When W i l l I t Wor k ?

Teknologi self-driving sangat mengesankan tetapi begitu membosankan

Augustman (Indonesia) - - Motoring - OLEH HANNAH CHOO + ALDO FENALOSA FOTO DOK. GOOGLE

MOBIL yang bisa berkendara sendiri bukan sepenuhnya ide baru. Barangkali ide ini terilhami dari utopia teknologi dalam fantasi sci-fi, tetapi sains pada akhirnya berhasil membuat hal itu menjadi kenyataan. Kini kita telah memiliki teknologi tersebut meski – sebenarnya belum dapat teraplikasikan secara luas – sepertinya akan sangat membosankan ketika membayangkan tidak bisa lagi menyandarkan tangan Anda pada kemudi saat melintasi jalan tol.

Tesla dan Nissan adalah pihak yang paling menginginkan teknologi ini teraplikasi secara luas. Google bercita-cita mentransformasikan mobilitas yang lebih mudah, aman, dan menyenangkan untuk kemana saja... cukup dengan cara menekan tombol, tanpa campur tangan manusia.

Ironisnya, teknologi keselamatan juga berkemungkinan menciptakan resiko baru, mendorong pengemudi menjadi kurang hati-hati dan kurang waspada terhadap situasi jalan yang dilewatinya. Tidak seperti sekarang yang mengharuskan kita lebih aware. Ada sebuah pertanyaan tercuat, bagaimana caranya mobil mengetahui kesiapan penumpangnya untuk mulai berkendara? Apakah nantinya akan tersedia cukup banyak pemberitahuan sebelum mobil mulai berjalan dalam mode otomatis? Lalu siapa yang akan sadar saat ternyata fan mobil sedang rusak?

Tapi hal itu bukan berarti teknologi driverless tidak dapat bekerja. Contohnya kita lihat pada mobil berbentuk seperti telur yang dikembangkan Google. Prototipe ini menghilangkan stir dan pedal kemudi, hanya ada panel kontrol yang diapit sepasang kursi. Tahun lalu BBC melakukan pengujian pada mobil ini, dan hasilnya menunjukkan mobil ini adalah mobil yang paling lambat karena sangat memperhatikan keamanan dan bahaya yang mungkin terjadi di jalanan. Tapi pengujian itu dilakukan di jalan yang memang sengaja diatur rapi sedemikian rupa. Lalu apa yang akan terjadi bila mobil itu melaju di jalan raya yang sebenarnya? Dalam situasi yang liar, sensor kendaraan ini mulai kewalahan. Bahkan seperti mulai panik ketika ada kendaraan lain melewatinya. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi sesuatu yang positif karena menunjukkan bahwa kendaraan lain yang berusaha menyalip dianggap berbahaya. Namun di sisi lain, kecelakaan bisa saja terjadi bila pengguna jalan lain tidak dapat merespons dengan baik pergerakan yang liar tersebut.

Karena itu, akan menjadi proses yang teramat panjang untuk dilalui sebelum kita benar-benar mampu dan siap (baik secara teknologi maupun budaya) merealisasikan kendaraan otomatis. Hingga saat itu tiba, mari tetap fokus dalam berkendara. Selain itu, apa menariknya memiliki mobil tapi Anda tidak bisa menyetirnya sendiri?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.