Visual Anthems

Di belakang proyek Mark Wigan x Dr Martens

Augustman (Indonesia) - - Behind The Seams - TEKS HANNAH CHOO + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO DR MARTENS

ADA WAKTU ketika Anda menjelajahi clubclub terkeren, menenggak minuman keras dan berdansa semalam suntuk. Anda mungkin sudah lupa hal-hal yang terjadi. orang-orang yang Anda ajak berdansa. Tidak bagi Mark Wigan. Pelopor urban art serta co-founder Museum of Club Culture, Wigan mengingat segalanya. Seperti seorang ahli antropologi, ia mengeksplorasi hal-hal kecil pada tempat-tempat, mulai dari sepatu hingga bahasa tubuh, dan merekamnya dalam ingatan. Perhatian terhadap detail telah membuatnya menjadi seorang seniman resonansi dasar, sesuatu yang yang dirasa sangat menarik oleh Dr Martens. Kami berhasil menarik Wigan dan mengajaknya berbincang-bincang.

Koleksi ini seolah berpangkal pada pengalaman disko Anda.

Keluarga saya memiliki sebuah club (yang dibuka sejak tahun 50-an), dan saya mengenal club scene sejak saya masih muda. Kira-kira 14 atau 15 tahun. Saya hanya membantu, namun saya adalah seorang pemerhati yang cermat. Saya memerhatikan apa yang dikenakan oleh orangorang, bagaimana mereka berdansa, detaildetail. Seperti ingatan fotografis. Saya ingat musiknya, lirik, dan perbincangan di sana. Saya menyebutnya Antropologi A Gogo, sebuah ilmu mengenai perilaku manusia dan berbagai macam sub-kultur. Percayalah, ini menyenangkan.

Jenis musik apakah yang menginspirasi Anda?

Saya tumbuh dewasa bersama musik hip hop awal serta swing, namun favorit saya barangkali adalah modern soul era 60-an yang sering saya dengarkan ketika saya mengerjakan karya saya. Selain itu, saya mendengarkan musik jazz atau black music dari era 20-an. Musik banyak menginspirasi, sebanyak tantangan dalam memproduksi karya baru.

Pernahkah Anda kehabisan ide?

Tidak, saya bekerja dengan cara yang menyenangkan dan spontan. Saya

berimprovisasi, dan memastikan saya memiliki sebuah tema. Seperti musik jazz. Anda memiliki tema kemudian Anda berimprovisasi serta mencoba hal-hal baru. Seringkali tantangantantangan baru muncul ke permukaan, namun Anda belajar untuk bekerja tanpa batasan material serta peralatan baru.

Apakah Anda menganggap diri Anda sebagai seorang pembangkang?

Barangkali. Karya saya melintasi seni kontemporer, fineart, dan ilustrasi. Berpangkal pada bahasa yang pertama kali saya kenal, yang saya mulai sejak tahun 70-an. Melalui kesenian budaya, saya terinspirasi oleh Surealisme dan gerakan kesenian Dada, sebuah gerakan berbasis anti-art performance.

Terdengar mirip dengan bahasa Dr Martens.

Terdapat banyak sinergi di antara kami. Saya telah memiliki lebih dari 20 atau 30 pasang Dr Martens dalam beberapa tahun. Saya juga berusia hampir sama seperti Dr Martens, Hal tersebut banyak membantu saya dalam berkolaborasi, juga merupakan yang pertama kali sejak tahun 90-an.

Anda harus berhati-hati dengan siapa Anda bekerja.

Yeah. Hal ini sangat hebat karena saya senang berhubungan dengan Dr Martens. Selain itu, saya tidak terlalu tertarik mengerjakan hal lain dengan pihak lain saat ini. Mungkin dalam beberapa tahun ini. Saya juga memproduksi T-shirt saya sendiri dengan jumlah terbatas yang dapat dibeli secara online.

Kapankah menurut Anda seni sudah melintasi batas?

Bagi saya seni tetaplah seni sejauh Anda menjaga integritas.

Dapatkandr.martensdib1-31capitolplaza,singapura &Grandindonesiaeastmall,2ndfloor,em2-09a,jl.m.h. Thamrinno.1.mon-sun.10am-10pm.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.