Sophia Latjuba

THE WHOLE NEW WORLD

Augustman (Indonesia) - - Front Page - CREATIVE DIRECTOR MIRANDA TOBING TEKS MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTOGRAFER I.G. RADITYA BRAMANTYA STYLIST ZICO HALIM MAKE UP ARTIST RATNA TIARA HAIR STYLIST JEFFRY WELLY LOKASI TURKUAZ JL. GUNAWARMAN NO.32, JAKARTA SELATAN 12110 TEL +62 21 7279 5846

Terlihat Sophie sedang duduk di sudut ruang di balik pintu kaca. Ia berpose mengikuti arahan stylist dan fotografer. Sempat ia menengok ke luar dimana saya berada, menyaksikannya, lalu saya lambaikan tangan. Setelah satu sesi selesai dan ia hendak berpindah ruang untuk sesi foto berikutnya, barulah saya berkesempatan mengenalkan diri. “Hello, saya Sophie,” sapanya ramah sambil menjulurkan tangan untuk berjabat tangan. Inilah Sophia Latjuba atau, jika ia mengenakan nama keluarga ibunya, Sophia Müller. Sophie yang saya lihat melalui televisi, sejak saya masih bersekolah... seperti tidak ada perubahan yang terjadi pada fisiknya secara signifikan. Pesonanya tidak kalah dengan mereka yang masih berusia belia. Bahkan sempat banyak diberitakan dan diceritakan melalui berbagai media mengenai kisah cintanya dengan seorang pria. Oh tidak, saya tidak akan menceritakan itu di sini dan saya juga tidak tertarik menanyakan hal tersebut. Ia kembali melanjutkan dua sesi foto berikutnya sebelum akhirnya selesai dan berganti baju, mengenakan sack dress sederhana.

“Terkadang orang-orang lupa bahwa saya adalah seorang ibu. Saya sudah 23 tahun menjadi seorang ibu bagi dua orang anak perempuan saya. Sejak berusia 20 tahun, saya sudah menjadi ibu. Di situlah kehidupan saya kini berputar. Anakanak saya adalah pusat kehidupan saya. Segala hal yang saya lakukan berputar mengelilinginya, termasuk saya sendiri,” ujar Sophie sambil menatap anak keduanya. Banyak hal yang tidak ia ceritakan namun ia tampilkan melalui interaksinya dengan anaknya sekaligus reaksi-reaksi yang turut dilontarkan Manuela menanggapi jawaban ibunya. “Menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan sederhana, membesarkan mereka, menjadikan mereka sukses. Anak menjadi hal yang paling penting dalam hidup saya. Yang paling muda kini sudah tidak bergantung lagi kepada saya, ia menjadi seorang yang sukses dengan bakatnya sendiri.”

“Banyak hal sudah saya kerjakan. Saya merasa saya telah melakukan semuanya. Saya sudah pernah menikah, saya sudah memiliki anak, saya juga pernah bermain film, saya pernah menggiati modeling. Saya pun sudah berhasil menempuh pendidikan di universitas setelah beberapa kali tertunda. Namun saya sendiri tidak berminat untuk menjalankan sebuah bisnis, barangkali belum. Namun jika suatu saat nanti saya berbisnis, sepertinya tidak akan jauh dari yoga dan wellness.” Selain kabar percintaannya dengan seorang vokalis sebuah band, aktivitas yoga Sophie juga banyak disorot publik. Bukan sekadar mengikuti trend yoga

yang saat ini sedang booming, sesungguhnya Sophie telah memulainya sejak 7 tahun yang lalu. “Tidak sulit untuk memulainya,” kata Sophie ketika saya bertanya mengenai awal ia memulai beryoga, mengingat – menurut saya usianya tidak lagi muda. “Difficultisonly in your mind!” Sophie menegaskan. “There is no such thing as difficult... in anything!”

“Barangkali karena saya dilahirkan dan dibesarkan di Jerman dengan kultur keras, saya diajarkan bahwa difficult bukanlah sebuah option. Lakukan. Sehingga bagi saya, jika ada orang mengatakan sulit, justru hal tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Saya akan merasa tertantang melakukannya. Terdapat suatu kesenangan tersendiri dan hal tersebut menjadi sebuah challenge untuk saya taklukkan. Mengenai yoga, saya sejak kecil memang gemar gymnastic serta apapun yang berhubungan dengan olahraga, sehingga saya tidak merasa ada hambatan dalam memulai beryoga. Saya memulainya bukan dari nol. Saya juga mengajar yoga namun tidak di Indonesia, pernah satu kali di Namaste Festival namun karena sertifikasi teacher training saya dapatkan di Los Angeles, maka saya lebih sering mengajar yoga di sana.”

“Tahun yang baru ini saya tidak memiliki banyak impian. Seperti yang sudah saya katakana tadi bahwa kini kehidupan saya berfokus pada anak. Tidak ada lagi istilah ‘ biggest dream’, karena saya bukan anak remaja lagi. Saya hanya melakukan yang terbaik dan berusaha menjadi baik. Dalam berkarir dan dalam kehidupan pribadi saya. Itu saja. ”Sophie menambahkan, “Segala macam hal menjadi challenging karena saya ingin melakukannnya sebaik mungkin. Bisa dibilang saya tidak pernah merasa ada kesulitan dalam hidup ini. Yah, semua bisa mudah, semua bisa sulit. Itu semua tergantung pada bagaimana memandang suatu hal. Di tahun yang baru, tidak ada hal baru untuk dilakukan. Semua sama seperti yang saya jalani saat ini. Mungkin saya ingin ‘pulang kampung’ dulu. Barangkali ke Jerman atau ke LA.”

“Setiap hari kesibukan saya adalah seputar anak dan pekerjaan. Tidak ada hal lain karena semua aktivitas rutin saya telah banyak memakan waktu. Saya bangun pagi, yoga, kemudian saya melanjutkan hari saya dengan bekerja. Shooting atau foto. Saya melakukan shooting untuk sebuah situation comedy. Saat bekerja di dalamnya, saya 100% mengerjakannya, saya fokus. Saya ingin mengerjakannya dengan cepat dan baik. Saya profesional. Nah, kembali berbicara mengenai kesulitan terbesar barangkali ketika saya harus bekerja bersama orang yang tidak memiliki mindset yang sama seperti saya. Kadang ada orang berkata – rileks saja, orangnya memang seperti itu. Tidak. Saya ingin semua berjalan dengan cepat dan efisien karena saya tahu saya bisa. If I can do it, other people can do it.”

Selain pernah bernyanyi – saya suka suaranya yang khas, Sophie pernah terlibat dalam beberapa produksi film. Dan film pertama yang ia bintangi dan menjadikannya populer – menurut Wikipedia adalah Bilur-bilur Penyesalan. Masih terdapat beberapa film lainnya, walaupun jujur saya belum pernah menonton film-film tersebut kecuali Kuldesak yang dirilis pada tahun 1998. “Jika saya ditawari lagi untuk berperan serius di sebuah produksi film, why not? Menurut

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.