Beyond

Olahraga otomotif yang didominasi kaum pria justru menjadi motivasi bagi Alinka Hardianti untuk terus berprestasi

Augustman (Indonesia) - - Character Woman - TEKS ADHI TRIPUTRA FOTO DOK. PRIBADI

MELIHAT PARASNYA YANG MANIS, barangkali akan membuat sebagian orang tidak percaya jika pembalap muda yang akrab disapa Inka ini memiliki banyak prestasi membanggakan. Tahun ini saja sudah belasan penghargaan yang ia menangkan dari berbagai kategori balap mobil yang diikutinya, mulai dari juara 2 class G5.1 FFA (2 cylinder) Indonesia extreme Offroad Racing round 2, juara 1 women class Indonesia extreme Offroad Racing round 2, juara 1 women class, Slalom National Championship round 1, 2, 3 dan 4, serta masih banyak lagi, totalnya mencapai ratusan piala. Melihat hal tersebut, pantas saja wanita kelahiran Jakarta, 21 Juni 1992 ini dijuliki sebagai “Srikandi Balap Indonesia”.

Mengapa Anda memilih untuk berkarir sebagai seorang pembalap?

Awalnya saya tidak terlalu berambisi untuk berkarir di dunia balap. Saya terjun ke dalam dunia balap untuk pertama kali itu pada tahun 2005, beberapa prestasi juga sudah saya raih saat itu, namun saya masih melalui jalur perorangan. Setelah itu tahun 2008 saya akhirnya bergabung dengan tim pabrikan, yaitu Toyota Team Indonesia ( TTI). Tim tersebut sangat profesional, mulai dari sistem perekrutannya hingga manajemen tim itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, serta semakin banyak prestasi dan juga jam terbang, akhirnya saya memilih untuk menjadikan dunia balap sebagai karir profesional saya.

Bagaimanakah perasaan Anda menggeluti dunia balap? Seperti yang kita ketahui, lebih banyak pria yang terjun di cabang olahraga ini

Sebenarnya tidak ada bedanya, saingan saya memang lebih banyak pria, tapi hal itu justru membuat saya semakin bersemangat. Tapi tidak bisa dipungkiri banyak pria yang meremehkan kemampuan saya, namun saya jadikan itu semua sebagai pelajaran dan motivasi untuk bisa lebih berprestasi lagi. Menurut saya, jarang ada perempuan yang menjadi seorang pembalap, apalagi berkarir sebagai pembalap. Saya ingin membuktikan bahwa di Indonesia wanita juga bisa berkarir menjadi seorang pembalap, walaupun tidak semudah di luar negri.

Hingga saat ini kategori balap apa sajakah yang pernah Anda geluti?

Saya memulainya dengan kategori slalom pada tahun 2005, kebetulan Ayah saya dan kakak sepupu memang sudah senior di kategori slalom, jadi saya dapat ilmu lebih banyak dari mereka. Antara tahun 2009 -2010, saya mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi di kategori drifting, walaupun saat itu masih ikut kelas yang pemula. Pada tahun 2011 akhirnya saya mendapatkan kesempatan balap drifting di kelas yang lebih bergengsi. Tahun 2013 saya dapat tawaran untuk belajar dan juga balap mobil touring di Sentul dengan salah satu pembalap senior, Indra Saksono. Dan kategori balap mobil yang terakhir itu di tahun 2015 kemarin, lagi-lagi karena mendapatkan kesempatan bisa balap dan belajar bersama senior, yaitu juara Nasional Speed Offroad, H. Rio Teguh.

Menurut pandangan Anda, seperti apakah dunia balap Tanah Air saat ini?

Masih sangat memprihatinkan. Kurangnya peran pemerintah dalam menyediakan sarana latihan, seperti sirkuit balap yang memadai, serta tidak adanya pembinaan bagi pembalap muda, menjadi kendala buat kemajuan dunia balap di Indonesia. Lebih banyak peran swasta bahkan peran pengusaha perseorangan yang memberi support pembalap ataupun event balap di Indonesia. Brand-brand di Indonesia sendiri cenderung masih sedikit yang melirik dan mau memberi support pembalap ataupun event- nya.

Apakah yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang pembalap?

Untuk pemula, yang pertama harus siapkan adalah modal pribadi. Modal untuk membangun mobil, keperluan administrasi, dan sebagainya sebelum memutuskan untuk terjun ke arena balap. Lalu banyak berlatih dan bersosialisasi dengan pembalap lain, juga para senior, untuk bertukar ilmu dan informasi. Persiapkan fisik dan juga mental, lalu perbanyak prestasi sebagai modal mencari sponsor.

Apakah nilai positif yang Anda pelajari selama menjadi seorang pembalap?

Banyak sekali! Menjadi pembalap itu melatih kita untuk lebih disiplin. Dari dunia balap, saya juga jadi mengenal berbagai sifat dan karakter orang, serta cara menghadapi orang-orang tersebut. Saya juga banyak belajar mengenai team management dan team marketing, tentunya itu sangat berguna untuk saya di kemudian hari.

Dari sekian banyak jenis mobil yang Anda kendarai, sebenarnya apakah mobil impian Anda?

Saya suka sekali dengan Subaru Impreza WRX STI. Sesungguhnya dari dulu saya ingin mencoba kategori balap rally, namun hingga saat ini belum ada kesempatan.

Apakah rencana Anda dalam waktu dekat?

Saya masih mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan nasional slalom, speed offroad dan drifting, serta beberapa kejuaraan di luar negeri. Selain itu, saya juga berencana untuk melanjutkan pendidikan S2 saya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.