EKO PRATOMO

Managing Editor Senior Writer Senior Editor Designer Junior Editor

Augustman (Indonesia) - - Backstage Inspiring Art -

Fashion installation, merupakan work of art yang mampu membuat mata saya tak berkedip. Menginterprestasikan karya seni dalam bentuk konstruksi sebagai tindakan kreatif. Saya mengagumi kreasi Bureau Betak pada saat Dior Couture Spring 2015 di Musée Rodin, Paris, dan Felipe Oliveira Baptista Exhibition 2014 di Lisbon. Saat saya berkunjung pada bulan Oktober lalu ke eksibisi Hermès Leather Forever di Artscience Museum, Singapura, eksplorasi instalasi fashion yang ditampilkan sangat artsy dan unik. “If it were not for art, I would have killed myself a long time ago” adalah sebuah pernyataan yang kuat mengenai art. Ya, saya begitu mengagumi seniman kontemporer asal Jepang, Yayoi Kusama. Terlebih dengan hasil karyanya Ascention of Polka Dots dan Big Pumpkin yang memorable. Memasuki tahun 1920, Pieter Cornelis Mondriaan atau yang lebih dikenal sebagai Piet Mondrian, menciptakan karya-karya yang lebih berwarna, antara lain Tableau I dan Composition with Large Red Plane, Yellow, Black, Gray, and Blue - berupa garisgaris hitam tegas saling menyilang, warna-warna mencolok berselang-seling dengan warna putih polos. Kesederhanaan pola yang kemudian menjadi sangat terkenal, itulah yang membuat saya kagum, entah apa yang ia pikirkan saat membuat lukisan tersebut. Simply amazing! Dua tahun sudah saya menjadi pengagum karya-karya visual artist Rafael Mantesso melalui akun Instagramnya. Rafael rutin membuat foto seri ilustrasi bersama sang anjing yang dinamainya Jimmy. Kreativitas Rafael lantas menjadi viral di media sosial setahun belakangan hingga ia menerbitkan buku berjudul A Dog Named Jimmy dari kumpulan foto seri itu. Ia dan anjingnya kini juga menjadi ambassador untuk high fashion brand, Jimmy Choo. Mungkin namanya tidak terlalu dikenal oleh masyarakat awam, tetapi bagi saya Banksy adalah seniman yang cerdas dan berani. Street artist yang berbasis di Bristol, Inggris ini terkenal dengan karya stencil art- nya. Salah satu karyanya yang paling ikonik adalah Flower Thrower serta artwork untuk cover album Blur, Think Tank.

CONSULTANT Passion di dunia modeling menjadikan pria kelahiran 4 Juli ini mendirikan Twenty One Milimeters Management, sebuah agensi model yang berbasis di Indonesia. Di tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri menjadi consultant untuk majalah Augustman.

JOEY ALEXANDER, pianis jazz yang masih sangat belia dari Bali ini telah membuat Indonesia bangga. Di usia 7 tahun ia telah menguasai teknik bermain piano dan improvisasi yang sangat penting dalam aliran musik jazz. Ia merilis album musik perdananya yang berjudul My Favorite Things pada usia 11 tahun di Motema Record, New York. Melalui album ini, Joey mendapatkan nominasi anugerah Grammy untuk dua kategori: Best Instrumental Jazz Album ( My Favorite Things) dan Best Jazz Solo Improvisation ( Giant Steps dari album tersebut).

Segudang prestasi telah ia raih, seperti tampil di Montreal International Jazz Festival dan Newport Jazz Festival 2015. Alexander adalah artis Indonesia pertama yang masuk dalam Billboard 200 di Amerika Serikat dengan debutnya My Favorite Things yang mencapai peringkat 174 pada 30 Mei 2015. Dan penampilannya di panggung Grammy Awards di Staples Center, Los Angeles, pada tanggal 15 Februari lalu adalah satu pencapaian besar pada karirnya sekaligus menjadi sorotan dunia internasional, bagaimana tidak, penampilannya mengundang decak kagum serta mendapat standing ovation oleh selebriti dunia dan para insan musik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.