Timepiece

Augustman (Indonesia) - - Brand STory -

SAAT SEBUAH DISKUSI mengarah pada pembahasan mengenai tingginya harga jam tangan Richard Mille, banyak orang cenderung memberi ejekan karena tidak paham alasan besarnya biaya produksi dalam proses penelitian dan pengembangan mendalam demi timepiece berkelas.

“Dengan harga itu, saya bisa memperoleh 20 arloji dari merek lain!” cemooh mereka. Sebenarnya, hanya dengan delapan dolar Anda memang sudah bisa mendapatkan jajanan sekelas steak di pasar grosir. Tetapi bila Anda menginginkan steak yang berkualitas, ada harga yang jauh lebih besar dibanding itu, bahkan mungkin bisa mencapai 20 kali lipatnya.

Berbagai material yang digunakan Richard Mille sesuai dengan etos – jika ini bukan material terbaik, maka jangan sekali-kali digunakan. Ketika RM 001, arloji pertama Mille dibuat dengan bentuk yang tidak biasa (jauh dari bayangan yang dapat Anda capai) menggunakan bahan platinum dan red gold, lantas tak beberapa lama setelah itu gaya Richard Mille menjadi sumber referensi yang banyak berpengaruh.

RM 52-01 Skull adalah contoh nyata dari kemampuan brand ini untuk mengeksplorasi berbagai material. Pada bagian case, Richard Mille membuat keramik yang unik dengan mereduksi porosit dari material raw. Lebih familiar dengan nama TZP-N, material ultra-tough black nano-ceramic ini memiliki kepadatan berukuran enam gram per sentimeter kubik dan mengoptimalkan ketahanan tingkat tinggi yang bisa bertahan menghadapi konduktifitas pada suhu rendah.

Material ini terdiri dari 95 persen komponen zirconium yang distabilkan dengan yttrium, memungkinkan brand itu menempa tampilan fisik yang lebih lembut, yang jarang terdapat pada keramik secara umum.

Case di tengah RP 52-01 Skull bermaterikan karbon nanotube yang dipadukan ke dalam black polymer bertujuan untuk melindungi tourbillon dari guncangan yang datang secara tiba-tiba. Karbon nanotube merupakan salah satu forte dari Richard Mille, terlihat paling jumawa pada RM 59-01 Yohan Blake. Molekul karbon berkonsep silindris bekerja dengan baik sebagai penumpu berbagai struktur material karena ketahanan yang tinggi. Pada RM 59-01 Yohan Blake, nanotube disuntikkan ke dalam green-yellow polymer lalu menghasilkan material yang lebih kapabel dibanding fiber karbon tradisional.

Material yang dikembangkan Richard Mille dalam case jam tangan ini menggaungkan kesan sport luxury aesthetic. Boleh jadi karena banyak atlet top dunia mengenakan timepiece Mille ketika beraktivitas maupun berkompetisi.

Mille tidak berhenti memperkenalkan material baru. RM 055, yang dipakai pegolf profesional Bubba Watson, adalah all-white timepiece menakjubkan yang memperlihatkan komitmen Mille tentang elemen shock protection.

Titanium grade 5 yang begitu ringan digunakan untuk konstruksi case. Berpadu dengan pelindung rubber yang telah melalui proses high pressure di sekitar komponenkomponen titanium, memunculkan layer tambahan untuk meredam getaran pada movement. Unsur bezel juga menjadi kebanggaan pada material lain Mille – ATZ bezel. Terbuat dari pipa berbahan bubuk alumunium oxide yang diinjeksi dalam tekanan hampir sebesar 2.000 bar, ATZ bezel meningkatkan kekakuan yang meminimalisir kemungkinan melar dan mengembangkan tingkat kesolidan 1.400 Vickers, menjadikannya sebagai salah satu material terkeras di dunia.

Material lain Richard Mille, yang terbaru, adalah karbon NTPT. Material eksklusif ini berasal dari kayu yang tidak biasa, dengan multiple layer dalam filamen paralel yang dipisahkan dari fiber karbon. Layer ini meresap resin lalu dirakit diatas mesin spesial yang memodifikasi benang weft hingga 45 derajat di antara lapisan-lapisan lain, sebelum dipanaskan dan diproses menjadi sebuah case pada timepiece Richard Mille.

Dilihat dari RM 50-01 untuk tim F1 Lotus, karbon NTPT adalah representasi terbaik aspek penting dalam filosofi Richard Mille – best in technical innovation. After all, mengapa Anda masih membeli jam tangan yang tidak memberikan material terbaik dan revolusioner?

Banyak atlet top dunia mengenakan Mille ketika beraktivitas maupun berkompetisi

URWERK

Mengukur akurasi jam tangan hingga ketepatan detiknya adalah sebuah bentuk hobi dari orangorang yang mulai mengenal horologist lebih jauh. Dalam EMC (Electro Mechanical Control) jam tangan Urwerk yang dikenalkan pertama kali pada tahun 2013, kolektor dapat memonitor dan menyesuaikan presisi (diberikan dalam +/detik), lebih mudah membandingkan akurasi jam tangan Anda. Tahun ini, brand tersebut membuat satu langkah ke depan dengan memperkenalkan pengukuran amplitudo dari balance wheel di dalam EMC Timehunter yang baru.

Cukup dengan menempatkan pengukur amplitude dan penunjuk precision-counter maka akan muncul “seberapa jauh derajat pendulum atau balance wheel bergeser melewati masingmasing ayunan”, yang menandakan seberapa baik kinerja jantung arloji Anda untuk berdetak. Jika salah satunya berjarak terlalu jauh, maka movement jam tangan Anda harus segera diperiksa.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.