Mas t e r o f

Steve Mccurry terdorong untuk mengambil gambar kehidupan manusia sebagai objek fotonya

Augustman (Indonesia) - - Arts & Craft - Photography TEKS DARREN HO + AMELIA NURTIARA FOTO BERBAGAI SUMBER

FOTOGRAFI sering dianggap sebagai sepupu miskin dari lukisan, karena berkat penyebaran teknologi dan kenyamanan saat ini memudahkan akses fotografi dimana saja dan kapan saja. Namun, meminta fotografer profesional untuk mengambil gambar dengan sempurna itu membuatnya lebih frustasi dibanding melukis. Salah satu contohnya adalah foto Alan Mcfadyen tentang seekor burung kingfisher yang menyelam ke dalam air namun tanpa setetes pun riakan dan percikan air. Butuh waktu enam tahun, 4.200 jam kerja dan 720.000 kali foto untuk mendapatkan hasil sebagus itu. Sebagai perbandingan, Michaelango membutuhkan empat tahun untuk membuat langit-langit kapel Sistine. Steve Mccurry juga sama seperti Mcfadyen, bukan hal aneh bagi mereka menghabiskan berjam-jam untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus.

Magnum fotografer mempelajari manfaat dan kekuatan menunggu, terutama yang berhubungan dengan foto. Ia pernah berfilosofi, “jika Anda sedang menunggu, lupakanlah kamera dan biarkanlah jiwa Anda yang akan melihat pemandangannya,”. Namun kini dalam era di mana foto candid sering lakukan dan tagar #ootd di Instagram, ide menunggu menjadi konsep aneh bagi fotografer pemula dan audiens.

Mccurry sendiri telah lama bekerja dengan National Geographic, alasannya karena ia melihat mereka memiliki ketertarikan yang sama: mengenai budaya yang hilang dan cara hidup. Namun, baru-baru ini ia bekerja untuk berbagai proyek independen, beberapa di antaranya dilakukannya sendiri maupun bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. Yang terbaru adalah tur 12 kota di beberapa negara, yang bekerja sama dengan Richemont- subsidiaries perusahaan jam tangan Swiss Vacheron Constantin.

Pertama kali diumumkan pada bulan Januari, proyek ini memberi keleluasaan pada Mccurry untuk memilih 11 lokasi di seluruh dunia berdasarkan signifikansi dan keunikan masing-masing. Yang pertama dipilih adalah perusahaan manufaktur di Jenewa. Bulan ini, Vacheron Constantin dan Mccurry menampilkan sebagian dari pamerannya. Termasuk di antaranya Aqueduct of Padre Tembleque di Meksiko yang sudah berusia lima abad lebih, Chand Baori Stepwell di India, Leshan Giant Buddha dari provinsi Sichuan China setinggi 71 meter, yang sudah berdiri selama 1.300 tahun di Grand Central Station New York dan Onsen di Tsurunoyu. Fotonya begitu menggugah dan tampaknya terinspirasi oleh perjalanan waktu. Karya yang dibuat oleh manusia dengan signifikansi kultural maupun sosial.

“Tempat ini mengingatkan saya dengan artist Maurits Cornelis Escher, di mana karyanya selalu bermain dengan garis dan menciptakan ilusi optik. Di sana, kami bertemu wanita India yang sepertinya menghilang di tengah luasnya monumen. Ini tangga paling menakjubkan yang pernah saya lihat. Arsitek bekerja ajaib dalam menciptakan sebuah karya indah.”

The Aqueduct of Padre Tembleque adalah lambang dari penggabungan Mesoamerika dan teknik konstruksi Eropa, dan masih berfungsi sampai sekarang untuk memberikan sumber daya air di gurun Meksiko ke beberapa kota. The Chand Baori, berusia lebih dari seribu tahun, merupakan daerah tangkapan air besar yang dirancang untuk menyediakan air di wilayah gersang Rajasthan. Namun, jika Anda berusaha lebih keras lagi, udara terasa semakin dingin, mengumpulkan orang-orang di masa lalu pada satu tempat. Sejak saat itu Raja Chand menugaskan, ada juga area yang didedikasikan untuk keluarga kerajaan dan diperbolehkan bagi masyarakat umum untuk melihat keluarga kerajaan. Apakah itu budaya, arsitektur atau ikon struktural, lokasi ini menjadi tempat berkumpulnya sumber daya, menjaga iman dan menambah pengalaman.

Cerita tak berujung ini menambah ide tentang apa yang dilakukan Mccurry untuk proyek ini, proyek pribadi dibanding komersil. Ada sedikit bukti dari luar negeri tentang koleksi foto, selain dari asosiasi yang jelas dengan nama jam tangan dan pekerjaan yang dilakukan. Foto ini akan diperlihatkan pada pameran pembuatan jam tangan dari perusahaan di luar Geneva, setelah itu akan pindah ke lokasi utama di seluruh dunia. Mccurry dikelilingi oleh pengalaman, namun ia tidak menganggapnya tantangan. Bahkan, ia mengatakan bahwa penembakan di Afghanistan itu yang tersulit. “Saya harus berjalan kaki ke seluruh negeri. Butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk berjalan naik turun gunung, apalagi saat musim dingin. Kami tidak memiliki baju hangat. Itu melelahkan secara fisik.” Kami ingin mencari tahu di mana enam titik berikutnya, namun untuk saat ini, Anda bisa menghargai karya-karya luar biasa yang telah dibuat oleh Mccurry.

“Ini adalah salah satu lokasi yang menginspirasi perjalanan fotografi saya. Sesampainya di sana, turun salju selama tiga hari. Semua tertutup oleh lapisan putih, seperti dalam mimpi. Menarik, bisa melihat kontrasnya antara dinginnya salju dan rasa hangat yang didapat ketika mandi.”

Anime Festival Asia Indonesia 2016 (AFAID 2016) adalah AFA kelima yang diselenggarakan di Indonesia. Kegiatan AFA meliputi konser, cosplay, seminar, konvensi, pemutaran film dan bazaar. Serta kehadiran bintang tamu dan artis Jepang. Ada pula Moe Moe Kyun Maid Cafe dan Atelier Royale Butler Cafe. Informasi selengkapnya cek website http://animefestival.asia/afaid16/

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.