ARTS & CRAFT

Hermès privatecollection

Augustman (Indonesia) - - Contents Issue 41 / Au-courant Enthusiasm - TEKS ALDO FENALOSA FOTO WILLIE WILLIAM LOKASI COMMON GROUNDS COFFEE AND ROASTERY, CITY WALK SUDIRMAN LANTAI GROUND JL. KH MAS MANSYUR KAV. 121, JAKARTA PUSAT TEL +62 21 25558963

Jiwa pengusaha yang dimiliki Aston sedikit banyak memang berasal dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Rahman Utan, adalah pebisnis healthy service yang memiliki lebih dari 20 gerai reflexology premium bernama Kenko Reflexology di berbagai kota besar Indonesia. Sedangkan ibunya, Inka Utan, adalah salah satu sosok penting dalam dunia fashion Indonesia, seorang chairwoman dari merek Louis Vuitton Indonesia. Tapi, seberapa jauh pengaruh orang tua terhadap perkembangan dirinya, terlebih bila berbicara karir? Aston Utan berbagi cerita di sela-sela kesibukannya mengurus Common Grounds.

Pada saat kapan Anda menyadari akan bergelut di dunia bisnis?

Sejak kecil saya melihat kedua orang tua menjalani bisnis dalam masing-masing industri yang berbeda. Saya pun terbayang bahwa suatu saat jalan saya akan seperti mereka. Tapi hingga SMA dan saat mau kuliah saya belum mengetahui pasti bisnis seperti apa. Yang jelas, saya membayangkan akan berusaha dan membangun bisnis sendiri karena bagi saya sendiri itu adalah challenge. Challenge to do something for me, for my self, not for my parents. Saya ingin jadi sesuatu atas perjuangan sendiri dan orang-orang kenal saya karena itu. Dalam hal ini mungkin saya tengah merintis jalan menjadi coffee entrepreneur.

Mengapa entrepreneur?

Menjadi seorang pengusaha bukan hanya bicara mengenai seberapa banyak uang yang harus dihasilkan atau sebesar apa jaringan bisnis saya, tapi adalah tentang apakah saya mampu melakukan sesuatu dengan berusaha sendiri. Be successfull in this circum business for me is something that very rewarding, sekecil apapun itu.

Lalu alasan memilih coffeeentrepreneur?

Sebenarnya sebelum kopi saya sudah memiliki bisnis real estate dan bisnis membantu bapak mengembangkan perusahaanya. Tapi saya masih terus mencari-cari bentuk bisnis yang saya nikmati. Bisnis real estate sebenarnya menarik dan keuntungannya bagus cuma membuat saya boring karena di lapangan melakukan hal yang itu-itu saja. Kerja di Unilever juga sebenarnya saya senang karena dapat belajar marketing, corporate life yang bagus seperti apa. Cuma balik lagi itu bukan passion saya. Senang tapi tidak merasa tertantang untuk break the barrier.

Jadi kopi adalah passion Anda?

Yes, dan sebenarnya kopi itu penuh tantangan, complicated meski kopi itu universal dan produknya ada dimana-mana, baik itu yang instan ataupun tidak. Tapi ada pergeseran tren saat ini dalam industrinya dimana lebih memperhatikan detail. Dari segi teknik, segi petaninya, hingga ke cangkir kita itu semua ada seninya, istimewa. Membuat keistimewaan itu muncul adalah tantangannya. It’s lot of challenges, from serving, baking, roasting, and buying the coffee. Dan menariknya lagi, dalam industri kopi itu seorang pembuat kopi memiliki tanggung jawab untuk memberi tahu konsumen dari mana kopi mereka berasal dan mengapa rasanya seperti itu. Menyenangkan melakukan hal seperti itu, berbagi cerita, mengolah kopi dengan sepenuh hati. Personally, that’s very rewarding.

Anda ikut terjun dalam bisnis ayah Anda, tapi mengapa tidak tertarik dalam bisnis fashion seperti ibu Anda?

Fashion itu sedikit tricky menurut saya, khususnya di dalam negeri, walaupun perkembangan desainer lokal sekarang memang lebih kreatif, lebih baik daripada dulu. Tapi saya sendiri tetap merasa ada yang kurang, mengenai kualitas produknya yang kurang konsisten. Mungkin karena sulit mendapat penyedia bahan lokal yang bagus dalam skala besar. Karena itu masih banyak mindset bahwa produk yang bagus adalah produk luar negeri, padahal orang kita sudah mulai mau membayar lebih untuk kualitas yang memang menjanjikan. Dan saya pun bukan orang yang memiliki passion khusus di sana.

Selain orang tua dan pendidikan formal, dimana Anda belajar membangun bisnis sendiri?

Ketika sekitar 5 atau 4 tahun lalu saya membuka coffeeshop di Kuningan, tapi sayangnya tidak terlalu berjalan baik. Kegagalan itu saya pelajari dan saya berkesimpulan karena konsepnya kurang kuat. Saya dan teman—teman ketika itu belajar banyak hal karena itu, mengenai apa yang do’s and don’t. Semua yang ada di sini (Common Grounds) benar-benar hasil pelajaran kami itu.

Tak hanya menjalankan coffeeshop, tapi juga melanjutkan pengembangan perusahaan ayah Anda, bagaimana agar semua itu teratur?

Sejujurnya, saya memiliki tim yang solid. Tim, itulah yang membuat semuanya berjalan dengan semestinya. Di Common Grounds saya memilih orang-orang yang tepat dan memberi rewards kepada mereka lalu percayakan mereka menjalankan tugasnya. Di perusahaan ayah saya juga begitu, dengan tim yang baik semuanya dapat dilakukan dengan rapi.

Berbicara mengenai tim, gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan?

Gaya kepemimpinan saya lebih seperti coaching style. Saat saya merekrut orang ke dalam satu tim, saya lebih cenderung mentoring mereka agar mereka lakukan pekerjaan seperti yang saya arahkan, saya tidak akan biarkan mereka bekerja tanpa arah yang membuat bingung. Sejak pertama harus jelas. Saya juga tidak ingin melibatkan hal pribadi dalam bekerja.

Setelah sejumlah bidang yang Anda geluti, apa ke depannya?

Saya masih belum tahu, tapi sekarang saya masih ingin mengembangkan gerai di sejumlah kota. Seperti bulan November lalu kami membuka cabang (Common Grounds) di Bandung dan sekarang di Surabaya. Saya sebenarnya tengah berencana untuk membuka coffeeshop dari luar negeri yang berbeda konsep, tapi itu masih perencanaan jauh.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.