26

Brain of a man & body of french teenager

Augustman (Indonesia) - - Contents - TEKS ALDO FENALOSA FOTO DOK. FAME 74

EVE SPECIALL TEROBSESI DENGAN MUSIK dan tari-tarian sejak berusia sangat muda. Ketika ikut kelas tari, Eve kecil sering membuat mixtape dan menjual $5 per keping pada teman-temannya. Eve remaja menghabiskan banyak waktu menikmati konser-konser musisi idolanya, seperti Missy Elliot, NERD, sampai Tame Impala. Saat 18 tahun ia mulai tergoda dengan serba-serbi disk jockey. Eve lalu membeli satu set perangkat DJ dan mulai mengulik secara otodidak selama berhari-hari di dalam kamarnya. Eve Smith, nama aslinya, juga bertalenta dalam modeling. Beberapa tahun terakhir ia kerap menjadi highlight untuk agensi modeling di Hong Kong hingga Los Angeles. Ia juga pernah terpilih menjadi salah satu finalis Australia’s Next Top Model 2009 lalu. Namun kala itu Eve tidak melanjutkannya karena terbentur aktivitas lain. Di sela-sela kesibukan perempuan asal Australia ini, Augustman Indonesia berkesempatan mendengarkan kisah karir di dua “dunia” yang membuatnya begitu populer.

Apakah Anda punya genre khusus untuk Dj-ing?

Secara pribadi, saya sering memainkan Beats, Hip Hop, Future Bass and House karena saya suka beat yang akan membuat Anda terpancing untuk menari. Dancing is really important to me, sebab bila saya bisa membuatmu bergerak untuk berdansa berarti pekerjaan saya telah bekerja sempurna.

Apa kuncinya agar musik Anda selalu bisa dinikmati meski dalam event yang berbeda-beda?

Observasi dahulu. Crowd- nya akan seperti apa, cara orang-orangnya berpakaian, usia mereka. Dari sana saya akan memutuskan jenis musik seperti apa yang cocok dibawakan dalam sebuah event. Jika tampil untuk fashion event, saya juga banyak berdiskusi dengan brand terkait untuk mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan melalui musik saya.

Anda juga berkecimpung di dunia modeling, bagaimana ceritanya?

Saya memulai modeling pada tahun 2009 di Sydney. Tak lama setelah itu dikotrak oleh agensi di Tokyo, Toronto, Hamburg dan Hong Kong. Selama 4 tahun saya menetap di Hong Kong, sejak 2 tahun yang lalu saya pindah ke LA karena dikontrak oleh Ford Models yang berkantor di sana. Tetapi sekali sebulan saya masih berpergian ke Asia. Saya sendiri menikmati sesi-sesi photoshoot dan runway. Tapi ketika nanti saya sudah menemukan momen yang tepat, barangkali saya akan menyelesaikan karir saya di bidang modeling dan fokus Dj-ing.

Mengapa Dj-ing begitu berarti untuk Anda?

Dj-ing bagai wadah untuk bebas merefleksikan taste dan opini saya melalui musik. Kebebasan itulah yang kadang tidak saya dapat saat menjadi model. Adalah proses yang luar biasa untuk tumbuh dalam bidang ini secara personal dan profesional serta membuat saya bisa ke tempat-tempat yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang stereotype negatif yang sering hinggap pada seorang female DJ?

Saya pikir persepsi negatif itu sudah mulai menjauh seiring banyaknya DJ perempuan yang memperlihatkan talenta musik mereka seperti Maya Jane Coles, Annie Mac, Kito dan Alison Wonderland. Tidak semata mengandalkan pakaian yang mini untuk menarik penonton. Profesi ini memang harus dilakukan secara serius, bahkan juga harus berkembang, tidak boleh stuck di satu titik. Kelak, dengan kerja keras bukan tidak mungkin ada DJ perempuan yang mampu menembus top 50 highest paid DJ list di dunia.

Bila dideskripsikan, seperti apa style berpakaian Anda?

Style saya sejalan dengan selera musik saya, electric and broad. Biasanya saya berpakaian dengan sedikit sentuhan maskulin. Inspirasi style saya banyak berasal dari film-film yang saya tonton, seperti sekarang saya suka berpakaian seperti Sharon Stone dalam film Basic Instict atau Uma Thurman dalam film Pulp Fiction.

Saat ke Jakarta, bagaimana pendapat Anda mengenai kota ini?

Saya jatuh cinta pada Jakarta. Sayangnya saya belum bisa berada lebih lama dan mengekplorasi tempat-tempat atau nightlife di sana. Orang-orang Jakarta juga very well dan memiliki wawasan yang bagus tentang musik, which is cool.

Bagaimana Anda bisa terlibat dalam grand opening Prada di Jakarta?

Sewaktu tinggal di Hong Kong saya pernah Dj-ing untuk pesta launching Miu Miu. Lalu ternyata orang-orang di balik acara itu mengajak saya untuk tampil kembali dalam acara mereka, tapi kali ini di Jakarta untuk launching Prada. Itu sangat berarti untuk perjalanan karir saya karena Prada adalah brand yang sangat ikonik, dan menjadi bagian dalam ekspansi di Jakarta serasa seperti dream come true.

Apakah Anda sering terlibat dalam acara-acara sejenis itu untuk Dj-ing?

Sebelumnya saya sering ke acara-acara fashion, namun bukan untuk Dj-ing. Saya lebih banyak datang untuk pribadi.

Bila tidak sedang Dj-ing, bagaimana Anda menghabiskan waktu luang?

Jujur saya senang menghabiskan malam di rumah, memasak makan malam sendiri, menonton serial favorit di TV seperti Silicon Valley atau Game of Thrones, juga bersantai dengan mengeksplorasi musik-musik baru.

Seperti apa diri Anda dalam sebuah kalimat?

The brain of a man and the body of a French teenager.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.