The Man Comes First

Riccardo Tisci dari Givenchy menjelaskan proses desain yang terjadi di dalam benaknya

Augustman (Indonesia) - - Lookbook - TEKS DARREN HO + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI

SEBAGIAN BESAR DESAINER MEMULAI UNTUK MENGERJAKANSUATU koleksi dengan sebuah tema, sebuah ide, sebuah muse... sesuatu yang memberikan inspirasi. Pakaian dihasilkan pertama kali, kemudian konsep runway, show, musik, dan terakhir, model. Namun Riccardo Tisci melakukan sebaliknya. Kembali ke tahun 2009 ketika ia merilis debut koleksi menswearbagi Givenchy, ia memulai castingsetahun sebelum showdigelar.

Desainer asal Italia bertubuh tinggi dan atletis ini merasa frustasi justru karena kurangnya jumlah model yang pantas. Penampilan seperti rocker punkdengan tubuh kurus sedang menjadi tren, dan sebagian besar model pria memiliki tubuh langsing dan kurus. Itu bukanlah penampilan Givenchy manyang ingin ia tampilkan.

“Saya ingin memulai menswearsecara sedikit mengejutkan – ‘tubuh yang lebih berisi, sehat, sporty’ – pria yang penuh percaya diri,” ia menjelaskan. Ia adalah yang pertama yang merangkul para model pria berpenampilan fit dan berotot. Pendekatan Tisci berhasil.

Desain Givenchy terus berlanjut dengan tampilan bold, flamboyan, berani, serta membangkitkan figur maskulin yang kuat dalam gaya yang kontemporer, seperti para model yang di-castingtisci untuk shownya. Label fashionprancis memiliki reputasi mempekerjakan model dengan ras berlainan. Dari Rob Evans hingga Willy Cartier, brand ini telah mengorbitkan banyak nama model, banyak di antaranya ditemukan secara langsung di jalanan oleh Tisci.

“Ketika saya mulai melakukan casting setahun sebelum showpertama dilangsungkan, agensi-agensi dipenuhi oleh pria-pria kurus. Beautiful, namun mereka bukan tipe pria yang

saya cari. Saya ingin melakukan castingyang sesungguhnya. Maka saya mulai melakukan street casting di Amerika. Keberanekaragaman kultur adalah sesuatu yang penting bagi saya. Ketika saya masih muda, itulah yang direpresentasikan oleh Amerika – perpaduan orang-orang yang berbeda. Saya cukup terobsesi dengan Amerika.”

“Saya melakukan perjalanan menuju Brazil, Kuba, Puerto Rico, dan Maroko, tempat-tempat yang saya kunjungi untuk berlibur dan bekerja. Kemudian saya menjumpai pemuda-pemuda dengan kepribadian kuat serta memiliki tubuh yang fit. Mereka bukanlah tipe orang dengan keindahan kanonik, namun bagi saya mereka itu nyata.”

Trotoar adalah tempat dimana ia menemukan inspirasi, baik bagi pakaian dan juga orang yang mengenakannya. Model bertubuh besar dan fit kembali lagi di dunia fashion, bersama dengan lebih banyak perpaduan streetweardan sportswear,dua hal yang dirangkul Tisci secara bersamaan.

“Sepanjang casting, saya tidak pernah menanyakan portfoliopara model. Bagi saya, tidak penting apa yang pernah dilakukan orang dalam hidupnya. Saya cenderung mengajak mereka berbicara dan memahami karakter mereka. Saya suka meng-castingorang yang memiliki kepribadian.”

“Dengan melakukan street castingmaka Anda akan jatuh cinta pada suatu kepribadian. Setiap individu datang dengan membawa keseniannya, karakteristiknya. Ia berada di sana tanpa suatu persiapan khusus. Oleh karena itu, Anda akan mengerti kepribadian dari orang yang Anda jumpai.”

Hal itu berjalan lebih lanjut ketika ia bekerja menciptakan pakaian di sekitar para model yang akan mengenakannya, hingga make-up dan groomingyang akan mereka tampilkan di dalam show. “Pertama, saya meng-castingpara model kemudian saya mengerjakan koleksi pakaian. Mencocokkan model dengan pakaian yang tepat sangat penting bagi saya. Sehari sebelum show, kami duduk bersama untuk mengalokasikan tampilan dan memutuskan suatu tampilan tertentu untuk dikenakan oleh model tertentu.

Proses ini memakan waktu berjam-jam karena saya ingin mereka tampil bagus dan merasa nyaman dengan apa yang mereka kenakan.”

After all, fashionharus tampak dan terasa bagus. Ini adalah karya seni yang dikenakan pada tubuh.

Dengan melakukan street casting maka Anda akan jatuh cinta pada suatu kepribadian. Setiap individu datang dengan membawa keseniannya, karakteristiknya. Ia berada di sana tanpa suatu persiapan khusus.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.