Inside Warhol’s World

Andy Warhol: Social Circus, sebuah pameran Polaroid yang menggebrak Art Stage 2016

Augustman (Indonesia) - - Arts & Craft - TEKS JULIANA CHAN + AMELIA NURTIARA FOTO BERBAGAI SUMBER

The Factory adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan kreativitas. Polaroid menunjukkan lingkaran sosial Warhol – sweetspot di mana penghuni dunia bawah New York City bercampur dengan kalangan atas

BERANDAI-ANDAI Anda baru berkunjung ke pinggiran Laniakea, Anda akan tahu Andy Warhol dan melihat lukisan Campbell Soup Can khas Warhol. Anda pun tidak boleh melewatkan Pope of Pop Art. Ia telah dirayakan, dipelajari, ditiru dan menjadi referensi banyak orang.

Namun, entah mengapa ia tetap terselubung penuh misteri. Begitu banyaknya hingga produser Men In Black 3 berspekulasi untuk menyamarkannya menjadi agen W. (dalam film, Warhol yang diperankan oleh Bill Hader, mendapat kunjungan dari K dan J di The Factory, dan mengungkapkan keputusasaannya untuk mengakhiri tugas: “Saya sudah kehabisan ide, saya melukis kaleng sup dan pisang! Anda seperti berpura-pura mati, OK? Saya tidak bisa mendengarkan musik lagi.”) Anda harus mengakui, mereka berhasil membuat opini publik dari sang artis.

Proyek pameran selanjutnya dari Andy Warhol adalah Social Circus, yang lebih mengedepankan metode sang artis. Dikuratori oleh Khim Ong, ini adalah koleksi Polaroid terbesar Andy Warhol yang akan ditampilkan di Singapura dan Asia, termasuk kontribusi artis kontemporer, seperti Stephen Sprouse, Keith Haring dan nama-nama terkenal lainnya di dunia fashion dan seni seperti Diana Vreeland, Tina Chow, Martha Graham dan Gianfranco Ferre. Ini merupakan pertama kalinya Polaroid ditampilkan bersamaan semenjak Warhol mengambil foto-foto itu tahun 1958 dan 1987 hingga tersebar di seluruh dunia. Pengacara dan kolektor seni Ryan Su, yang koleksi pribadinya menjadi bagian utama dari Social Circus, bercerita mengenai pameran itu.

Apakah makna dari Polaroid ini?

Mereka merupakan bagian integral dari praktek dan metode artistik Warhol. Warhol banyak mengambil foto dengan kamera Polaroid dan membuatnya terlihat begitu glamor. Polaroid adalah sumber dari foto berbahan silkscreen yang harganya mencapai jutaan saat ini.

Apakah yang menarik dari Polaroid?

Foto Bianca Jagger sudah jarang sekali, dibuat dari triptych. Anda perlu mempertimbangkan bahwa dengan Polaroid, satu-satunya cara untuk memiliki kopian foto yang banyak adalah dengan memotret sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu masing-masing foto diambil dalam hitungan detik terpisah. Dilihat dari triptych, mereka memperlihatkan apa yang Warhol lihat sebagai subjek selebriti, hampir seperti sebuah animasi - Bianca Jagger terlihat tenang, rambutnya, wajah dan lehernya benar-benar mempesona. Hal ini terlihat sangat berbeda saat ia menunggangi kuda putih ke Studio 54, menggemparkan media. Dimana ia bercerita kepada Rolling Stones bahwa pernikahannya harus berakhir saat hari pernikahannya sendiri.

Bagaimana pameran ini bisa relevan dengan situasi saat ini?

“Sebuah foto menceritakan bahwa saya tahu di mana saya berada setiap menitnya. Itulah mengapa saya mengambil foto. Ini adalah buku harian visual.” Warhol pernah berkata seperti itu. Warhol memiliki pandangan ke depan yang luar biasa. Ia mencoba hal-hal dan gaya yang pada akhirnya menjadi tren. Relevansi sosial dari setiap potret diri Polaroid Warhol adalah sulit untuk kehilangan “selfie” - di mana narsisme, memuja diri sendiri, kesempurnaan dan meliputi citra diri. Ini yang membuat ironis. Pada saat ini, Andy Warhol menjadi pribadi yang fierce.wig yang menakutkan, dan kacamata hitam sebagai pelindungnya.

Apakah tujuan dari Andy Warhol: Social Circus?

Acara ini sekaligus untuk meluncurkan The Ryan Foundation, yang didirikan pada Desember 2012 untuk mempromosikan pendidikan seni dan konservasi alam. Saya tidak ingin menjadi sekadar kolektor seni, tetapi ingin meningkatkan kesadaran dalam pendidikan seni dan alam, dan salah satu cara untuk mencapai ini adalah dengan mengatur pameran seni. Polaroid bukanlah untuk dijual.

Apakah yang bisa diberikan kepada pengunjung dari pameran ini?

Mereka seperti dibawa ke studio Warhol, The Factory, di tahun 1970-an dan era 80-an New York. Lebih dari sebuah studio, The Factory adalah area kreativitas yang mulia. Di sinilah Warhol memproduksi cetakan, lukisan, foto, dan film. Beberapa koleksi Polaroidnya dilakukan di studio ini. The Factory lebih dari sebuah ruangan. Ini ibarat social circle- nya Warhol, di mana ia bisa bertemu dengan kalangan bawah New York yang bercampur dengan kalangan atas. Pameran ini adalah manifestasi dan kontekstualisasi dari Polaroid. Mungkin pengunjung akan melihat lebih banyak lagi dari apa yang Warhol lihat di dunia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.