A Ne w Met h o d

Untuk terus maju di dalam dunia fashion, Gucci yakin bahwa caranya adalah dengan melibatkan diri

Augustman (Indonesia) - - Behind The Seams - TEKS DARREN HO + MAXIMILLIAN SAMUEL PUJI FOTO DOK. GUCCI

FASHION bisa menjadi seperti seorang kawan yang plinplan, terutama pada hari-hari dimana terdapat format bisnis yang mengganggu. Sementara beberapa label fashion memperdebatkan mengenai pergerakan menuju platform netral-gender, tanpa adanya pembedaan antara menswear dengan womenswear, yang lain tetap teguh mempertahankan tradisi industri.

Sebagian meyakini terdapat sebuah solusi tunggal, pengobat segala yang akan menetapkan arah industri yang akan menjadikan bisnis fashion terus berkembang. Yang lainnya, seperti Gucci, terus berjuang dengan filosofi “menguasai segalanya’, menciptakan engagement dengan setiap pelanggan lama, baru, dan yang akan datang dengan berkecimpung di berbagai platform.

Tahun lalu, setelah mengadakan pameran “no longer/ not yet” di Shanghai, Alessandro Michele mempertunjukkan berbagai usaha kolaboratif pada visual platform sosial media Instagram. #Guccigram mendorong para seniman untuk mengembangkan dua lini produk kunci yang ditampilkan musim semi ini, Caleido dan Blooms. Hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk menghidupkan kembali daya tarik monogram klasik dengan menumpuknya menggunakan desain-desain baru. Popularitas kampanye Instagram menunjukkan betapa baiknya multi platform bekerja. Baru-baru ini, Petra Collins menggunakan Snapchat untuk membangun engagement dengan konsumen muda dengan lini produk tersebut sekaligus memberikan sekilas gambaran mengenai koleksi autumn 2016.

Kini Gucci menerbitkan coffetable book dengan hardcover berjudul Epiphany, diciptakan oleh fotografer Ari Marcopoulos untuk koleksi pre fall. Tersedia di New York Dover Street Market, peluncuran secara resmi buku ini disesuaikan dengan Freize art fair dan juga open house Dover Street Market, dimana Gucci memiliki space permanen. Michele sendiri berada di sana saat acara berlangsung untuk menandatangani buku tersebut.

Diterbitkan oleh Idea Books sejumlah terbatas 1000 copy, buku ini akan terdapat secara eksklusif di outlet-outlet di New York sebelum tersedia di Pitti Uomo dan kemudian Gucci Museo di Florence. Foto-fotonya diambil saat pemotretan di Milan, menampilkan image hitam-putih dan berwarna dalam tiga bagian. Tigabelas gambar dipilih sebagai cover sehingga Anda tidak akan tahu yang mana yang akan Anda dapatkan.

Marcopoulos menjelaskan ia memerlukan waktu tujuh hari untuk memotret koleksi Alessandro. “Sejalan dengan berlalunya hari-hari, sekeliling saya membuat saya merasakan sama seperti ketika kejayaan Roma di masa lalu, masa kini dan masa depan.”

Desain style Michele yang androgini, melintasi batasan stereotip gender dan style hanyalah salah satu aspek bagaimana Gucci mengubah caranya dalam berbisnis. Dalam area komunikasi, juga terdapat keragaman dalam berhubungan dengan audience. Buku Marcopoulos dan space Gucci di Dover Street Market adalah bagaimana brand ini menguasai pasar sementara terus bereksperimen di platform online, berkecimpung di segala space adalah caranya untuk terus maju.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.