi mereka dari dingin di ketinggian mana pun.

Setelah Junkers mulai menghilang dari bisnis ini, ketenaran F13 juga turut hilang bahkan sampai saat ini, ketika ketua dan CEO dari Rimowa GMBH Dieter Morzeck, keturunan langsung dari sang penemu, mengakuisisi F13 vintageuntuk berada dalam naungan perusahaan. Ia berusaha memulihkan sosok tua

Serangan oleh angkatan udara Jerman menunjukkan ketangguhan teknologi Junker

ini agar kembali tampil megah, baik dari dalam interior dan seluruhnya.

Morzeck menujukkan bahwa perusahaan pasca-perang ini masih erat dengan teknologi penerbangan. Inovasi besutan Wilm dengan bahan duralumin dan penggunaan alumunium, merupakan salah satu dari elemen desain yang menginspirasi alur koper Rimowa. “Ada begitu banyak hal yang terkait erat antara Rimowa dan Junkers. Bahkan kami membuat satu koper berbahan duralumin, bahan yang sama yang digunakan F13 ketika itu,” jelasnya.

Mengembalikan pesawat ke bentuk semula bukanlah hal yang sederhana. Seperti produsen mobil Jaguar ketika berusaha bersaing di pasaran dengan enam E-type sasis terbaru yang dimilikinya, Rimowa membutuhkan F13 dengan kondisi baik sehingga bisa diperiksa lebih detail. “Kami berhasil menemukan F13 yang masih bekerja di Paris, dan kami harus mencetaknya kembali dalam bentuk peta 3D untuk membuat model tersebut. Setelah itu kami membandingkan pesawat yang kami punya, melihat bagian-bagian yang berubah atau hilang atau rusak. Kemudian kami mencoba untuk menemukan partisi lainnya dari perusahaan pesawat vintageberbeda, jika memiliki cela, kami yang bertugas untuk memproduksi mereka. “

Butuh lebih dari setahun untuk membuat pesawat ini berfungsi kembali, dan Morzeck tidak bisa menolak kesempatan untuk naik dan tur ke daerah-daerah untuk sebuah F13. “Kami mengambil dua bulan perjalanan dari satu negara ke negara lain di Eropa bersama Johannes Huebl dan Alessandra Ambrosio yang merupakan friens of the brand. Perjalanan kami ini berjalan baik,” ucapnya.

Seiring dengan peluncuran pesawat di Oshkosh, Rimowa juga mengambil kesempatan untuk mengungkap edisi khusus dari Flight Classicyang akan tersedia ”sekitar tahun 2016”. Pada halaman ini ditampilkan versi prototype, ilustrasi laser Junkers F13 terukir di bagian depan. Setiap paku keling pada case juga dicap dengan outlinepesawat, menambah kesan vividpada setiap sambungannya. Satu set lengkap akan diproduksi, tapi belum diputuskan apakah akan menjadi edisi terbatas atau edisi khusus dengan produksi terbatas. Sementara kita menunggu berita tentangnya, CEO perusahaan juga memberikan petunjuk kemungkinan lainnya dari serangkaian produk Rimowa yang terbuat dari duralumin, dengan tersipu ia mengatakan “mungkin, anda tidak pernah tahu”. Melihat tinjauan kembali hubungan bersejarah Rimowa dan dunia penerbangan, koper ini pasti akan menjadi pilihan menarik.

EAA Airventure Airshow di Oshkosh; Tim jet melakukan demonstrasi terbang; Rimowa merayakan pesawat vintage dan penerbangan dalam sebuah malam yang didedikasikan untuk tahun 1920an dan maraknya industri penerbangan saat itu; Pembukaan selubung Junkers F13

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.