The Monks Who Drink

Sejarah hingga kontroversi antara biarawan dan bir ternama

Augustman (Indonesia) - - Liquid A Ssets - TEKS HANNAH CHOO + ALDO FENALOSA FOTO GETTY IMAGES

ADA SEBUAH GURAUAN LAMA TENTANG CHEAP BEER. It’s like having sex in a canoe, Mengapa? Karena it is “fucking close to water”. Tapi mendengar pendapat para ahli craft beer tentang stout rasa cokelat dan hoppiest versi IPA terkadang membuat saya ingin menumpahkan bir ke kepala mereka. Bagi kebanyakan orang, bir terbaik adalah bir yang dingin, tetap fresh hingga saat disajikan. Dan setelah rutinitas yang melelahkan, sebuah Belgian beer dengan es batu sungguh terasa nikmat menghapus lelah.

Meski minuman malty terbaik sulit ditemukan di Belgia, negara ini tetap menjadi ibukota dunia untuk bir. Di masa lalunya, orang-orang tidak mengonsumsi bir agar bisa mabuk. Mereka meracik bir karena ketidaktahuan. Mereka pun mengolahnya dalam air karena takut akan terjangkit wabah kolera. Hal kecil yang tidak mereka ketahui sebenarnya adalah untuk memanaskan airnya terlebih dahulu.

Para Trappist sangsi dengan penggunaan air, dan hal itu berawal sejak Katolik Romawi melihat adanya kontaminasi pada pembuatan bir. The Rule of Saint Benedict, muncul pada abad ke 6, dibuat gamblang tentang biarawan dan biarawati hidup dalam keterbatasan dan kesederhanaan peribadatan.

Ada penekanan utama pada pekerjaan manual dan non-involvement dalam hubungan sekuler para Trappist, hari demi hari. Sejak kuantitas air minum semakin berkurang, bir mengambil tempatnya dan terus meluas. Para biarawan menjalani hidup sederhana dan mereka pun sering menunaikan puasa, termasuk pada bir yang sebenarnya happy exception. Aturan lain yang harus mereka ikuti adalah harus senatiasa ramah dan menghidangkan makanan pada para pelancong yang berkunjung. Dengan semakin sering kunjungan ke biara, akhirnya para biarawan pun ikut menghadirkan bir dalam sajian mereka, bir a la para biarawan, seperti mereka menawarkan keju pada pengunjung. Trappist pun mulai populer, dan hasil penjualan tersebut bermanfaat signifikan untuk biara dan komunitas lokal.

Awalnya, bir tersebut tidak bisa didistribusikan lebih jauh. Sulit untuk disebarluaskan, bahkan dari satu daerah ke daerah lain yang berdekatan karena aturan yang ada. Namun ketika abad ke-9, mereka berhasil menyiasati bir itu agar lebih terasa ringan menggunakan buah hop. Pada abad ke-13, bir para biarawan ini akhirnya mencapai proses akhir yang maksimal. Hari ini, bir Trappist menemukan popularitasnya di antara banyak jenis bir di dunia. Begitu banyak orang menyadari

kualitas bir Trappist, sejumlah produk bukan Trappist mulai membajak nama tersebut. Para biarawan tidak menyepelekan hal itu begitu saja, mereka respons melalui hukum pada tahun 1962. Dan tahun 1997, delapan biara membuat perkumpulan bernama International Trappist Association.

Sayangnya, meski jumlah anggota biara yang ikut mengembangkan Trappist semakin meningkat di berbagai negara, tidak diiringi jumlah biarawan yang justru berkurang. Tanpa adanya biara, tak akan ada brewery. Dan tanpa brewery, perlahan kita akan ditinggalkan oleh bir Trappist.

Scourmont Abbey adalah salah satu yang tertua dalam dunia breweries. Didirikan pada musim panas 1850, tempat ini awalnya adalah perkebunan brewery-cheese sebelum mengembangkan sejumlah aktivitas ekonomi, memungkinkan denyut perekonomian lokal meningkat. Kini ada 4 varian bir, termasuk Chimay Red dan Chimay Blue yang bisa didapatkan online di redmart.com.

Ada sedikit perdebatan tentang apakah Chimay sebenarnya benarbenar bagian dari Trappist, karena sejak beberapa waktu proses brewing dilakukan oleh orang-orang yang bukan biarawan atau dari lingkungan biara. Bir ini tampaknya memang mengalami banyak hal mundur beberapa tahun belakangan, namun itu bukanlah poinnya. Meski ide bir a la para biarawan begitu brilian, Chimay mungkin hanya mengandalkan nama besar Trappist itu sendiri.

Di tempat lain, pimpinan International Trappist Association, Spencer Brewery, membuka peluang di akhir 2013 karena pendapatan St Joseph Abbey tidak mencukupi untuk membiayai gaya hidup monastic. Dan kemungkinan terbesar untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan mengikuti alur industri alkohol karena banyak orang tidak lepas dari minuman tersebut, terlebih ketika mereka merayakan momen-momen istimewa bersama kolega atau ketika mereka tengah depresi.

Dan sekarang, saya bukannya menghakimi, tapi bukanlah ide keseluruhan trappist untuk hidup tanpa kemewahan. Kepercayaan religi di satu sisi, dan satu sisi lain adalah kontroversi, saya tetap yakin mereka berkompeten membuat bir yang enak. Spencer Brewery (yang Anda bisa temukan di Massachusetts) yang hanya terinspirasi 6,5 persen dari Belgian pale ale yang light namun padat akan cita rasa buah dan berbuih.

Di luar semua bir Trappist, jenis bir dari Westvleteren Brewery adalah yang paling sulit ditemukan. Didirikan pada tahun 1838, tempat ini memproduksi tiga tipe bir, yaitu Blonde, 8, dan 12. Mereka memproduksi dalam hitungan menit dan memang tak ingin menyebarluaskan produk tersebut. Bahkan jika Anda ingin membayar banyak untuk tipe 12 yang terbaik di dunia, Anda tetap saja akan sulit menemukannya. Biasanya tipe 12 dari Westvleteren Brewery ini condong diperuntukkan pada orang-orang yang telah memesan terlebih dahulu. Hal seperti ini, semacam teknik promosi, mungkin juga bisa dijadikan oleh pembelajaran bagi kita untuk trik promosi yang unik.

Pada akhirnya, bagaimana kita memaknai bir Trappist? Mereka memang adalah bir terbaik. Tapi dengan menempatkan label pada bir tersebut, membuatnya jadi semacam hipokratik. Keduanya terbilang kontradiksi bila melihat filosofi hidup para biarawan.

Dengan semakin sering kunjungan ke biara, akhirnya para biarawan pun ikut menghadirkan bir dalam sajian mereka, bir a la para biarawan, seperti mereka menawarkan keju pada pengunjung

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.