Frustation & Failure Fueled Future

Sir James Dyson, berbicara mengenai produkproduduknya yang berdesain ikonik dan berteknologi tinggi serta ide, inspirasi, dan pencapaian-pencapaian yang telah ia raih

Augustman (Indonesia) - - Guru - TEKS MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO DOK. DYSON

Menurut Anda, apakah ide yang Anda tuangkan pada desain dan fungsi mesin Dyson adalah pencapaian dari mimpi Anda?

Rasa frustrasi adalah katalisator dari berbagai penemuan. Rasa frustrasi membuat Anda berpikir mengapa sesuatu tidak bekerja sebagaimana mestinya dan bagaimana cara memperbaikinya. Dyson Cyclone, contohnya. Vacuum cleaner milik saya dulu sering sekali kehilangan daya hisapnya. Saya pun terinspirasi oleh siklon besar di sebuah penggergajian yang berfungsi memisahkan serbuk kayu dari udara. Saya bertanya-tanya, apakah metode separasi yang sama bisa diaplikasikan pada alat penghisap debu. Memang tidak mudah, butuh waktu 15 tahun dan sebanyak 5.127 prototype untuk menciptakan mesin penghisap debu dengan teknologi siklon. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah meyakinkan diri Anda bahwa ide Anda dapat membuahkan hasil. Ujilah ide Anda. Ajukan berbagai pertanyaan sulit yang menantang ide Anda. Begitu Anda yakin, yang perlu Anda lakukan selanjutnya hanyalah meyakinkan orang lain tentang ide Anda. Butuh usaha lebih besar untuk mewujudkan suatu ide, ketimbang sekedar memikirkannya.

Bagaimana Anda mendeskripsikan diri Anda? Sebagai seorang engineer, desainer, atau businessman?

Saya adalah seorang engineer. Dyson pun berangkat dari sebuah tim yang hanya terdiri atas lima orang engineer. Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai seorang

pebisnis. Kami bertekad untuk tetap konsisten pada apa yang telah kami lakukan sejak awal. Dyson dibangun untuk memecahkan masalah dan menciptakan teknologi yang bekerja lebih baik. Saya bahkan bersikeras agar tidak ada satu orangpun yang memakai suit and tie di Dyson. Saya tidak ingin karyawan saya berpikir layaknya pebisnis. Dyson berdiri untuk menciptakan teknologi. Bukan menghasilkan uang. Saya adalah seorang pencipta, yang bekerja membangun benda-benda, dan nama saya terpampang pada produk-produk tersebut. Begitulah cara saya menghidupi diri dan keluarga saya, serta bagaimana saya membuat nama saya dikenal di jutaan rumah tangga. Inilah yang saya sukai dari pekerjaan saya.

Bagaimana Anda mendeskripsikan mesin dan teknologi Anda?

Pada dasarnya engineering yang baik adalah engineering yang ramping, atau yang kami sebut dengan lean engineering. Kami berhasil mencapainya dengan menggunakan energi serta bahan-bahan baku secara hemat dan cermat. Untuk menghasilkan mesin yang kokoh dan tahan lama, engineer Dyson lebih memilih untuk memanfaatkan desain dan prinsip geometri, ketimbang menambahkan bahan baku. Lebih sedikit bahan baku yang kami gunakan, lebih sedikit pula sumber daya yang kami serap. Mesin yang kami hasilkan pun juga menjadi lebih ringan dengan desain yang lebih mudah untuk digunakan. Kendati demikian, kami tidak pernah mengorbankan daya tahan mesin. Kami memiliki rangkaian uji coba yang ketat dan tidak tanggung-tanggung dalam menganalisis kekuatan mesin-mesin kami.

Pada dasarnya, yang dilakukan oleh Dyson adalah redesign. Apakah ada produk lain yang akan Dyson desain ulang?

Tidak ada hal yang pasti terkait masa depan – itulah yang membuat masa depan begitu menarik. Saat ini, kami sedang mengembangkan teknologi untuk 25 tahun ke depan. Dan kami bekerjasama dengan 30 organisasi penelitian untuk mengembangkan teknologi yang akan menjadi fondasi utama teknologi-teknologi ini. Baru-baru ini, Dyson mengakuisisi Sakti 3, sebuah perusahaan baterai start-up asal Michigan yang tengah melakukan penelitian seputar baterai berbahan dasar padat. Jika berhasil, Sakti 3 berpotensi meningkatkan daya tahan baterai hingga dua kali lipat. Putera saya, Jake juga kini telah bergabung bersama Dyson sebagai seorang eksekutif senior. Jake akan berkontribusi dalam menciptakan teknologi-teknologi baru di Dyson, di samping mengembangkan teknologi penerangan yang ia ciptakan. Jake menekankan pentingnya berinvestasi dalam perangkat lunak, perangkat keras, serta perangkat-perangkat yang tercakup dalam Internet of Things. Jake nampaknya akan menjadi jauh lebih inventif dan petualang ketimbang saya.

Dyson mengalami kegagalan dalam menjual mesin cuci Dyson di Inggris karena harganya terlalu mahal. Bagaimana Dyson mampu menjual bladeless fan dan vacuumcleaner yang harganya juga relatif lebih mahal dibandingkan merek-merek lain?

Saya suka menganalisis teknologi yang ada di balik mesin cuci dan mencari cara agar mesin tersebut dapat bekerja lebih baik. Kami menemukan bahwa mencuci dengan tangan selama 15 menit hasilnya lebih bersih daripada menggunakan mesin cuci selama 67 menit, walaupun mesin cuci yang digunakan merupakan yang terbaik di kelasnya. Oleh karena itu, kami mencoba mencari cara agar dapat “mereplika” efisiensi mencuci dengan tangan pada mesin cuci, dan kami berhasil. Mesin cuci Dyson Contrarotator merupakan suatu keberhasilan engineering dan kemenangan problem-solving. Namun, teknik manufaktur yang ketika itu masih kuno membuat mesin kami itu terlalu mahal untuk dijual, sehingga kami harus menghentikan penjualannya. Terkadang, semangat kami dalam menciptakan teknologi baru menempatkan kami dalam pilihan yang sulit. Walau begitu, kami tidak takut untuk mengambil keputusan tersebut. Pada saat yang bersamaan, Dyson Dual Cyclone telah menjadi mesin penghisap debu dengan tingkat penjualan tertinggi di Inggris, segera setelah peluncurannya dan terlepas dari harganya yang relatif tinggi, yaitu 200 Poundsterling. Hal inilah yang masih terus kami lihat hingga saat ini: vacuum cleaner nirkabel Dyson terjual lebih banyak, hingga 3 banding 1, dibandingkan mesin full-size milik kompetitor-kompetitor lain secara global, terlepas dari harga mesin kami yang premium. Ini merupakan bukti nyata bahwa masyarakat sesungguhnya telah mendambakan teknologi yang mampu bekerja optimal dan membuat kehidupan mereka lebih baik. Dan mereka menemukan jawabannya di Dyson. Mereka menyadari bahwa, jika produk lain terasa ‘mahal’ karena manfaat yang didapat tidak sebanding dengan harga yang dibayarkan, yang terjadi justru sebaliknya dengan mesin-mesin Dyson.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.