Beaut y in t he Br e a k do wn

Budapest membuktikan bahwa kota ini tidak hanya sekadar merestorasi arsitektur yang ada

Augustman (Indonesia) - - Destination - TEKS SEAN MOSSADEG + AMELIA NURTIARA FOTO BERBAGAI SUMBER

AWALNYA SAYA MEYAKINI bahwa tubuh saya dirancang untuk mampu bertahan dalam cuaca yang lebih dingin. Keyakinan ini diperkuat ketika kening saya benar-benar penuh dengan keringat saat makan siang di coffeeshop di sudut kota. Namun setelah menghabiskan tiga minggu di Eropa pada Maret lalu, saya pikir mungkin cuaca wilayah ekuator tempat dimana negara asal saya berada tidaklah terlalu buruk.

Hal itu mulai saya sadari dalam separuh perjalanan menuju Budapest, di tengah cuaca dingin yang menusuk saya membayangkan dapat segera menemukan sebuah bar ketika hari mulai beranjak malam.

Anggap saja seperti perjalanan Maria dan Yusuf dari Bethlehem, tetapi dengan versi diserang kejang mulut dan hanya ada painkiller dan alkohol sebagai penyelamat. Dari satu gedung ke gedung lain, kami berjalan susah payah menembus musim dingin, mencari bar Budapest yang terkenal “nyeleneh”. Sejumlah bar di Budapest ini sebagiannya terletak di kawasan pemukiman Yahudi yang banyak menyisakan reruntuhan bangunan tak terpakai, lalu disulap menjadi bar unik.

Tidak seperti bar speakeasy di Singapura yang harus menjaga kerahasiaan dan suasana tempat mereka dengan persyaratan password dan lainnya pada pengunjung, bar-bar di sini justru cukup tersembunyi dengan alami dan tidak mencolok. Saya seperti memainkan sebuah game tebak-tebakan untuk menemukan bar-bar itu karena saking tersembunyinya. “Ini adalah bar atau tempat untuk tunawisma?”

Szimpla Kert, bar pertama di Budapest (dan yang pertama saya kunjungi), dipenuhi dengan furnitur yang terlihat mismatched satu dengan yang lain, dan yang paling menarik tampak pada sebagian body mobil yang dibuat menjadi meja dengan tambahan keran bir.

Setelah seharian menjadi turis dengan berkeliling ke situs-situs peninggalan sejarah, terlepas dari sejumlah situs masih terbengkalai dan tidak diurus dengan baik, Budapest memang lebih dari sekadar label “Kota Terindah di Eropa” dari Unesco.

Seperti lirik lagu Let Go dari Frou Frou, there is beauty in the breakdown. Saat pejabat kota mungkin susah payah menghabiskan waktu dan uang untuk merestorasi bangunan tua seperti istana dan museum untuk kepentingan pariwisata dan sejarah, bar-bar yang saya datangi ini justru menjadi pembuktian bahwa bangunan tua juga dapat diubah dengan mudah menjadi modern, melalui minumanminumannya dan omongan dari mulut ke mulut.

Bila terkait dengan sesuatu yang cool, sering kita berasumsi bahwa hal-hal itu akan terkontaminasi jika mulai didatangi oleh turis. Untungnya, itu tidak benar. Saya awalnya juga berasumsi bahwa mayoritas pengunjung bar-bar di sini adalah kaum hipster intelektual palsu atau orang-orang yang berbicara lantang dan tidak sopan ketika bir di tangan mereka, namun nyatanya tak terlihat seperti itu.

Sebaliknya, di bar-bar ini ada keselarasan view antara turis dan warga lokal. Ada beberapa pasangan lansia, backpacker wanita dan banyak lagi. Rasanya seperti berada di pusat jajanan Singapura – melting pot budaya dan cara yang sempurna untuk menikmati Budapest di malam hari.

Jika saya harus merangkum Budapest dalam satu kalimat, mungkin seperti “berkunjunglah untuk menikmati panoramanya namun menetaplah untuk menikmati bir yang enak”.

Dan panorama di kota ini memang sayang untuk terlewatkan. Setelah diinvasi berabad-abad dengan era penguasa yang berbeda, arsitektur di kota ini adalah hasil percampuran dari berbagai pengaruh budaya yang kini menjadi identitas tersendiri bagi Budapest. Kawasan Buda Castle yang terletak di pusat kota memiliki panorama terbaik di Budapest untuk mempelajari sejarah kota selama berjam-jam, cukup setimpal dengan rasa kram di kaki dan sakit di rahang saya (catatan: jangan makan hotdog jika rahang Anda sakit) selama eksplorasi itu. Budapest memang tidak berlebih-lebihan dan bermewah-mewah untuk membuat monument-monumen baru, sehingga bangunan-bangunan seperti kastil dan gereja yang telah direstorasi tampak tetap memiliki nilai historis di masa lalu.

Keindahan wajah Budapest akan selalu menarik perhatian pariwisata. Wikipedia sendiri menggambarkan kota ini dalam potret sungai-sungai yang indah, kastil, dan banyak situs gereja kuno yang akan membuat Anda bingung menentukan destinasi mana yang akan didatangi terlebih dahulu. Namun keindahan nyata dari Budapest terletak dari upaya orang-orangnya untuk membangun kembali kota mereka. Seperti yang sudah saya katakan, berkunjunglah untuk menikmati panoramanya namun menetaplah untuk menikmati bir yang enak.

Setelah invasi berabad-abad...., arsitektur kota ini adalah hasil perpaduan berbagai pengaruh

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.