The Perfect Airplane Seat

Anda sesungguhnya tidak membutuhkan legroom tambahan

Augustman (Indonesia) - - Journal - TEKS FARHAN SHAH + FOTO AMELIA NURTIARA BERBAGAI SUMBER

LAIN KALI ketika Anda naik pesawat, luangkan waktu untuk mengapresiasi sebuah keajaiban yaitu flight itu sendiri. Tanpa disadari saat menghabiskan waktu dengan menonton tiga film di layar kursi, Anda sebenarnya seperti terlempar ke udara dengan serangkaian alat logam kemudian mendarat di benua lain yang jauhnya lebih dari 5.000km. Satu abad yang lalu, perjalanan seperti ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Terbang adalah salah satu puncak kecerdasan manusia. Namun, ketika Anda mengingat sejumlah pengalaman penerbangan yang didapat akhir-akhir ini, barangkali beberapa kesan seperti “diperlakukan seperti ternak” dan “benar-benar tidak nyaman” muncul dalam benak Anda.

Hal seperti itulah yang menarik perhatian Blake Emery dan mendorongnya untuk terus mencoba meningkatkan kualitas penerbangan. Secara resmi, dia adalah Director of Differentiation Strategy untuk Boeing Commercial Airplanes. Di antara rekanrekannya, Emery dikenal sebagai orang yang mendesain interior kabin pesawat. Setelah bertemu penumpang, melakukan studi hingga rutin mengajukan pertanyaan selama lebih dari satu dekade, Emery memberitahu saya tiga hal – pertama, bahwa wisatawan akan menceritakan penerbangan mereka sebagai hal yang mengerikan, kedua, memori penerbangan awal yang diingat adalah positif, dan ketiga, bahwa orang-orang sebenarnya tidak tahu apa yang mereka suka.

“Orang-orang beranggapan bahwa penerbangan lebih berasa ketika duduk di kursi dekat jendela dibanding lorong,” ujar Emery. Ini ide yang sama persis dengan legroom. Tanyakan kepada siapa saja yang bepergian dengan kelas ekonomi dan kemungkinan besar mereka pasti akan berharap bahwa ingin ruang yang lebih luas untuk meregangkan kaki. Namun, ketika American Airlines mempersempit legroom kelas ekonomi sekitar satu dekade lalu, menurut Emery ternyata mereka membuat kesalahan dalam melakukannya.

Lalu, seperti apa sang direktur beserta timnya menciptakan pengalaman terbang yang sempurna, jika segala sesuatu yang kita inginkan sebenarnya bukanlah yang terbaik untuk kita? Kuncinya terletak pada Passenger Experience Research Centre (PERC) milik Boeing. Berlokasi di Museum Future of Flight di Everett, Washington, PERC adalah taman bermain bagi Emery. Tempat di mana ia menguji ide-ide desain kabinnya. Partisipan pengujian akan duduk di mock-up dalam interior pesawat terbang selama 20 menit sebelum menjawab serangkaian pertanyaan tentang pikiran mereka yang berbeda, seperti pengalaman hingga warna makanan.

Inilah kuncinya: tidak ada pertanyaan yang terkait dengan gagasan yang Emery uji. “Katakanlah seperti, saya ingin melihat bagaimana pencahayaan dapat mempengaruhi persepsi dan pengalaman terbang mereka.

Saya tidak akan menanyakan mereka tentang lampu. Sebaliknya saya akan bertanya mengenai legroom, mencicipi makanan, dan sebagainya”.

Ia bercerita tentang studi yang dieksekusinya bersama maskapai Norwegia dimana setengah Boeing 737 milik mereka dibuat dengan interior vintage, dan setengahnya lagi berkonsep modern oleh Boeing Sky Interior (BSI). Selain pencahayaan dan jendela, hal lain seperti menu, legroom dan kursi dibuat tetap sama. Eksperimen seperti itu yang diinginkan Emery, paling tidak untuk mendekati pengalaman terbang yang nyata.

Orang-orang yang berada di pesawat dengan fasilitas lengkap dari BSI merasakan pengalaman terbang yang lebih berkesan dibandingkan dengan pesawat lama. “Bahkan makanannya juga terasa lebih enak di pesawat BSI, padahal semua pesawat 737 memiliki menu yang sama, “ungkap Emery.

Salah satu perubahan paling besar yang ia implementasikan pada pesawat baru Boeing adalah conveyor belt, yang sebenarnya sangat sederhana – dengan penempatan posisi jendela menjadi lebih tinggi pada badan pesawat. Emery mengklaim itu bisa membuat “all the differencein the world”, artinya bahwa tidak peduli di mana pun Anda duduk di pesawat, Anda dapat melihat cakrawala. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan bagi Boeing, dan Emery membuktikannya dalam waktu dekat, pembuat pesawat dapat secara radikal mendesain ulang kelas ekonomi. “Boeing akan menjadi pionir. Kami sedang mempelajari beberapa hal yang akan membuat orang tidur lebih nyenyak dan lebih alert ketika tiba di tempat tujuan,” ia tersenyum lebar kemudian tiba-tiba kembali diam, seolah menutupi sesuatu.

Dia memberitahu saya seperti apa kursi pesawat yang sempurna berdasarkan hasil penelitiannya. Kursi yang bisa membuat kaki Anda menyentuh lantai, terbuat dari bahan anti-mikroba (atau yang mudah dibersihkan), desain yang kompatibel dengan pesawat secara keseluruhan akan memberi Anda kebebasan untuk menyesuaikan tubuh tanpa dihalangi. Emery mengaku, “Gagasan bahwa Anda dapat merancang kursi ergonomis yang sempurna adalah mustahil. Posisi paling nyaman bagi Anda sebenarnya adalah yang berikutnya. Tubuh manusia perlu bergerak.”

REPTILIAN BRAINS

Sejumlah kemajuan interior pesawat saat ini dibuat berdasarkan survei psikologis secara mendalam dan luas, yang Emery lakukan lebih dari satu dekade lalu. Meskipun hasil ini sudah terlampau lama, namun tidak ketinggalan zaman. Trend mungkin bergerak cepat, namun terdapat lebih banyak ‘reptilian’ need ( reptilianlizard brain merupakan pusat emotional alarm bagi otak) terutama dalam hal terbang, berkembang sangat lambat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.