CHEF Maya Aldy

Born to Make You Happy

Augustman (Indonesia) - - Report - STYLED & DIRECTED ZICO HALIM FOTOGRAFER I.G. RADITYA BRAMANTYA MAKE UP ARTIST SHABURA LOKASI OTEL LOBBY, JAKARTA

BERADA DI DALAM INDUSTRI YANG DIDOMINASI PRIA tidak membuatnya kehilangan passion- nya dalam dunia kuliner. Ia juga menganggap skill- nya ini sebagai gift sekaligus hasil dari kerja kerasnya.

“Kamu boleh loh tanya-tanya sambil saya difoto,” ucapnya saat saya menjumpainya di lokasi pemotretan sore itu. Maya Aldy, seorang chef wanita yang membuka usaha berupa sebuah restoran di bilangan Kuningan bersama seorang mitra. Ia mengatakan bahwa ia harus segera pergi seusai photoshoot. “Saya harus menghadiri sebuah wedding. Flight saya jam sepuluh malam sih, tapi saya perlu pulang ke rumah untuk packing dan bersiap-siap.” Dan pemotretan pun terus berjalan hingga selesai tanpa sempat saya menanyakan satu pertanyaan. Beruntung Chef Maya masih memiliki waktu untuk kami berbincang-bincang setelah ia selesai berganti pakaian, sesaat sebelum ia tergesa pergi meninggalkan Otel Lobby, restoran yang ia kelola dan sekaligus lokasi berlangsungnya photoshoot.

Blus berbahan satin,

Atasan dengan motif floral dan rok,

Carven

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore dan lampu-lampu berbentuk anak anjing dan burung hantu mulai dinyalakan. Mengenakan celana jeans dan blouse santai, masih dengan make-up lengkap yang belum dihapus, ia datang menghampiri. Terlihat raut lelah di wajahnya yang menghilang saat ia mulai bersemangat bercerita mengenai dirinya. “Saya memiliki passion di dalam dunia kuliner sejak kecil, sejak saya berusia lima tahun. Ketika itu saya merasa senang berada di dalam dapur bersama nenek saya, saya juga ikut berbelanja. Dan saya kemudian memutuskan untuk secara serius terjun ke dalamnya ketika saya bersekolah di high school.” Dan ia pun melanjutkan kisah mengenai karier dan kehidupannya.

“Saya adalah morning person. Saya memulai aktivitas saya sejak pagi. Saya bangun pukul 5.30, get my coffee dan shakes kemudian pergi ke gym. Setelah bersiap-siap, kemudian saya menuju ke restoran untuk berinteraksi dengan para staf dan juga kitchen. Setelah itu I deal with daily things di sini. Personally, saya senang menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Saat leisure time, saya suka travelling. Saya cukup beruntung memiliki banyak teman dari berbagai belahan dunia sehingga saya dapat menjumpai mereka ketika saya sedang bepergian. Saat di Jakarta, biasanya justru teman-teman saya yang datang berkumpul di Otel Lobby, sehingga saya tidak perlu pergi mengunjungi mereka atau berjumpa di lain tempat.”

“Jika Anda berpikir bahwa memang sudah biasa jika wanita itu berada di dapur, barangkali kini telah ada sedikit pergeseran mengenai hal itu. Wanita saat ini banyak yang telah meninggalkan dapur, mereka mengejar karier. Dan ketika ada seorang wanita yang masih berada di dalam dapur secara profesional, people will look up. Well, it is not easy to work in the male dominated industry. Saat ini orang tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa dapur itu memang tempatnya wanita. Ya, karena dapur profesional bisa dibilang dunianya pria sementara dapur rumah-tangga bukanlah sepenuhnya tanggungjawan wanita. Saya sendiri mengakui bahwa keahlian saya dalam memasak ini adalah both, earned dan gifted. I am gifted to know why I want to do dan I like to do it. Saya juga earned it karena I work hard for it sejak saya masuk ke sekolah kuliner di New York.”

Celine Dior

dengan bahan wool, Blus berbahan satin,

Atasan beraksen

SEPTEMBER Blaz 2e 0r1, - Ash Uirgtu dsatn Mroakn,

C

Blus bahan satin aksen

“Banyak hal yang mengesankan dan memorable di sepanjang karier saya. One thing that is nice to be written adalah ketika saya bekerja di New York dan saya bersama-sama dengan yang lain, tergabung dalam sebuah team, diundang untuk memasak untuk sebuah event yang melibatkan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dan George W. Bush. I was very honored to be included in the team, pengalaman itu adalah salah satu highlight dalam karier memasak saya. Saat saya kembali ke Indonesia, saya juga pernah memasak untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. I haven’t cooked for Presiden Joko Widodo, atau Basuki Tjahaja Purnama. I really hope one day saya bisa memasak untuk Basuki Tjahaja Purnama. Saya juga banyak bertemu dan memasak untuk beberapa orang-orang terkenal atau selebritis. Jika ditanya kira-kira mengapa mereka ingin merasakan masakan saya, barangkali karena repurtasi... I don’t know. Mungkin mereka mendengar mengenai masakan saya atau pernah mencicipi hidangan saya sebelumnya. Bagi saya tujuan saya adalah memasak dan membuat mereka senang, tidak peduli siapa mereka.”

“Meskipun lebih banyak hal menyenangkan yang saya alami. Namun saya juga pernah mengalami saat dimana saya merasa down. Working as a chef adalah sebuah pekerjaan yang sangat time consuming. Sangat berbeda dari pekerjaan 9 to 5. Anda akan memiliki kehidupan yang berbeda dari kehidupan orang-orang pada umumnya. You cannot date with someone who works 9 to 5. Saat orang-orang bersiap untuk tidur, barangkali saya masih sibuk bekerja. Karena begitu Anda masuk ke dunia restoran atau memiliki sebuah restoran, seolah Anda menikah dengannya. You either lucky enough to findsomeone yang sangat understanding dan itu sangat sulit atau you findsomeone in the industry. Ya, the most challenging part of the career is to make it balance between your work and your personal life. Dan bagaimana saya mengatasinya, I call it fate.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.