RINO SOEDARJO

VICTORIOUS GAMES

Augustman (Indonesia) - - A- Listers - TEKS MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI CREATIVE DIRECTOR MIRANDA TOBING FOTO RIO PRAYOGO VIDEO EDITING I.G. RADITYA BRAMANTYA LOKASI AMBER CHOCOLATE BAR, JL. SENOPATI RAYA NO. 61, JAKARTA SELATAN TEL +62 21 29044412

RINO SOEDARJO tampil rapi dengan kemeja putih dengan stripe hitam formal lengkap dengan jacket berwarna grey yang senada. “Saya mendeskripsikan penampilan saya smart casual, namun karena saya baru mengikuti business meeting dan akan menghadiri meeting berikutnya jadi saya berpakaian formal. Karena bisnis yang saya jalankan bergerak di bidang creative dan lifestyle maka saya lebih sering mengenakan attire kasual dengan sepasang sneakers yang nyaman. Satu brand yang saya gemari adalah Nike yang namanya diambil dari dewa kemenangan mitologi Yunani, seolah Nike menjadi penyemangat bagi saya. Saya harus menang dalam setiap tindakan yang saya lakukan, sehingga saya tidak boleh sembrono dalam bertindak.” Di sela-sela kariernya, ia sangat memperhatikan kesehatan dengan rutin berolahraga. “Saya masih aktif bermain basket atau berolahraga di gym. Selain itu saya juga ingin terus belajar. Saya gemar membaca buku. Buku-buku yang saya baca beragam, mulai dari buku self help yang berguna untuk memotivasi diri, buku relijius, dan juga buku mengenai ekonomi. Buku terakhir yang saya baca adalah From One Dollar to Billion Dollars Company karya Rhenald Kasali dan Emirsyah Satar yang berisi mengenai perjalanan transformasi Garuda Indonesia secara bertahap sejak 2005 mulai dari tahapan survival, turn around, growth hingga menjadi maskapai penerbangan global player. Selain itu saya juga membaca buku karangan Malcolm Gladwell berjudul David and Goliath: Underdogs, Misfits,and the Art of Battling Giants, sebuah buku mengenai bagaimana cara memenangkan persaingan melawan pihak yang diunggulkan.”

“Saat ini kesibukan saya adalah menangani dua buah company, itu yang utama. Sebuah production house Code Red dan agensi model Perfect 10 Management. Selain itu juga terdapat sebuah website mengenai fashion dan lifestyle, wevegotcha.com. Saya mengambil jurusan ekonomi saat berkuliah di Kanada, setelah itu saya sempat bekerja untuk perusahaan HR consultant namun kemudian saya memutuskan untuk membuat sebuah perusahaan sendiri bersama tiga rekan. Pertama kali yang terbentuk adalah production house karena kami melihat media pertelevisian Indonesia mulai berkembang saat itu dan kami menyuplai televisi-televisi dengan berbagai program yang kami ciptakan. Setelah itu, barulah Perfect 10 muncul. Agensi model ini juga didirikan karena industri fashion Indonesia yang terus maju. Kini bukan hanya desainer atau fotografer yang membutuhkan model, berbagai brand dan pusat perbelanjaan besar juga mulai menyajikan fashion show sebagai bagian dari marketing.” “Dalam berusaha, tidak mungkin jika kita selalu berhasil. Saya juga pernah mengalami berbagai hambatan. Contohnya adalah yang berhubungan dengan kultur. Banyak model yang berasal dari luar negeri yang merasa superior dan lebih hebat daripada model-model lokal. Banyak pula di antaranya tidak memahami kultur Indonesia yang senang beramah-tamah, bersopan-santun, gemar berbasa-basi, berbincang-bincang, dan tersenyum. Hal itu akan menimbulkan permasalahan ketika sebuah proyek dijalankan. Misalnya, ketika model tidak mampu berinteraksi dengan fotografer maka proses photoshoot tidak akan berjalan dengan baik dan tidak menyenangkan. Mungkin hasilnya baik namun tidak maksimal. Lalu pada akhirnya para klien akan beranggapan bahwa modelmodel dalam agensi kami memiliki attitude buruk dan tidak akan menggunakan jasa manajemen kami. Saya mengatasinya dengan memberikan edukasi lebih bagi para model. Saya ingin memberi pengetahuan mengenai kultur Indonesia,” ujar pria yang mengaku tetap terbuka menerima kritik dan masukan dari anak buahnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.