T HE HERI TA GE

B R I NG B A CK Padang merupakan salah satu kota yang memiliki banyak variasi kuliner di Indonesia. Lewat restorannya, Marco Lim berusaha untuk menghadirkan kembali beberapa jenis makanan Padang yang sudah lama hilang

Augustman (Indonesia) - - Feature Men - TEKS ADHI TRIPUTRA FOTO WILLIE WILLIAM LOKASI MARCO PADANG, PACIFIC PLACE, JAKARTA

BERANGKAT DARI HOBI MEMASAK SEJAK KECIL, Marco Lim belajar banyak seputar dasar-dasar masakan Padang dari orang tuanya. Awalnya ia tidak berfikir untuk menggeluti bisnis restoran sampai pada akhirnya chef kelahirang Padang, Sumatra Barat ini mendapat tawaran dari rekannya untuk membuat restoran Padang dengan konsep modern yang di beri nama Marco Padang Pranakan. Selain sibuk mengembangkan menu makanan di Marco Padang, chef yang pernah menjadi guest judge di Junior Masterchef Indonesia 2 ini juga sempat diundang untuk melakukan culinary diplomacy khususnya untuk masakan Padang ke beberapa negara, dan beberapa bulan yang lalu ia baru saja kembali dari Madrid.

Seperti apa culinarydiplomacy di Madrid saat itu?

Saya diundang KBRI Madrid untuk mempromosikan makanan Padang di sana. Bentuk acaranya adalah gala dinner, saya menyiapkan makanan untuk 200 orang dalam konsep fine dinning sendiri dan dibantu oleh asisten saya. Ada 7 masakan yang saya persiapkan, diantaranya adalah Rendang, Nasi Sayo, Soto Padang, Gulai Kambing, Sate Padang, Gado-gado, cendol kulit hitam dan juga canape Quesadillas, tapi saya isi dengan rendang. Puji syukur semua suka dengan masakan saya.

Bagaimana awal mulanya Anda serius dengan masakan Padang?

Sejak kecil saya sudah diajarkan masak masakan Padang oleh orang tua dan nenek saya, di Padang setiap kali ada acara pesta pernikahan atau acara keluarga lainnya, kita pasti masak sendiri, semua kita olah secara tradisional. Dari situ saya kurang lebih mengerti dasar-dasar bumbu masakan Padang. Saya memang suka makanan Padang, banyak bumbu yang diracik memberikan tantangan tersendiri buat saya. Sampai pada akhirnya saya diajak untuk bekerjasama membuat restoran Marco Padang, saya pun semakin serius mendalami masakan Padang hingga saat ini. Saya belajar membuat rendang dengan orang tua saya selama delapan bulan. Saya pulang pergi Jakarta-padang dan mencoba semua jenis rendang dari teman-teman saya di Bukit Tinggi, Pariaman, Solok dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat. Rasanya berbeda-beda, tapi bumbunya tetap sama. Hingga saat ini saya juga masih sering ke Padang untuk develop menu makanan di Marco Padang dan membawa kembali makanan Padang khas rumahan yang sudah hilang, seperti Pete Kacamata yang kini sudah tidak ada di rumah makan Padang lainnya.

Mengapa restoran Anda saat ini memiliki konsep yang berbeda dengan restoran Padang lainnya?

Sebenarnya kami ingin menjangkau target market yang lebih besar lagi. Dengan konsep restoran padang yang di sajikan per pesanan, restoran kami berbeda dengan restoran Padang lainnya yang menyajikan langsung semua hidangannya saat customer datang. Tujuannya adalah untuk menjaga kehigiensian masakan dan memberikan kualitas masakan yang selalu fresh. Kami juga mengutamakan keaslian citarasa masakan Padang dengan mendatangkan langsung bumbu dan cabe dari Padang, serta beras saya bawa langsung dari Solok. Struktur beras Solok sangat khas, kalau di Jawa berasnya pulen dan lengket, jika dicampur kuah gulai tidak menyatu. Tapi kalau beras Solok teksturnya seperti pera tapi lembut.

Menurut Anda masakan Padang itu seperti?

Makanan padang itu termasuk kedalam masakan cepat saji yang kaya akan bumbu. Aromanya dapat menambah selera dan dapat menarik perhatian. Masakan Padang sebenarnya sangat mudah diterima siapa saja, termasung orang barat. Tapi yang paling diminati adalah Rendang, soalnya dia hampir sama dengan Steak, tapi kita punya tekstur dan bumbu yang lebih banyak. Masakan Padang sebenarnya tidak ada yang sulit, tapi preparation nya saja yang membutuhkan waktu lama, serta timing nya harus tepat dalam meracik bumbu, itu yang menjadi tantangan dalam memasak makanan Padang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.