The Coiled Reptile

Franck Muller terjun kembali ke dunia reptil dengan kulit bersisik Vanguard Cobra yang baru

Augustman (Indonesia) - - Highlight - TEKS SEAN MOSSADEG

SEBAGAI WATCHMAKER, Franck Muller memainkan peran integral dalam pergeseran arloji sebagai aksesoris utilitarian menjadi barang-barang mewah high-end. Dengan desain yang mengusung keyakinan tentang arloji seharusnya tidak boleh kuno, Franck Muller tidak pernah lepas dari unsur-unsur yang bergengsi.

Seiring waktu, jam tangan dengan tourbillion besar seperti Gigatourbillion sangat melekat di pikiran. Jadi ketika beberapa tahun lalu Muller menggunakan buaya sebagai inspirasi dan croco line, banyak yang meramalkan bahwa penggemar dan para kolektor akan berebut, bahkan “membunuh” untuk mendapatkan satu kepingnya. Koleksi ini menampilkan arloji dengan case dan dial yang diproduksi dengan sentuhan mesin untuk tampilan relief sisik, yang makin identik dengan penggunaan strap kulit buaya yang menjadi favorit banyak merek. Keberhasilan koleksi ini ditandai dengan brand Cobra Line yang menjadi salah satu inspirasi tahun ini.

Dalam jajaran Vanguard milik Franck Muller, case Gold Cobra benar-benar seperti sisik yang nyata, yang digiling dari banyak material. Sisik ular kobra ini sangat menekankan etos sporty dari barisan koleksi Vanguard, namun dengan gaya yang khas.

Dengan case Curvex klasik khas Franck Muller, wajah arloji ini tampak lebih menonjol dan sedikit keras, bentuk yang diinginkan pria agar pergelangan tangan mereka terlihat menarik. Koleksi baru ini dilengkapi kulit kobra asli dengan strap karet dan gesper yang lentur. Seperti koleksi Croco, Cobra Line memadukan sisik reptil pada case dan strap arloji.

Gold Cobra, yang pertama dalam koleksi ini didukung oleh FM0800 automatic movement dengan cadangan daya sekitar 42 jam, serta dibalut case emas 18K dengan gagang black PVD yang seperti perhiasan stainless steel, sehingga memberikan efek 3D yang mencolok.

Satu-satunya yang mengganjal adalah mengenai nama produk ini. “Gold Cobra”, ketika anda mengetik nama itu di Google, yang banyak muncul adalah tautan dari lagu grup musik Limp Bizkit, dan mirisnya lagu itu menandai pudarnya popularitas band ini di kancah dunia. Namun, dengan intuisi Franck Muller yang sudah teruji, tidak akan jadi masalah bagi para kolektor.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.