Modern Gent

Membedah visi John Ray untuk Dunhill

Augustman (Indonesia) - - Inspiration - TEKS CHIA WEI CHOONG + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI

STUFFY DAN SERIUS, barangkali itulah yang tercetus di dalam pikiran Anda mengenai Dunhill dahulu. Namun brand yang bersinonim dengan ke-inggris-an ini telah mengalami transformasi secara diam-diam. Sentuhan playfulness serta keriangan terlihat sejak pertama kali Dunhill menampilkan runway show koleksi musim gugur/dingin 2015. Semangat baru timbul berkat creative director John Ray yang mulai bergabung sejak musim semi/panas 2015 lalu. Ray melanjutkan karakter yang terdapat pada koleksi musim gugur/dingin 2015 dengan koleksi musim semi/panas 2016 yang sangat Inggris sehingga menarik perhatian dari para aristokrat termasuk Pangeran Charles, membuka show dengan tailcoat tidak akan terlihat aneh jika Anda adalah ras Ascot.

Cara Ray memadukan berbagai gaya pria adalah, sekilas terlihat effortless dan modern. Bentuk celana panjangnya memiliki ruang lebih dengan tab samping yang memungkinkannya untuk di- adjust. Siluetnya berubah kearah zoot suit era tahun 40-an namun tetap wearable. Inilah sebuah titik di antara nostalgia dan masa kini yang ingin ditampilkan oleh Ray. Kami berbincang-bincang dengan Ray satu hari setelah presentasi musim semi/panas 2016 Dunhill untuk memahami pendekatannya yang penuh semangat pada label klasik tersebut.

Ceritakan lebih lanjut mengenai koleksi musim semi/panas 2016.

Saya menginginkannya tampil ceria. Saya ingin koleksi ini merefleksikan hal-hal yang ingin dilakukan orang di musim panas, seperti pergi menuju pedesaan, mengendarai kuda atau menonton balapan kuda di Ascot dan berpesta. Ini semua mengenai sinar matahari yang Anda nikmati di perkotaan hingga pedesaan sepanjang musim panas ini. Saya juga ingin merefleksikan keanehan orang-orang Inggris – mereka melakukan banyak hal unik.

Terdapat banyak upacara-upacara.

Ya, benar, dan saya menyukainya (sambil menunjuk ke sebuah mood board yang

ditutupi oleh foto-foto vintage). Dan lihatlah bagaimana... Jika Anda mengenakannya... Itu adalah outfit bukan sportswear. Dan topi itu memiliki bentuk yang luar biasa. Artwork yang penuh inspirasi ini berasal dari sebuah iklan Dunhill tahun 1947. Ini merupakan sebuah tradisi.

Jadi siapakah sang pria Dunhill?

Saya tidak dapat menjawabnya karena itu bukan hanya seorang pria saja. Suatu saat saya melihatnya sebagai seorang pria, itu sudah berlalu karena tidak semua hal dapat sesuai untuk seorang pria. Saya dapat menyebutkan Winston Churchill, tapi saya tidak akan melakukannya. Ia adalah seorang gentleman Inggris yang maskulin, apapun itu, dan ia cukup tradisional. Hal tersebut mengenai itu.

Terdapat hal yang timeless dan nostalgic dalam pendekatan koleksi Anda. Apakah hal tersebut disengaja?

Saya tidak pernah ingin menjadi nostalgic karena pakaian haruslah relevan. Ketika Anda mulai membuat pakaian yang tradisional atau terinspirasi oleh gaya hidup tersebut, semua itu akan berakhir dengan tampilan seperti kostum drama, dan saya tidak menyukainya. Saya benci fashion show atau runway show yang terlihat palsu. Ini adalah sebuah keseimbangan yang sulit ketika harus menggabungkan hal-hal menarik namun tidak terlihat seperti tampilan orang-orang di televisi.

Apakah yang seorang pria well-dressed?

Menurut saya itu karena sebuah sense of propriety. Namun saya lebih tertarik pada kepribadian pria tersebut. Saya menyukai cara orang menyatukan beberapa hal bagi dirinya. Sangat menarik ketika melihat orangorang dewasa di jalanan. Terutama di London, Anda akan melihat orang-orang dan berpikir, “ia terlihat sangat bagus,” dan saya melihat seorang pria beberapa menit yang lalu dan ia mengenakan jaket berwarna biru pucat, kemeja pink pucat, dan ia sungguh terlihat fantastis. Hal-hal demikian memberikan saya inspirasi.

Fashion selalu bergerak cepat, terlebih karena adanya media sosial. Apakah hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi Anda?

Saya harus mengakui bahwa saya sedikit technophobe. Seseorang harus menjelaskan kepada saya mengenai Instagram dan Facebook sebelumnya. Namun seperti inilah bagaimana orang-orang saat ini berkomunikasi – segala sesuatu menjadi instan. Pada masa lalu, Anda tidak akan dapat melihat pakaianpakaian dari runway show hingga tiga bulan kemudian ketika telah ditampilkan di majalah-majalah. Kini bagi mereka yang gemar memerhatikan pakaian-pakaian, dapat melihat semua itu. Anda kini memiliki akses untuk itu. Sangat menarik ketika Anda dapat menyaksikan itu secara langsung. Saya berada di kantor di London dan menyaksikan pertunjukan Louis Vuitton tanpa harus membeli tiket.

Anda berkata bahwa Dunhill man adalah mengenai sebuah escape. Escape seperti apakah yang Anda lakukan?

Itu adalah musim lalu. Ketika saya mengatakan mengenai escape. Hal tersebut hanyalah mengenai pergi dari tempat sebelumnya, demikian pula dengan koleksi ini, mengenai kota dan pedesaan. Jadi menurut saya sebuah escape adalah pergi dari London menuju ke sebuah tempat dengan ritme kehidupan yang berbeda. Saya suka pergi ke tempat dimana orang tidak mengenal saya dan saya dapat mengenakan pakaian-pakaian sederhana.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.