Mendefinisikan waktu bersama pendiri Hautlence

Sandro Reginelli, salah satu dari pendiri Hautlence, kini menjabat sebagai CEO untuk brand ini. Ia juga memiliki track record yang baik dalam mendesain serta membangun berbagai brand jam tangan lain. Sangat menarik melihat Hautlence kini di bawah kepemimp

Augustman (Indonesia) - - Contents - TEKS MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO WILLIE WILLIAM

IA DATANG KE INDONESIA untuk secara pribadi memperkenalkan beberapa novelty yang telah diperkenalkan sebelumnya di SIHH serta Basel World, yaitu Vortex Primary, Vortex Bronze, Playground Labyrinth, serta satu-satunya jam tangan Tourbillon yang pernah diproduksi oleh Hautlence bekerjasama dengan sister company H. Moser & Cie. Nampak begitu besar passion yang ia miliki dalam dunia horology, khususnya pada brand Hautlence. “Saya bersama empat orang kawan membentuk brand ini duabelas tahun yang lalu. Kami sama-sama telah memiliki pengalaman masing-masing di dalam industri jam tangan. Terdapat satu hal yang missing di dalam industri tersebut yaitu watch brand yang kontemporer dan kreatif. Passion yang kami miliki pada dasarnya adalah ketika kami harus menantang status quo industri jam tangan tradisional dan menghadirkan creative horology. We need to tell the time in a differentword. Kami bermain dengan desain, menembus batasan teknologi, menciptakan inhouse movement, menjadikan setiap jam tangan sebagai sebuah unique piece.”

Duabelas tahun Hautlence berdiri dan hingga saat ini masih terus tumbuh dan berinovasi. “Para watchmaker selalu mengatakan bahwa mereka ingin menguasai waktu, master the time. Kita tahu bahwa itu tidak mungkin dilakukan. Waktu akan terus berjalan, berlalu, tanpa bisa kita kontrol. Yang bisa kami lakukan adalah memberi warna pada waktu. Menciptakan cara yang kreatif untuk membaca waktu,” ujar Sandro. Salah-satu dari empat novelty Hautlence, terdapat sebuah watch yang samasekali tidak berfungsi untuk menunjukkan waktu. Mekanisme yang terdapat di dalamnya, yang digerakkan dengan cara memutar crown, berfungsi untuk mengeluarkan kembali bola metal yang telah masuk ke dalam lubang. Ya, “jam tangan” ini adalah sebuah permainan labirin. “Gunakan telepon seluler Anda untuk mengetahui waktu. Playground Labyrinth adalah sebuah aksesoris yang indah. Anda mengenakannya karena Anda menyukainya. Inilah instrumen yang akan membuat Anda berhenti memikirkan waktu, bermain, kembali ke masa kecil. Memutuskan koneksi Anda dengan segala rutin dan memberikan waktu bagi diri Anda sendiri. Mengingatkan Anda untuk selalu memiliki quality time.”

Sebuah convention bagi para comic book dan entertainment enthusiast akan hadir untuk yang pertama kalinya di Indonesia. Comic Con adalah sebuah event terkenal yang melibatkan berbagai macam atraksi pop culture, termasuk film, serial TV, animasi, komik, kartun, mainan, video game dan lainnya. Comic Con yang pertama diadakan pada tahun 1970 oleh empat orang penggemar komik dari San Diego: Shel Dorf, Richard Alf, Ken Krueger dan Mike Towry. Nama resmi event tersebut adalah Comic-con International: San Diego, namun secara umum dikenal sebagai (San Diego) Comic Con, yang merupakan pop culture populer yang juga menjadi mesin marketing raksasa film-film Hollywood. Jakarta Comic Con 2016 diorganisir oleh BEC-TERO Truevisions dari Thailand. Kunjungi jakartacomiccon.loket.com untuk informasi dan pembelian tiket.

Lemonade adalah album keenam Beyonce. Konsepnya dibuat sebagai album visual, yang berarti keseluruhan track dihadirkan dalam bentuk audio visual. Namun bedanya, visual untuk setiap track disatukan dalam sebuah film pendek berjudul sama yang ditayangkan oleh HBO, tepat sebelum albumnya dirilis.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.