HOMEL A ND

R E T UR N TO Menurut Haryo Pramoe, Indonesia merupakan surga organik dan memiliki kekayaan kuliner yang sangat luar biasa

Augustman (Indonesia) - - Feature Men - TEKS ADHI TRIPUTRA FOTO WILLIE WILLIAM LOKASI KARGO SEGO, JAKARTA

HARYO PRAMOE pernah bekerja di Indrapura, sebuah restoran Indonesia di Amsterdam, menjadi Assistant Executive Chef Tapas El Nino, hingga sukses menjadi Kitchen Supervisor di Hilton Schiphol Amsterdam yang pernah mengadakan Asian Food Festival. Di Amerika, Haryo sempat menjadi Development Manager di Registry Resort Florida. Prestasinya semakin baik ketika ia berhasil memecahkan rekor best selling ribs di Hotel Hyatt Colorado. Namun karena kecintaannya terhadap Indonesia dan ingin berkontribusi bagi tanah kelahirannya, chef Haryo akhirnya memilih kembali ke tanah air untuk memulai bisnis dan mengembangkan proyek Indonesian Food Channel yang sudah ia patenkan.

Kenapa Anda sangat concern terhadap makanan Indonesia?

Karena saya orang Indonesia, saya cinta Indonesia, saya senang dengan hasil organiknya. Indonesia juga memiliki banyak variasi makanan yang tidak akan habis untuk dieksplor, karena dari makanan yang usianya tua saja sudah sangat banyak sekali, belum lagi bicara soal kreasi. Makanan Indonesia itu merupakan perjalanan kebudayaan, kalau bicara soal original, itu hanya soal geopolitik, makanan tidak mempunyai “rumah”, contohnya ada Gabus Pucung, yaitu ikan gabus berbumbu kluwek, di Surabaya ada Rawon, daging sapi yang juga menggunakan bumbu kluwek, atau Toraja, di sana ada juga masakan dengan bahan dasar bumbu kluwek tapi menggunakan daging babi, selain itu soto dengan bergam variasinya, itulah perjalanan kebudayaan yang menjadikan Indonesia kaya dengan masakannya.

Hal apa yang menyebabkan masakan Indonesia kurang dikenal di luar negri?

Masakan indonesia sebenarnya tidak sulit untuk diterima di luar negri, namun kurang seriusnya kampanye visual untuk mempromosikan makanan Indonesia dan minimnya dukungan dari anak muda lah yang menyebabkan makanan Indonesia kurang dikenal di luar negri. Masyarakat di luar negri sudah lama sadar visual. Contohnya, mengapa burger cukup populer di Indonesia? Anda pasti tertarik dengan burger setelah melihat gambar-gambar menu nya yang menarik dan juga iklannya dimana-mana. Ketika pertamakali melihat keju, apa yang pertamakali terbayang oleh Anda? Pasti keju yang bentuknya berlubang, film Tom and Jerry juga sering menampilkan keju, sebenarnya mereka saat itu sedang melakukan kampanye kebudayaan lewat visual, kita baru menyadari hal itu. Orang barat juga memiliki kebiasaan untuk mencatat dan melakukan riset data, dimana kita bisa melihat foto sejarah kebudayaan masakan Indonesia? Justru di Tropen Museum, Belanda. Pantas saja mereka bisa selangkah lebih maju dari kita.

Mengapa Indonesia memiliki citarasa makanan yang khas?

Makanan yang enak itu adalah makanan yang ada di garis katulistiwa. Soalnya bahan-bahan makanan yang tumbuh di garis katulistiwa, seperti cabe dan sayur-sayuran, rempah-rempah adalah yang organik. Artinya kalau cabe yah ngulek cabe atau memblander cabe, bukan menggunakan cabe bubuk. Lalu kenapa ada cabe bubuk, bawang bubuk dan rempah-rempah bubuk? Karena di beberapa negara hanya mengalami empat musim, Indonesia memiliki dua musim, musim hujan dan kemarau, apa yang kita buang di tanah itu akan tumbuh, itu mengapa saya suka Indonesia, surganya organik.

Boleh di ceritakan seputar Indonesian Food Channel?

Indonesian Food Channel merupakan cara saya untuk mempromosikan masakan Indonesia dengan cukup murah. Internet sudah menjadi second screen untuk masyarakat metropolitan dan masyarakat urban. Itu yang membuat saya tidak ingin membuat buku, karena sudah banyak chef yang menjadi penulis. Kalo memulai kampanye dengan visual, itu luar biasa. Karena dengan visual saja kita bisa menilai makanan itu enak atau tidak enak. Kenapa iklan makanan cukup mahal dalam produksinya? Karena iklan makanan harus dibuat indah secara visual. Harapan saya kedepannya Indonesian Food Channel akan menjadi televisi kuliner yang membahas seputar makanan dan bercerita tentang keunikan serta kearifan lokal Indonesia. Dengan presenter berbahasa daerah, serta menggunakan subtitle agar bisa di terima secara global, sehingga memberikan ketertarikan kepada penonton untuk mengenal daerah tersebut dan ingin mencicipi langsung di daerah asalnya, jadi kita juga menjual kearifan lokal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.