Vintage

Augustman (Indonesia) - - Journal -

TAMPILAN VINTAGE kini kembali menjadi tren, bahkan pada brand mewah, seperti Gucci, Alessandro Michele yang desainnya terinspirasi dari satu atau dua generasi sebelumnya, namun dengan siluet dan materi terbaru. Dunia telah melihat berbagai kreasi brand. Vintage trunk dan trunk case akan semakin populer. Untuk footwear, sebelumnya kita tidak pernah melihat sepatu dengan “antique-finished” atau sering menggunakan kata “patina” pada press release. Bahkan dalam budaya populer, keinginan akan barangbarang vintage semakin melonjak. Polaroid, kamera dengan desain terbaru dan hasil foto yang seukuran telapak tangan seolah menawarkan hal baru. Rekaman dalam bentuk vinyl terus meningkat penjualannya dari tahun ke tahun sebesar 50% semenjak tahun 2010. Meskipun itu masih tergolong kecil untuk total penjualan, namun angkanya menggelitik.

THE BEAUTY OF TRANSIENCE

Dunia digital telah terobsesi dengan one singular focus sejak revolusi digital dimulai: data. Semakin banyak data yang melewati tangan kita setiap hari, dan apa yang kita kerjakan, faktor kebutuhan menyimpan data juga penting. Perusahaan teknologi menghabiskan ton uang untuk mem- back up sistem. Tubuh kita mungkin membusuk dengan waktu namun informasi konon abadi. Pada saat yang sama, seribu generasi sedang merayakan euforia Snapchat, aplikasi media sosial yang kini sedang populer, saling berbagi momen dalam waktu singkat sebelum dihapus. Seperti merayakan sesuatu yang tidak kekal. Ini mungkin mengapa generasi muda mendalami vinyl.

Dalam industri fashion, kritikus berulang kali memperingatkan tentang bahaya siklus mode di mana brand besar yang berkuasa. Mereka menunjukkan bahwa tidak hanya desainer yang bisa memproduksi banyak per koleksinya, namun juga per musimnya, hasilnya konsumen dan pengecer akan mengalami kemunduran.di masa lalu, kita dapat mengetahui suatu dekade dengan gaya tertentu. Kini, satu musim mungkin berisi sindiran gaya dari beberapa dekade, mulai dari tahun 60-an ke 80-an menjadi kombinasi gaya. Pemuda masa kini berada dalam perubahan konstan yang terus menerus, adanya kekacauan pada bisnis mode tradisional dan memimpin metode mereka sendiri, tetapi tidak menemukan tujuan atau identitasnya, dengan reputasi yang berubah-ubah.

COMFORT IN OLD STATEMENTS

Semua faktor ini menjelaskan bahwa barang antik dan klasik lebih populer dari segalanya. Ada rasa dan kepuasaan tersendiri jika memiliki barang vintage. Ini mungkin mengapa creative director Gucci menghasilkan rave review, dan mengapa Berluti kini mengalami peningkatan, di saat brand lain mengalami kesulitan. Produk baru dan awet (kecuali Hermès Birkin dan tas Kelly) yang kurang memikat dibandingkan dengan generasi sebelum saya. Ini bukan barang bekas atau kurang sombong melainkan keinginan untuk menghubungkan antara seseorang dengan barang yang tidak teridentifikasi di masa lalu. Pertanyaannya adalah: seberapa lama tren ini akan bertahan?

Ada keakraban yang dirasakan pada barang

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.