TA S T E

P R E C I OUS Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia di mancanegara, salah satunya adalah culinary diplomacy, seperti yang dilakukan Yuda Bustara

Augustman (Indonesia) - - Feature Men - TEKS ADHI TRIPUTRA FOTO WILLIE WILLIAM

BRAND AMBASSADOR dari brand minuman kemasan dan makanan kesehatan ini cukup concern terhadap makanan sehat. Baik itu makanan Indonesia, maupun western. Ia memiliki misi untuk mengedukasi masyarakat Indonesia dalam membuat makanan yang simpel dan juga sehat. Selain itu, chef muda lulusan Taylor’s College dan Universite Le Mirail School of Hospitality & Tourism, Malaysia, ini di tengah kesibukkannya sebagai seorang private chef, ia juga beberapa kali diundang untuk melakukan culinary diplomacy ke beberapa negara dan memperkenalkan makanan Indonesia di luar negeri.

Bisa diceritakan seputar pengalaman Anda dalam melakukan culinary diplomacy?

Saya sering diundang keluar negri untuk masak makanan Indonesia di sana. Saya dan tim saya bekerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan masakan Indonesia ke beberapa negara Eropa. Waktu di Stockholm saya sempat masak Rawon dan juga Nasi Goreng, mereka suka. Mungkin karena rasa rempah-rempahnya yang kuat. Soalnya masakan Eropa rasanya cenderung plain, nampaknya makanan dengan bahan rempah-rempah cukup digemari di sana.

Untuk memperkenalkan makanan Indonesia di luar negri apakah perlu merubah rasa?

Sebaiknya tidak, soalnya dikhawatirkan hal itu membuat makanan tersebut tidak otentik, sebaiknya apa adanya. Biarkan mereka menilai makanan tersebut enak atau tidak. Mungkin takaran gula atau tingkat kepedasaannya saja yang di atur.

Seberapa sulit membuat masakan Indonesia di luar negri?

Cukup sulit! Tapi itulah tantangannya, kalo saya melakukkan culinary diplomacy di luar negri saya harus dibantu dengan pemerintah Indonesia di negara tersebut atau membawa semua bahan makanan sendiri dari Indonesia. Jadi memang persiapannya panjang. Terkadang kita sudah mempersiapkan bahan makanan dengan lengkap satu bulan sebelumnya, tapi setelah sampai di imigrasi ternyata tidak mendapatkan izin. Biasanya kalau seperti itu mau tidak mau harus menggunakan bahan yang sudah ada di sana. Biasanya kita menggunakan bahan pengganti dari Thailand, seperti santan, kluwek dan sebagainya. Tapi di negara Eropa bumbu-bumbu Indonesia sebenarnya sudah cukup mudah diperoleh.

Bagaimana cara membuat makanan Indonesia yang sehat?

Sebenarnya masakan Indonesia juga bisa menggunakan bahan-bahan pengganti yang lebih sehat, seperti santan pada Opor Ayam bisa di ganti dengan susu lowfat. Tapi pada dasarnya semua makanan Indonesia sudah cukup sehat, namun takaran porsinyalah yang sering kali salah, kadang terlalu banyak, kadang terlalu sedikit. Misalnya makan siang dengan Soto Ayam, mungkin ayamnnya hanya sedikit tapi bisa dihidangkan dengan tahu dan tempe sehingga proteinnya cukup. Lebih kepada takaran porsi dan kombinasi makanan yang tepat saja.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang privatechef?

Menurut saya seorang private chef harus mampu beradaptasi dengan kitchen yang baru, soalnya kita bekerja selalu berpindah-pindah. Pastinya kita butuh tim, karena akan sulit mempersiapkan makanan dalam prosi yang banyak. Sebenarnya hampir sama dengan chef di restoran, tapi kita harus lebih fleksibel dengan menu yang diminta client dan tentunya harus lebih kreatif. Untuk menu sepenuhnya kita serahkan kepada client, tapi kita boleh mengajukan pilihan menu, namun client bebas untuk menyesuaikan keinginan mereka, seperti menu vegetarian ataupun menu tanpa garlic. Private chef juga harus punya production kitchen untuk mengantisipasi semua kemungkinan yang terjadi. Dulu saya pernah bekerja di dapur client yang sebenarnya tidak layak, tapi saya harus menghasilkan makanan yang berkualitas. Jadi sebelumnya saya sudah persiapkan di production kitchen sebelum diantar ke tempat client.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.