Such a Tease

BINTANG BURLESQUE, AKTIVIS HAK PEREMPUAN DAN... SEORANG TREKKIE?

Augustman (Indonesia) - - Sukki Singapora - TEKS FARHAN SHAH + AMELIA NURTIARA FOTO BERBAGAI SUMBER

Sukki Singapora sedang duduk menggoda di lantai. Ia bolakbalik melihat kamera, kakinya bewarna coklat karamel terlihat erotis di kamera dan ia mengenakan dua item pakaian - underweardengan balutan coatbermotif leoparddari Burberry yang menggantung di bahunya. Sang asisten sudah siap berdiri di sampingnya untuk membantu menata mantelnya. Sukki sudah terbiasa melakukan pemotretan seperti ini, bahkan ia sudah pintar berpose, ia sudah menjalani ini selama empat tahun.

Menjalani dua dunia yang berbeda di usia 25 tahun, ia terus mengasah keseimbangannya. Dia ibarat black sheepyang mencoba keluar dari keluarga tradisional Singapura, orang yang berani tampil beda.

Kedua orangtuanya adalah dokter, menginginkannya untuk mengambil jurusan sains. Ia bersikukuh untuk mengambil artistik, namun berkompromi untuk mengambil geografi. Ia lulusan University of Nottingham yang mempelajari pergeseran lempeng tektonik dan pola hidup urban.

Setelah lulus, ia mendapat pekerjaan merancang sistem operasi Linux, yang terdengar sangat klise dan un-sukki-esque. Tetapi dia menikmati, bahkan unggul di bidang itu. “Saya seperti kutu buku. Saya biasa bermain segala macam permainan komputer, GTA San Andreas, dan lainnya. Saya adalah seorang Trekkie. Karakter fiksi ilmiah favorit saya adalah Ambassador Kosh dari Babylon 5,” ungkapnya dengan penuh rasa gembira sembari memamerkan lencananya dengan bangga.

ORIGINS

Seperti kehidupan yang penuh lika-liku dan memiliki jalan cerita yang sulit ditebak. Tahun 2011, sebuah klub komedi - The Laugh Inn Comedy Theatre – baru saja dibuka di Chester, berdekatan dengan tempat tinggalnya, mereka sedang mencari penari burlesque.

“Saya merasa bahwa karma itu ada, seperti yang Anda lihat. Saya selalu ingin ke dunia seni dan melihat ini ada di depan mata saya seperti sebuah pertanda, bahwa ini kesempatan yang harus diambil.”

“Apakah Anda seorang religius?” saya bertanya.

“Tidak, tidak, tidak sama sekali,“jawabnya. “Saya rasa saya percaya bahwa kehidupan akan membawa Anda ke tempat yang benar-benar Anda inginkan jika sudah siap.”

Ketika berusia 21 tahun, Sukki yang naif telah dibukakan matanya oleh panggung teater. Ia banyak belajar dari internet. Ia berkata kepada manajernya, bahwa ia memiliki “12 tahun pengalaman” Ia telah melakukan ini selama bertahun-tahun. Ia ingin menunjukkan kepada semua kliennya. Ia akan mencoba untuk bermain ke tempat yang lebih lagi, seperti Las Vegas. Ini brilian.

Apakah manajernya percaya ceritanya (“yang artinya ia sangat buruk dalam Matematika,” tawa Sukki) atau kebingungan dengan ceritanya yang muluk, kita tidak pernah tahu. Ia mendapatkan pertunjukan selama tujuh hari dan masuk dalam daftar tutorial Youtube untuk persiapan rutinitasnya.

Seminggu kemudian, antusias penonton sangatlah bagus dan meminta Sukki untuk bermain lagi, ini bisa menghasilkan uang banyak, hingga akhirnya Sukki ditawari pekerjaan tetap. Kini, ia menjadi bintang bonafide, setidaknya di wilayah Chester.

PINNACLES

Tahun ini telah menjadi salah satu pengalaman spektakuler pertama bagi Sukki. Selain diundang untuk tampil di Burlesque Hall of Fame di Las Vegas pada bulan Juni – event burlesqueterbesar dan merupakan tempat berkumpulnya para insan seni – Sukki juga menyaksikan pengesahan burlesque di Singapura. Butuh empat tahun untuk melakukan kampanye tersebut yang dipimpin oleh Sukki sendiri, sebelum akhirnya pemerintah yang berkuasa dan menyadari bahwa seni adalah bentuk dari nilai budaya.

Awal tahun ini juga, Ratu (Elizabeth II) mengundang Sukki ke Buckingham Palace di Inggris untuk tradisi minum teh. Terdapat baked goodsdan creamy cakes, yang dibuat secara freshdi sebuah royal bakeryyang berada di istana. Ada berbagai minuman berkafein panas dari variety English Breakfast. Dan Ratu pun memberi selamat kepadanya karena telah memperjuangkan hak-hak perempuan. Dengan tubuh curvy-nya, wanita bosomyini menanggalkan pakaiannya di atas panggung, meskipun aslinya tidak seperti itu, ia mengenakan korset era Victoria selama enam jam setiap harinya, ia harus mengenakan korset yang semakin ketat setiap hari, meremas pinggangnya hingga proporsi tubuhnya seperti Barbie.

Empat tahun lalu, pinggangnya diukur 24 inci. Sekarang, pita ukur berhenti di angka 17,5, bahkan mengalahkan Kylie Minogue yang terkenal akan pinggangnya yang berukuran 18,5 inci.

Saya bingung. “Bukankah korset itu merupakan lambang dominasi pria, agar wanita memiliki bentuk tubuh seperti yang diinginkan pria?” tanya saya.

“Ya, Anda benar,“jawabnya penuh semangat. Ini adalah perhatian yang diberikan oleh ambassadorsharan Project (sebuah organisasi yang mendukung wanita Asia Selatan). Ketika wanita di era Victoria mengenakan korset, itu semata-mata agar menarik secara seksual bagi pria. Sekarang, wanita mengenakan korset untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain!” “Pause. Breathe. Advocate.”

“Saya tidak ingin memakainya hanya karena ingin dilihat oleh pria. Tetapi saya ingin memakainya karena saya menyukainya. Kami, wanita, mengklaim tubuh kami adalah milik kami. Sudah berlalu era dimana wanita membeli lingerieseksi untuk pria. Kami memakainya karena kami suka dan merasa percaya diri mengenakannya.”

Perjuangan tanpa henti untuk membela hak wanita yang ia lakukan bahkan diakui oleh Facebook, yang memasang wajahnya untuk peringatan International Woman’s Day 2015. Anda akan melihatnya dengan rambut bewarna biru, tangguh, dan feminin, berpose di tengah-tengah hiruk pikuk pernak-pernik dan memorabilia – sebuah kipas China berukuran besar, dua buah poster bergambar kupu-kupu di belakangnya; bulu merak yang menjuntai dari sebuah bureau deskyang terletak di sudut.

Apakah ada sesuatu yang tidak dapat Anda lakukan? Apa pun yang menggangu Anda?

“Saya menangis bahagia ketika saya menonton trailerstar Wars terbaru, “tutupnya diiringi gelak tawa.

SUDAH BERLALU ERA DIMANA WANITA MEMBELI LINGERIE SEKSI UNTUK PRIA. KAMI MEMAKAINYA KARENA KAMI SUKA DAN MERASA PERCAYA DIRI MENGENAKANNYA

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.