Going Places

Kim Jones terus mengekplorasi estetika perjalanan bagi pra-koleksi pria Musim Semi/ Panas 2016 Louis Vuitton

Augustman (Indonesia) - - Behind The Seams - TEKS JEREMY GOPALAN + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO LOUIS VUITTON

TIDAK PERLU DIPERTANYAKAN LAGI bahwa semangat petualang mengalir di dalam nadi Kim Jones. Style Director pakaian pria Louis Vuitton, yang selalu mengekspresikan bahwa ia banyak melakukan perjalanan dalam rangka riset, kebudayaan-kebudayaan dari berbagai belahan dunia secara konsisten manjadi inspirasi bagi koleksi-koleksinya; dari India yang penuh gairah hingga Afrika yang eksotis.

Sebagai contoh, siapa yang dapat melupakan debutnya pada tahun 2011 di luxury house ketika ia mendapatkan banyak pujian atas koleksi scarf berwarna biru dan merah, yang terinspirasi dari masa kecilnya yang ia lewatkan di Kenya serta sebuah selimut Masai yang ia simpan sebagai souvenir.

Dan tidak mungkin untuk tidak mengenali koleksi berikutnya yang menampilkan pola swirl abstrak – sebuah interpretasi peta Amerika Selatan yang dibuat oleh NASA – yang juga dipelajari oleh Jones beserta timnya dengan mengunjungi Gurun Atacama di Chili.

“Saya selalu berpetualang, itu merupakan bagian dari diri saya. Saya bekerja untuk sebuah brand yang memiliki travelling sebagai DNA- nya dan jika saya tidak mampu membawa inspirasi-inspirasi perjalanan bagi tim dan konsumen, maka saya merasa tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Kini semua orang sukses harus melakukan perjalanan bagi pekerjaannya, suka atau tidak suka, sehungga Anda harus memahami gaya hidup mereka,” ujarnya dalam sebuah wawancara bersama majalah i-d.

Memang, kepekaannya merupakan pasangan yang tepat bagi Louis Vuitton, sebuah maison yang telah lama berbangga dengan warisan-warisan yang berhubungan dengan perjalanan. Meskipun memiliki nama besar namun tetap memiliki estetika petualangan yang selalu membumi. Misalnya pada pakaian, selalu tampil sleek, wearable, dan nyaman – sesuatu yang menjadi signature Jones selama menangani brand.

Pengalaman dan kegemaran Jones dengan sportswear juga turut membentuk luxury maison dari Prancis ini. Suiting yang sempurna selalu dilengkapi dengan outerwear yang kuat dan bahkan knitwear yang lebih menawan. Sebelumnya, secara khusus, hampir selalu dipadankan dengan sneaker, memberikan getaran kasual khas Jones.

Dalam waktu empat tahun ini di Louis Vuitton, Jones secara kuat telah menjadikan brand Paris ini sebagai pemain menswear global dengan estetika kasual yang mewah. Dan tidak diragukan lagi bahwa ia berhutang banyak atas kesuksesannya kepada Louis Vuitton, atas ketekunannya sebagai seorang peneliti, juga pragmatisme dan pengendalian diri yang ia terapkan ketika menyalurkan kekreativitasannya ke dalam produk-produk komersial.

Untuk pre-collection 2016, Jones memilih melakukan pendekatan internasional. Barangkali dengan cara merepresentasikan identitas personal dan pencapaian global dari brand, Jones menampilkan kecintaannya pada perjalanan dengan cara menghubungkannya dengan bendera-bendera. Menonjolkan print grafis dalam musim ini, motif tersebut ditampilkan dalam bentuk inkarnasi unik beberapa logo LV seperti Gaston V, yang memiliki unsur bendera Prancis, juga signature LV yang tersemat pada sebuah lingkaran.

Print grafis yang flamboyan terdapat secara tiba-tiba dan sporadis pada seluruh rangkaian apparel.

Grafis abstrak yang lebih acak adalah Ikat digital, yang tercipta dengan menggunakan teknik tradisional dan teknologi modern yang menciptakan motif memikat namun tetap memiliki tekstur yang lembut dengan nuansa gradasi warna, memberikan estetika modern. Dari kejauhan, print tersebut menyerupai efek tie-dye dan Jones menggunakannya pada kemeja lengan pendek yang casual namun smart serta pada parka berbahan nylon yang memiliki kantung depan berukuran besar yang disematkan secara cerdas pada bagian pinggang dan menampilkan siluet yang lebih ramping.

Kepekaan seorang traveler yang terus berpetualang tampil dalam technical coat kanvas berwarna ash-brown yang menarik perhatian dengan garis-garis paralel pada bagian lining, penutup kantung berbahan kulit serta bagian ujung lengan berwarna putih.

Fleksibilitas tampilan ini juga direfleksikan pada sandal Bayside berwarna putih dan coklat. Backpack Christopher yang sangat popular ditampilkan kembali dalam warna coklat bergaris paralel, serta dalam warna dinamis merah dan kuning, menjadikannya statement gaya yang tak terlupakan.

Trunk stripe juga merupakan motif yang kembali terulang, dalam warna biru, putih, serta taupe. Muncul acak pada beberapa koleksi, basic crew neck, banner blouson, celana renang nylon.

Garis konseptual ini mengikat seluruh koleksi, disamping penggunaan kain technical serta tailoring yang lembut. Hal tersebut

Dan tidak diragukan lagi bahwa ia berhutang banyak atas kesuksesannya kepada Louis Vuitton, atas ketekunannya sebagai seorang peneliti, juga pragmatisme dan pengendalian diri yang ia terapkan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.