ZAKARIA WIRAHADI KUSUMAH

The Man Behind Manly

Augustman (Indonesia) - - A- Listers - TEKS AMELIA NURTIARA CREATIVE DIRECTOR MIRANDA TOBING FOTO WILLIE WILLIAM VIDEO EDITING I.G. RADITYA BRAMANTYA LOKASI H GOURMET & VIBES, JL. GUNAWARMAN NO. 41 TEL +62 21 27510167

SUATU SIANG PADA HARI JUMAT DI BULAN NOVEMBER, saya dan tim Augustman telah siap melakukan pemotretan finalis A-lister asal kota Malang ini. Sudah cukup lama saya berkomunikasi jarak jauh membicarakan event tahunan Augustman ini. Hingga akhirnya di sebuah restoran di bilangan Gunawarman, sosok yang saya tunggu-tunggu hadir juga. Sambil tersenyum ia menghampiri lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, “Saya Zack, kamu pasti Amelia?” sapanya dengan santun.

Kami segera melakukan sesi wawancara yang berlangsung kurang lebih selama satu jam. Wawancara pun dimulai dengan pertanyaan saya mengenai bagaimana awal mulanya ia mendalami bisnis retail milik keluarganya ini.

“Bisnis keluarga ini, Manly, dirintis oleh ayah saya. Saya sedang menempuh pendidikan di Western Sydney University dan bekerja di sebuah bank swasta di Australia. Namun saya harus meninggalkan itu semua karena Ayah saya meminta saya untuk pulang ke Malang dan meneruskan bisnis ini. Saya satu-satunya harapan mereka, karena kakak-kakak saya semua sudah merasa nyaman tinggal dan bekerja di luar negeri. Di satu sisi saya merasa enggan untuk kembali ke Malang, karena saya merasa apa yang saya punya pada saat itu sudah cukup bahkan terbilang besar untuk orang seumur saya saat itu. Namun di sisi lain, saya berpikir bahawa memang salary yang saya dapat bekerja di bank tersebut sangat besar tetapi posisi saya tidak lebih dari seorang karyawan sedangkan di dalam bisnis keluarga mungkin salary- nya tidak seberapa namun saya bisa built up sesuatu dan terus mengembangkannya ke depannya. Saya sempat mengalami pergulatan batin. Maka saya memutuskan untuk pulang ke Malang dan meneruskan bisnis ayah saya, namun dengan syarat saya harus melanjutkan kuliah dengan mengambil diploma di Human Resource Management di TAFE Sydney sebelum mulai membenahi Manly,“paparnya dengan lugas.

Seiring berjalannya waktu Zack pun menyadari bahwa ia dan tim butuh kerja keras untuk mewujudkan Manly menjadi lebih baik. Mengubah konsep Manly yang oldish menjadi lebih modern dan banyak penambahan item-item fashion yang lebih related dengan tren saat ini, walaupun Manly tetap pada akarnya yaitu memproduksi kemeja pria. Apalagi Manly terbilang perusahaan retail legendaris di Malang yang karyawannya mungkin sudah ikut bekerja selama puluhan tahun, ia pun tidak ingin mengecewakan mereka. Zack butuh waktu sekitar 8 tahun untuk merestrukturasi Manly menjadi seperti sekarang. Meneruskan usaha keluarga memang tidak mudah, karena banyak perubahan yang harus diperbarui. Mulai dari sistem manajemen, struktur organisasi dan sistem IT yang kini lebih kepada data oriented. “Metode tradisional dengan mindset lama memang butuh suatu perubahan dan penyegaran supaya dapat mendapatkan peluang untuk bersaing di masa depan. Banyak perubahan yang sudah kami lakukan, mulai dari produk kami, rebranding, penyegaran SDM serta investasi di sistem IT yang lebih modern,“jelas Zack. Mengenai ekspansi, Zack nampaknya belum tertarik. Tapi yang jelas apa yang sudah ia lakukan untuk memajukan Manly yang pada tahun 2007 lalu berada di bawah manajemen PT. Prime Line International (PLI) ini saya rasa sudah tepat. Manly memperluas jangkauan pasarnya dengan ikut bermain di e-commerce seperti Zalora dan Lazada serta di beberapa department store seperti Matahari demi menarik konsumen yang lebih banyak lagi.

Selain terlibat penuh di Manly, Zack juga aktif di komunitas YES ( Young Entrepreneur Society). Sebuah komunitas pengusaha muda yang ada di kota Malang. Lalu, setelah kesuksesan yang ia bangun bersama dengan timnya apalagi sebenarnya yang ingin ia raih? Popularitas mungkin? “Bukan. I tell you one thing. Jangan memulai bisnis dengan tujuan untuk mendapatkan uang yang banyak. Uang memang diperlukan tetapi itu bukan segala-galanya. Carilah passion dan mimpi yang ingin diraih, karena di situlah letak kekuatan sesungguhnya. Passion dan mimpi adalah mesin penggerak utama. Jika orang lain sudah merasakan seberapa besar passion Anda terhadap bisnis yang Anda rintis, maka uang akan datang dengan sendirinya. Ini sudah menjadi misi saya untuk memberikan ilmu yang saya dapatkan untuk bisa diterapkan dimanapun bidang kerja Anda. Mengenai style, Zack mengakui sedikit kritis. Namun baginya fashion adalah art, sama seperti yang diterapkan sang ayah. Jadi, mungkin di situlah denyut dan nafas fashion- nya terbentuk secara alami.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.