Mengungkap Fendi Palazzo di Roma

Augustman (Indonesia) - - Contents - TEKS DARREN HO + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO BERBAGAI SUMBER

BEGITU SAYA TIBA DI BANDARA FIUMICINO dan menaiki kereta menuju kota, berbagai pikiran bermunculan. Pertama, apakah orang-orang Roma sadar betapa beruntungnya mereka, tinggal di pusat kesenian, kebudayaan, serta filosofi dalam sebuah kota yang telah berdiri selama hampir tiga milenium? Seluruh bagian dunia barangkali memiliki arsitektur modern namun akar mereka semua adalah bangunan-banguan pertama yang didirikan di Roma, melintasi waktu berabad-abad hingga membentuk desain seperti yang ada saat ini. Orang-orang Roma pasti akan merasa bahwa kota-kota lain sangat membosankan.

Namun kemudian tercetus pikiran, yang mungkin lebih penting, bahwa konstruksi Brobdingnagian tetap bertahan. Selama tiga milenium Roma telah bertahan dari peperangan, serangan penyakit, bencana alam, dan yang paling merusak, manusia. Kemampuan manusia merusak bisa dibilang sama seperti kemampuan kita untuk membentuk dan menciptakan. Nyatanya, monumenmonumen tersebut berdiri sebagai bukti dari peradaban manusia yang pernah ada. Beberapa milenium kemudian, lebih dari apa yang telah kita bangun saat ini. Mereka membangun bangunan yang mampu berdiri lama dan kita di abad ke-21 ini membangun dengan dua alasan: cepat dan murah.

Zona perkotaan Roma telah berkembang dan secara perlahan meluas seiring dengan pertumbuhan populasi, namun dengan setiap pembangunan selalu diiringi dengan era, gaya, dan ide yang berbeda. Lebih penting lagi, ketika orang Roma telah menetapkan suatu tujuan, mereka akan mencapainya. Dan orang Italia dikabarkan menjalani kehidupan berdasarkan pemahaman mereka mengenai karya-karya artisan dan berdetail dalam segala hal, dari seorang pria tua yang melapisi sebuah kursi menggunakan gold leaf, selapis demi selapis, hingga fresco-fresco yang terdapat di gereja-gereja di seluruh kota. Itu semua membutuhkan banyak waktu, namun semuanya selesai, dan diselesaikan dengan sangat baik.

FENDI AND ROME

Silvia Venturini Fendi, creative director untuk aksesoris dan produk-produk pria, setuju. “Yang kami lakukan di dalam Fendi adalah hal yang sangat istimewa, dan banyak di antaranya memerlukan banyak waktu,” ia menjelaskan di lantai dua flagshipstore, dimana terdapat sebuah private sitting room dan sebuah meja besar di bagian belakang. Sebuah pantry secara cermat tersembunyi di bagian belakang, dan seluruh bagian ruangan tersebut kini memiliki warna turquoise dengan sentuhan warna moss green serta terdapat dua buah armchair empuk yang terbuat dari bahan tweed berwarna biru muda. Ruangan yang elegan dan homy, barangkali karena bangunan ini adalah Palazzo Fendi, pusat kekuatan retail ini dimana orang-orang dapat datang dan mengagumi bangunan serta label fashion Italia berusia 91 tahun tersebut. Ia terus menjelaskan mengenai perkembangan brand. “It’s always been very organic, very natural. Tidak dalam satu hari kami memutuskan untuk membuka 250 toko di seluruh dunia.”

Silvia tidak ingin menyebutkan berapa umurnya, namun terdapat sebuah keistimewaan yang tidak lekang oleh waktu dalam dirinya, paduan antara statesperson, wanita bijaksana, dan seorang ibu, dengan sedikit semangat muda dan trendy. Saya segera teringat kepada dua wanita Italia yang hebat di dunia fashion, Miuccia Prada dan almarhum Elsa Schiaparelli. Sentuhan glamour, sedikit tak acuh, disertai ketulusan dan rasa ingin tahu yang telah membentuk apa yang mereka ciptakan. Saya tertegun ketiga melihat hiasan frill yang terdapat pada sofa yang terletak di depan saya, mengingatkan saya pada koleksi cocktail dress Fendi dari suatu season yang dihiasi oleh frill dengan gaya yang sama. Detail itu penting, seperti yang ia tegaskan, dan itulah yang menjadikannya berbeda.

Hal-hal mendasar seperti itu juga masih terlihat pada produk-produk Fendi saat ini, secara khusus season ini ketika perusahaan ini memperkenalkan Lui, soft briefcase

Terdapat aliran informasi dan ide di antara hal-hal yang kami desain bagi kedua gender

untuk pria, sebuah tas multi fungsi dengan strap yang dapat diganti yang bisa didapatkan dari Fendi dan mengubahnya menjadi sebuah messenger bag. Tas dengan ruang simpan yang lega, softly structured, juga memiliki versi kecil berupa handbag bagi wanita, Lei. Androgini barangkali merupakan tema yang kembali diadopsi di atas runway koleksi pria musim ini, namun Silvia memiliki metodenya sendiri dalam mengkreasikan ide-idenya sesuai dengan citarasanya.

“Kami mengerjakan aksesoris pria dan wanita secara bersamaan, dan ketika kami membuat Lui, kami juga mengerjakan Lei,” ia teringat atas pertanyaan yang pertama kali saya ajukan, mana yang lebih dahulu dibuat: tas pria atau wanita. “Namun lebih dan lebih lagi, terdapat aliran informasi dan ide di antara hal-hal yang kami desain bagi kedua gender. It’s something that’s in the air right now, dan saya melompat ke dalam departemen-departemen yang berbeda sepanjang hari yang terkadang secara sederhana akan lebih mudah untuk mengambil suatu ide dan menerjemahkannya bagi kedua gender. Namun itu bukanlah sesuatu yang disengaja.”

Silvia melanjutkan pembicaraan dengan berbicara mengenai Peekaboo sebagai cara untuk menjelaskan apa yang ia maksud. Penerjemahan handbag Fendi yang ikonik ini sangatlah keren dan populer di antara para kritikus dan fashion forward, terutama ketika tas versi pertama muncul, menampilkan gambaran mata yang terbuat dari leather yang dijahit. “Peekaboo pada awalnya adalah tas wanita yang diterjemahkan ke dalam rangkaian produk pria. However, Monster pertamakali ditampilan pada Peekaboo pria edisi pertama, kemudian dilanjutkan pada lini wanita.”

Nuansa androgini dan pertukaran yang kita saksikan di antara menswear dan womenswear saat ini baginya merupakan sebuah street habit yang berubah menjadi sebuah norma. “Saya melihat wanita mengenakan pakaian dari range pria, saya adalah salah satu dari mereka, menurut saya pakaian pria sangat praktis, so utilitarian. Saya menyukai volumenya, kenyamanannya. Membuat saya merasa nyaman. Namun barangkali itu berkaitan dengan masa lalu saya ketika masih kanak-kanak ketika saya mengenakan warna-warna biru, kelabu, hitam, bukan warna-warna yang lebih flamboyan atau dramatis yang banyak dikenakan oleh gadis-gadis lain.”

Satu-satunya anggota keluarga yang masih bekerja bagi brand ini mengaku terpesona oleh kreasi-kreasi yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut, secara khusus handbag, pada tahun-tahun awal ia bergabung. “Terdapat sebuah ruang dimana kami menyimpan seluruh tas, saya melihat, mempelajari dan mencoba untuk memahami bagaimana setiap bagian tas disatukan,” kenangnya. “Saya membersihkan tas-tas tersebut dan terkadang beberapa piece diambil karena terjual atau seseorang ingin melihatnya dan saya mengetahuinya.” Beberapa dekade kemudian, gadis yang terpana atas kreasi-kreasi orangtuanya tersebut berhasil meraup keuntungan berjuta-juta dolar bagi perusahaan.

A SECOND PLACE

Dalam cara yang sama, keputusan Fendi memilih lokasi kantor pusatnya yang baru tahun lalu merupakan sebuah keputusan berdasarkan ketekunan dan emosi. Palazzo della Civiltà Italiana awalnya didesain pada tahun 1937 untuk World Exhibition yang rencananya diadakan pada tahun 1942 dan mulanya dimaksudkan untuk merepresentasikan era ketiga arsitektur Roma, dalam gaya modern-neo klasik. Limapuluh bangunan yang rencananya didirikan, dengan bangunan utama Palazzo della Civiltà Italiana dimaksudkan untuk merayakan sebuah era baru di bawah kepemimpinan Mussolini. Area dimana bangunan tersebut didirikan bernama Esposizione Universale Roma atau EUR.

Perang Dunia II menggagalkan rencana eksibisi tersebut dan hanya lima bangunan yang berhasil dibangun, yaitu Palazzo dei Ricevimenti e dei Congressi, Archivio Centrale dello Stato, Basilica parrocchiale dei Santi Pietro e Paolo, Office Palace serta gedung INA dan INPS. Sebuah ide mengenai perpaduan Roma masa lalu dengan modern future secara sempurna terdapat pada Palazzo della Civiltà Italiana. Bangunan yang menempati bidang bujur sangkar, berupa tumpukan loggia, masing-masing memiliki sembilan deret lengkungan, membuatnya disebut sebagai square colosseum.

Palazzo ini sempat ditelantarkan selama lebih dari sepuluh tahun setelah selesai dibangun. Akhirnya pada tahun 1953 dibuka untuk sebuah pameran dan lebih sering digunakan untuk lokasi pembuatan film.

Berdiri tanpa pengawasan untuk waktu yang cukup lama merupakan bukti dari fasisme Italia masa lampau. Namun tidak ada yang dapat mengabaikan kemegahan konstruksi Palazzo yang memiliki 28 patung pada loggia paling bawah. Diperlukan lima tahun untuk merestorasi gedung ini dan membuatnya suitable untuk digunakan sebagai perkantoran modern serta rumah bagi fur atelier Fendi yang paling berharga. Dan kini perusahaan ini telah memberikan kehidupan baru bagi Palazzo, menjadikannya terlepas dari kegelapan masa lalu dan memberikan masa depan yang optimistis. Diperlukan tekad besar untuk mentransformasikan arena ini menjadi kota masa depan.

LEMBAR INI SEARAH JARUM JAM Palazzo della Civiltà Italiana pada malam pembukaannya tahun lalu; Lui.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.