THE EMERGENCY II

Augustman (Indonesia) - - Highlight -

Arloji Emergency dari Breitling memiliki

antenna radio untuk sinyal SOS. Pada Emergency I, Breitling menawarkan microtransmitter saluran tunggal pada frekuensi udara internasional 121.5MHZ. Untuk

Emergency II, Breitling memberikan

dual-channel emergencysatellite transmitter. Breitling juga menggunakan case dari titanium ringan agar tahan

lama. Airshow tahun 2015 di Inggris juga menewaskan 11 orang, juga dengan pilotnya.

Perhatian sebenarnya pada tahun 2015 adalah saat merek Breitling, sponsor Reno Air Races, yang membawa tim sipil sendiri bernama Jet Team untuk tampil sebagai bagian dari kampanye American Tour. Di tahun 2013 Breitling mensponsori gelaran itu dengan dukungan bernilai US$1.2 juta yang juga diasisteni Nevada Tourism Board dan terus berlanjut hingga kembali mencapai kesuksesan, bahkan hingga perayaan peringatan ulang tahunnya pada tahun lalu.

BREITLING AND PILOTS

Kolaborasi Breitling dengan penerbangan dimulai sekitar satu abad yang lalu. Pada 1915, merek ini menciptakan chronograph pushpiece pertama secara mandiri. Satu dekade selanjutnya, Breitling menghadirkan inovasi two-pusher dalam pengoperasian jam tangan, menjadi chronograph paling modern di eranya.

Merek ini memang bukan satu-satunya pembuat chronograph, tapi pengembangan yang dibuatnya merupakan referensi terbaik untuk digunakan pada dunia penerbangan militer. Tanpa GPS, para pilot dapat melacak keberadaan dan jarak yang telah mereka tempuh berdasarkan waktu yang ditunjuk jam itu. Kompas, chronograph dan altimeter adalah fitur penting untuk hal tersebut.

Sejumlah pilot telah percaya dengan kualitas Breitling, seperti Scott Carpenter saat terbang keliling dunia, astronot Mark Kelly saat berpetualang ke stasiun internasional luar angkasa, dan John Travolta, orang yang pertama menerbangkan pesawat A380 secara non komersil. Karena sangat diandalkan kalangan pilot dan militer, merek ini membuat setiap produknya handal untuk jangka waktu yang lama. Travolta dan Kelly yang ikut berpartisipasi dalam Reno Air Races 2015 menunjukkan fitur Breitling yang esensial, Emergency II. Merek ini secara tidak langsung telah identik dengan dunia penerbangan meski tidak selalu ada di pergelangan tangan para pilot.

RENO AND THE BREITLING JET TEAM

Anggota Jet Team adalah bintang utama gelaran Reno Air Races 2015 karena manuver aerobatik mereka. Mereka terdiri dari eks pilot militer seperti Jacques Bothelin, Bernard Charbonnel, Francois Ponsot, Patrick Marchand, Paco Wallaert, Christophe Deketelaere dan Georges-eric Castaing. Para “magnificentseven” ini menggunakan pesawat L-39C Albatros berkecepatan maksimal 750 kph saat terbang lurus dan mampu terbang sangat rendah hingga berjarak 0.75 mach di atas permukaan tanah.

Pemilihan pesawat L-39C Albatros bukan tanpa alasan. Menurut Bothelin sang pemimpin tim, maintenance pesawat ini tidak merepotkan dan memiliki performa sangat baik. “Butuh banyak biaya untuk terbang mengarungi dunia dan setiap pilot harus bertanggung jawab penuh pada masing-masing pesawatnya. Dengan L-39C, kami menjadi tidak terlalu kerepotan mengurus pesawat,” sebut Bothelin.

Keunikan lain Jet Team adalah keleluasaan yang ditawarkan pada masyarakat umum untuk merasakan pengalaman terbang aerobatik langsung di balik kemudi L-39C. Selama empat hari Reno Air Races, sejumlah

jurnalis dan tamu VIP diberikan kesempatan mencoba hal itu.

Di Reno Air Races sendiri ada enam kelas kompetisi, yaitu Unlimited, T-6, Biplane, Formula One, Sport dan Jet. Para “pembalap udara” itu berpacu di sebuah sirkuit melewati satu lap sepanjang 5 hingga 12 kilometer. Para pilot tidak hanya mengandalkan mesin pesawatnya, namun juga kepiawaian dalam bermanuver.

Saat balapan, overtaking hanya diizinkan dari sisi luar lintasan. Cenderung lebih rumit memang, namun diperlukan untuk keselamatan. Pengkategorian pesawat ditentukan berdasar ukuran badan dan tipe mesin, dan yang paling menarik dari kategori tersebut adalah Unlimited dan Jet. Sejumlah tiang diletakkan di sekitar gelanggang ditambah pengamatan para wasit, memastikan pesawat yang bertanding tidak curang melintasi jalur lain. Seperti di balapan mobil, wasit dan perangkatnya juga akan mengambil keputusan saat terjadi kecelakaan dan memberi penalti waktu untuk pilot yang melanggar.

Seperti Formula One, Reno Air Races juga mengembangkan peraturan balap milik mereka sendiri. Kekaguman pun begitu terasa ketika banyak pilot expert di Reno Air Races yang terbang terkendali di jalur tak terlihat, bahkan dalam kecepatan hingga 700 kph. Saya sempat melakukan percobaan kecil dengan Navitimer saya untuk menghitung waktu dari Robert “Hoot” Gibson yang merupakan pemenang kategori Unlimited Gold Race. Menghitung kecepatan pesawat menggunakan slide rule benar-benar sederhana dan luar biasa, bahkan mind-blowing. Dengan itu kita bisa membuat minutes machine pada jam tangan yang dapat menghitung kecepatan pesawat ini menembus udara di langit. Gibson yang memenangi kategori Unlimited itu adalah mantan astronot NASA yang juga pernah lama bekerja di instansi penerbangan Amerika Serikat. Pada usianya yang sudah kepala enam ini, Gibson rutin berkegiatan untuk aktivitas balap di Reno Air Races.

Sebelum saya kembali pulang pada hari terakhir Reno Air Races, David Martin memberi sebuah dokumen kecil. Sebuah sertifikat yang berisi keterangan bahwa saya telah terbang bersama dirinya selama 20 menit. Ia pun berjanji akan memperagakan manuver “The Breitling” bila saya berkunjung kembali ke Reno selanjutnya.

Reno Air Races memiliki peraturan sendiri. Banyak pilot expert di Reno Air Races yang terbang terkendali di jalur tak terlihat, bahkan dalam kecepatan hingga 700 kph

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.