Mind Soul

Free & Menyikapi kehidupan tanpa perlu pembatasan. Anton Ismael berbicara mengenai filosofi dari balik lensa kehidupannya

Augustman (Indonesia) - - Character Man - TEKS ALDO FENALOSA FOTO WILLIE WILLIAM + DOK. PRIBADI

“SEJAK BERUSIA LIMA TAHUN, saya sudah tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan visual. Saya begitu menikmati setiap keindahan dalam view yang saya lihat. Ayah memberikan sebuah kamera analog, kemudian saya mulai mengenal fotografi melalui itu,” ujar Anton Ismael, pria yang telah lama berkecimpung di industri kreatif dan teramat populer dalam fotografi fashion maupun komersil di Indonesia. Pertengahan bulan Maret 2016 saya berkesempatan mengunjungi studio fotonya, Third Eye Space, di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, dan berbincang mengenai lika-liku aktivitas seni menangkap gambar dengan cahaya yang telah digiatkannya sejak awal era 2000-an.

Anton bercerita bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga yang kental dengan darah seni. Ayahnya berlatar belakang militer dan sang ibu adalah seorang guru. Namun kedua orang tuanya mendidik Anton kecil dengan begitu fair dan tidak membebankan anak mereka untuk menjadi “seseorang” yang sesuai dengan selera mereka. “Jadilah diri kamu sendiri,” kata Anton menirukan pesan ayahnya. “Hal itulah yang terus saya ingat hingga kini.”

Tahun 1998 Anton kembali ke Indonesia setelah belajar fotografi di kampus Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia. Namun karena keadaan ekonomi nasional yang mengalami krisis pada saat itu, ia terpaksa menjaga jarak dengan aktivitas fotografi selama beberapa waktu. Barulah pada tahun 2000 ia dipertemukan kembali dengan aktivitas fotografi melalui seorang rekan sesama fotografer. Sedikit demi sedikit, Anton menggali lebih dalam ranah fotografi komersil di Indonesia.

“Project komersil pertama saya peroleh karena fotografer utama di tempat saya tidak mau mengeksekusi sebuah tawaran iklan soalnya bayarannya kecil buat dia. Yaudah, karena dia tidak mau saya ambil saja,” kenang Anton sembari terkekeh menceritakan memorinya. Kini, sejumlah produk populer seperti Samsung, Nokia, Garuda Indonesia, Magnum Ice Cream, A Mild, Telkomsel, hingga sejumlah media massa mempercayakan kebutuhan foto mereka ke tangan pria bernama lengkap Anton Widya Ismael itu.

Salah satu keunikan Anton sebagai seorang fotografer yang terbilang jarang ditemukan pada rekan-rekan seprofesinya adalah keterbukaan diri untuk berbagi ilmu fotografi secara cuma-cuma tanpa harus dikaitkan dengan urusan finansial. Sesi sharing ilmu itu ia agendakan sedemikian rupa ke dalam sebuah grup bernama “Kelas Pagi” yang kini gaungnya telah terdengar ke banyak penyuka fotografi di Indonesia. “Saya sebetulnya tidak pernah terpikir untuk sengaja membuat Kelas Pagi di Jakarta dan Jogja. Tapi suatu ketika

tiba-tiba terbersit keinginan untuk berbagi ilmu yang saya miliki pada orang lain setelah beberapa orang terdekat meminta diajarkan tentang fotografi,” cerita Anton yang tampak nyaman duduk di belakang meja kerjanya pada pagi hari itu.

Di samping fotografi, pendidikan adalah ranah yang memang telah lama menjadi concern dirinya. Karena itu ia membuka Kelas Pagi untuk siapa saja, entah dari mana asal mereka. “Bagi saya, pendidikan seharusnya untuk membebaskan. Bukan untuk membuat orang yang kita ajarkan harus menjadi seperti kita atau membuat dia berpikiran terpaku pada kita. Saya tidak ingin anakanak yang keluar dari Kelas Pagi tidak dapat bereksplorasi mengoptimalkan wawasan yang didapatnya karena terbentur persepsi hasil dari pendidikan,” cerita Anton.

“Saya hanya memberi informasi yang ada, selanjutnya terserah pada masing- masing orang untuk menyikapinya karena dalam kehidupan yang sebenarnya tidak selalu seragam apa yang akan dihadapi seseorang,” sambungnya. Tak jarang anak didiknya kelabakan dan kebingungan mencerna metode belajar yang digunakan Anton. Namun menurutnya, hal itulah yang sengaja diciptakannya agar para pengikut kelas bisa merasakan kebimbangan lalu menggulirkan pemikiran-pemikiran yang harus secepatnya mereka putuskan untuk mengatasi kebimbangan tersebut. “Kuncinya adalah bingung itu, Anda bingung lalu jatuh karena hal itu. Tapi segera sesudahnya Anda pasti akan berusaha menemukan cara untuk bangkit dan melompat lebih tinggi. Itu kuncinya,”

Kelas Pagi sudah memasuki usia satu dekade semenjak pertama dibuka tahun 2006, setiap pukul 06.00 wib hingga 11.00 wib. “Waktu pagi hari adalah semacam kutukan bagi saya, enggak tahu selalu otomatis terbangun dan mulai beraktivitas jam segitu,” katanya terkait alasan jadwal kegiatan tersebut.

Meski sudah terbilang konsisten berkarya dalam bidang fotografi, Anton menyimpan hasrat untuk menggelar pameran. Sebuah pameran tunggal yang dieksekusi secara matang sebagai ruang untuk menyalurkan pemikiran-pemikiran yang tak pernah sempat dikaryakan sebelumnya. “Sudah waktunya saya pameran yang serius,” celetuknya.

Semakin jauh membahas tentang pamerannya, Anton terlihat semakin khusyuk berbicara. Pameran bertajuk Rumah itu akan dihelat per 1 April 2016 di Galeri Ruci Art Space, Blok S, Jakarta Selatan. “Setiap orang belajar untuk pertama kalinya tentu dari rumah, bukan dari sekolah.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.