ALSO FEATURING

KRISTEN STEWART ASTON UTAN

Augustman (Indonesia) - - Front Page - TEKS FRED ALLEN/ THE INTERVIEW PEOPLE/AMELIA NURTIARA FOTO DOK. BERBAGAI SUMBER

Kristen Stewart masih memiliki banyak penggemar walaupun euforia Twilight sudah mereda sejak beberapa tahun lalu, namun pesonanya ketika berjalan di red carpet di Venice Film Festival mendapat banyak sambutan dan tepuk tangan meriah dari para fansnya. Aktris berusia 25 tahun ini sedang berada di Lido untuk mempromosikan film barunya, Equals, sebuah film bergenre dystopian sci-fi romance yang dibintangi juga oleh Nicholas Hoult, mereka berperan sebagai sepasang kekasih dengan setting futuristik. Bagi Stewart, film ini bercerita tentang bagaimana masyarakat cenderung menahan emosi dan memaksa orang lain untuk menyesuaikan dirinya. “Film ini mencerminkan dunia kita,” Stewart merenung. “Ekspresif seringkali tidak diterima dan kita diharapkan untuk berperilaku dengan cara tertentu.

Ia sudah fokus bermain di perfilman di New York, di film Woody Allen ber- setting tahun ’30-an bersama Jesse Eisenberg (dimana mereka muncul dalam box-office flop American Ultra) dan Steve Carrell. Film ini jadwalkan rilis tahun depan. Ia mengaku bahwa bisa berkembang lebih mudah setelah mendapatkan perhatian lebih dari publik berkat film Twilight dan hubungannya dengan Robert Pattinson. “Antara usia 15 dan 20 tahun begitu intens. Saya terus-menerus cemas. Jika saya merasa sesuatu berjalan tidak baik, saya akan menyakiti diri saya sendiri, atau mengurung diri. Di awal 20-an, saya mengalami trauma sekaligus menjadi awal mula membuat sesuatu yang sedikit liar.”

Anda menyukai Venice?

Sangat indah. Semua yang ada di kotanya sangat menakjubkan, baik arsitekturnya, kanalnya. Suasananya sangat spesial. Selain itu juga menarik, karena kami syuting film di Jepang dan kami banyak menggunakan lokasi dengan arsitektur yang unik dengan setting futuristik.

Equals adalah film yang mengeliminasi emosi. Bagaimana pendekatan Anda untuk berperan di film ini?

Itu menakutkan. Saya dan Nicholas menghabiskan banyak waktu hanya untuk berbicara saja tanpa menunjukkan emosi kami. Kami berperan sebagai orang yang memiliki perasaan dan ketertarikan satu sama lain meskipun jatuh cinta itu dianggap tabu.

Anda berperan sebagai Nia, karakter yang paling menonjol, sama seperti di film-film Anda sebelumnya?

Nia adalah satu-satunya karakter di film ini yang bisa memainkan emosinya walapun tidak bisa menunjukannya. Artinya saya harus bisa menempatkan diri dalam peran ini. Sepengalaman saya bermain film, ini adalah peran yang paling sering dimainkan dimana saya dituntut untuk melakukan yang bertolak belakang dengan apa yang saya lakukan atau rasakan. Peran itu seperti kedok, karena itu tidak akan diterima secara sosial untuk mengungkapkan apa yang benar-benar kita rasakan.

Anda sudah mencoba peran yang berbeda semenjak Twilight?

Saya memilih film berdasarkan insting yang saya rasa benar ketimbang hal-hal taktis. Saya justru menghindari film-film blockbusters dan memilih proyek kecil yang menarik perhatian ketimbang untuk komersil, kecuali hal artistik. Saya hanya akan memilih pekerjaan yang menurut saya menarik, saya berharap bisa terus mengembangkan diri dan potensi saya.

Anda ingin keluar dari comfortzone dengan bermain di film seperti Camp X-ray, Sils Maria (dengan Juliette Binoche) atau Equals?

Sebenarnya saya memiliki sisi pemberontak (tertawa). Saya senang bisa melakukan halhal yang saya suka dengan cara saya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan pendapat orang lain. Untuk hal pekerjaan, saya tidak akan pernah mengambil sebuah film jika saya tidak merasa memilliki ikatan dan komitmen pada cerita dan karakternya. Karena bermain film berarti menginvestasikan emosi saya.

Anda telah bekerja dengan banyak aktris luar biasa. Siapa salah satu yang menginspirasi Anda?

Saya belajar banyak bekerja sama dengan beberapa aktor yang sangat berbakat. Di film Sils Maria, saya terpesona oleh penelitian Juliette Binoche dan menjadi bahan persiapannya. Ia terus menerus menggali di luar dari naskah, membahas adegan dengan sutradara dan rekan, dan memerankannya sedalam mungkin. Tetapi ketika berakting dengan Julianne Moore, saya melihat dia melakukan pendekatan yang berbeda, fokus pada emosi karakternya, sangat introspektif dan lebih mengandalkan nalurinya. Saya ingin menemukan jalan tengah di antara dua cara kerja yang berbeda sehingga saya bisa melewati semua rintangan dan menemukan jiwa serta esensi dari karakter saya.

Apa arti akting untuk Anda? Terapi, katarsis...?

Saya melihat itu sebagai sarana psikologi, yaitu mencari tahu lebih dalam lagi diri Anda sebenarnya sehingga karakter tersebut akan muncul. Proses ini membantu saya untuk lebih banyak belajar memahami diri saya sendiri.

Apakah Anda sudah merasa mencapai titik tersebut?

Yang terpenting adalah memahami apa yang Anda inginkan dalam hidup. Beberapa orang telah pergi selamanya dan tidak pernah membayangkan itu terjadi, sangat sedih. Tapi saya pikir saya telah meraih apa yang saya inginkan dan bagaimana saya menjalani hidup saya... Mungkin terdengar klise tetapi hal yang paling penting dalam hidup adalah bahagia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.