Alive

Augustman (Indonesia) - - Denny Sumargo -

“Saya tidak akan kembali ke dunia olahraga,” ungkapnya tegas. “Persentase saya untuk kembali ke lapangan sangat kecil. Saya lebih memilih ke dunia broadcast saja, menjadi host untuk acara olahraga. Dan untuk kembali ke lapangan sebagai seorang pelatih, barangkali saya akan memberikan persentase lebih besar, namun tidak untuk saat ini. Mungkin ketika saya lebih mature nanti, di usia 40- an. Tingkat pressure sebagai seorang pelatih di lapangan sangat tinggi. Emotionally, saya belum siap untuk menjadi seorang pelatih basket.” Densu saat ini memiliki kesibukan bermain di dalam sebuah komedi situasi di sebuah televisi swasta. Ia juga menjadi host untuk acara petualangan dan juga acara olahraga yang mengusung basket sebagai highlight- nya.

“Saya pada awalnya ingin berbisnis namun saya kekurangan modal. Kemudian saya mendapatkan tawaran untuk bermain dalam sebuah film. Saya pikir saya akan mendapatkan modal yang saya butuhkan untuk memulai rencana bisnis tersebut. Namun setelah saya mengambil tawaran bermain film, karena perhatian dan waktu saya tercurah untuk film tersebut, rencana berbisnis tersebut akhirnya berantakan.” Menjawab pertanyaan mengenai langkah selanjutnya yang akan ia jalani dalam pekerjaan, Densu ingin kembali ke movie industry. “Saya sempat vacuum selama satu tahun ini dari dunia film. Itu merupakan bagian dari rencana saya sendiri karena saya belum menemukan film yang sesuai. Maksudnya, saya ingin kelak film yang saya ambil merupakan sebuah karya bagi saya ketika berperan di dalamnya. Meskipun tentu saja bagi production house yang menangani film tersebut, itu merupakan karya bagi mereka.”

Mengaku tidak pernah merencanakan bagaimana cara ia mencari nafkah, bukan berarti Densu menjalani kehidupannya asal-asalan. Di sini saya kembali mendapatkan gambaran berbeda dari image yang banyak dibicarakan orang – saya tidak termasuk di dalamnya, bahwa Denny Sumargo adalah pria tengil, menyebalkan, bad boy. Densu menjelaskan bahwa tahapan dalam kehidupannya sudah jelas, ia dilahirkan, tumbuh dewasa, menikah, kemudian berumah-tangga. “Untuk urusan mencari uang, saya tidak memiliki perencanaan khusus. Bagi saya yang penting adalah niat, kemauan untuk terus bekerja, bersedia untuk lelah bekerja, kerja di mana saja bisa. Plan saya dalam kehidupan adalah kapan saya menikah. Untuk prestasi, saya juga tidak memiliki cita- cita yang sangat tinggi. Saya takut mengecewakan Tuhan. Saya takut jika suatu saat saya bercita- cita terlalu tinggi dan tidak tercapai, saya akan kehilangan iman saya kepada Tuhan. Saya ingin iman saya tetap besar. Jika Tuhan memberi saya lebih saya akan menyukurinya.”

“Tujuan saya cukup clear, saya lahir, saya hidup, saya mati, semua itu untuk saya persembahkan kepada Tuhan. Masalah kebutuhan sehari-hari, saya merasa bahwa Tuhan sudah terlalu baik. Yang saya tonjolkan adalah rasa syukur. Rasa syukur itu akan membuat saya tetap senang dan berkecukupan berapapun materi yang saya miliki.” “Terdapat beberapa hal yang saya pelajari dan terus saya bawa serta terapkan di dalam setiap pekerjaan yang saya jalani hingga saat ini. When it comes to work, kita harus disiplin, memiliki attitude positif, antusias dalam mengerjakannya, memiliki empati, serta persistence. Itu semua harus menjadi satu kesatuan dan bermanfaat jika diterapkan dalam dunia olahraga, terlebih karena olahraga yang pernah saya tekuni adalah olahraga tim, dan juga dalam bekerja. Tidak semua orang di dalam dunia entertainment tempat saya bekerja saat ini mengerti pentingnya itu semua. Mereka juga sulit mengerti karena itu bukanlah kebiasaan mereka. Saya tahu kapan waktu untuk bekerja, tahu bagaimana bekerja, bagaimana menghormati pekerjaan tersebut, dan tahu bagaimana mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik.”

“Itu mengenai pelajaran yang saya dapatkan dari lapangan basket dan terus saya terapkan dalam pekerjaan-pekerjaan saya yang lain.” Lalu mengenai pentingnya berolahraga, Densu mengungkapkan pemikirannya. “Seperti rasa lapar. Jika Anda merasa lapar, makanlah. Setelah makan, rasa lapar tersebut akan hilang. Sama halnya dengan berolahraga. Jujur, saya sendiri merasa malas berolahraga, namun saya terus melakukannya karena saya mengetahui manfaatnya. Saya percaya bahwa mengerti dan merasakan manfaat dari apa yang saya kerjakan, akan mendorong saya untuk terus melakukannya. Sangat sulit menyuruh orang untuk berolahraga, you need to feel the result. Anda akan berolahraga karena merasa itu baik bagi Anda. Densu menambahkan, “sehat itu kembali ke bagaimana Anda menghargai badanmu, menghargai apa yang Anda miliki, sifatnya personal.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.