S

Augustman (Indonesia) - - Akhad I ‘ Kaka’ Wira S Atriaji -

aya tiba di Turkuaz, sebuah restoran hidangan Turki di Jalan Gunawarman beberapa menit setelah pukul duabelas siang. Saat itu lalulintas cukup padat karena turun hujan. Suasana restoran tersebut masih ramai karena jam makan siang. Sengaja saya datang lebih awal karena saya ingin menunjukkan beberapa bagian restoran yang telah direnovasi kepada stylist dan juga photographer yang akan menangani pemotretan.h ujan telah reda, menyisakan suasana basah dan sejuk menjelang pukul dua sore, saya masih menanti kedatangan Akhadi Wira Satriaji yang lebih populer dengan nama Kaka, sang vokalis band rock-blues fenomenal, Slank. Tidak lama kemudian Kaka tiba didampingi istrinya. Seorang idola yang saya kagumi dan telah “mendampingi” saya tumbuh dewasa.

“Hello, selamat sore,” sapanya ramah kepada semua orang yang ada. Ia ternyata adalah seorang yang tepat waktu dan juga penuh persiapan. Terbukti ia membawa sejumlah pakaian untuk keperluan pengambilan gambar meskipun kami telah menyiapkan sejumlah outfit untuk ia kenakan. Ia datang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans, serta topi berwarna hitam bertuliskan “I LOVEH IU.” Masih di dalam sepuluh menit kami berbincang-bincang santai di sela-sela persiapannya, Kaka telah memberikan kejutankejutan. “Saya tidak merokok. Saya juga tidak minum minuman beralkohol. Sudah dua tahun saya berhenti merokok. Awalnya saya berhenti merokok demi anak. Anak perempuan saya yang paling kecil memiliki alergi terhadap rokok. Meskipun saya merokok di luar rumah, namun pasti ada asap yang menempel di baju dan badan, itu tetap membuat anak saya alergi. Mengenai berhenti mengonsumsi alkohol, itu karena tengsin. Selalu ada hal-hal konyol yang saya lakukan ketika berada di bawah pengaruh alkohol. Anak laki-laki saya juga sudah duduk di bangku SMP, ia semakin dewasa dan saya ingin ia tumbuh dengan baik.”

“Mengenai kesibukan yang sedang saya lakukan saat ini, saya bersama Slank sedang mempersiapkan album kami yang ke-22 yang rencananya akan kami rilis pada bulan Februari 2017 nanti. Sesungguhnya saya ketika masih kecil memiliki banyak cita-cita. Saya ingin menjadi seorang pemain sepak bola, binaragawan, dan banyak yang lain yang saya cita-citakan. Ketika saya bersekolah di kelas 5 hingga 6 SD, saya juga memiliki keinginan untuk bergabung di dalam sebuah band musik. Barangkali karena terdapat darah seniman yang mengalir di dalam keluargaku, maka akhirnya saya bergabung dengan sebuah band dan bermusik. Saat SMP saya sempat drop out dan keberuntungan berada di pihak saya, saat itu Slank ditinggalkan oleh vokalisnya, sekitar tahun 1989 dan Bimo Setiawan Almachzumi atau Bimbim yang berperan sebagai drummer Slank mengajak saya untuk bergabung. Sejak saat itu hingga sekarang saya berada di dalamnya. Memang saya sebelumnya tidak pernah memimpikan untuk menjadi sebesar ini, bahkan saya tidak pernah membayangkan rekaman atau membuat album.”

“Saya bersyukur memiliki banyak pengalaman yang membuat saya belajar untuk menjadi lebih baik. Kalo ga salah setelah album ke-3, pada tahun 1993-an – biasa lah, seniman bereksperimen. Dalam pembuatan lagu, kami mencoba banyak hal, misalnya dengan melakukan aktivitas tertentu, dengan menggandeng artis lain, hingga pada akhirnya kami mencoba membuat lagu dengan mengonsumsi drugs. Kami berhasil menciptakan beberapa lagu, namun ternyata untuk keluar dari ketergantungan drugs sangatlah sulit. Drugs itu sangat jahat, begitu masuk ke dalamnya, sulit untuk menemukan jalan keluar. Eksperimen tersebut telah berubah menjadi addiction. Semua itu berlangsung hingga menjelang tahun 2000. Saya percaya di dalam hati kecil setiap junkies pasti terdapat harapan untuk dapat lepas dari ketergantungan drugs, hanya saja mereka tidak tahu bagaimana cara meminta tolong, tidak tahu kepada siapa meminta tolong, dan juga ketakutan-ketakutan lain yang membuatnya sulit untuk berusaha lepas.”

“Pada tahun 1996 nyokap (Bunda Iffet, ibu kandung dari Bimbim) mengajak untuk berobat namun gagal, kemudian ia mulai masuk ke dalam manajemen Slank agar secara perlahan mampu mengontrol dan dapat mengajak kami untuk berhenti menggunakan drugs. Bunda Iffet berhasil, selain itu ia juga hingga saat ini menangani manajemen Slank. Selain karena bantuan bunda, kami bisa keluar dari kecanduan drugs juga karena sebuah keinginan kuat. Saat itu kami sadar bahwa Slank sedang berada di suatu titik yang sangat mengkhawatirkan. Saya sendiri mencemaskan hal tersebut. Selain itu tahun 2000 hampir tiba, kami ingin agar pergantian tahun sekaligus pergantian milenium tersebut menjadi satu titik perubahan ke arah yang lebih baik. Dan kami melakukannya. Kami melakukannya demi Slank, demi keluarga kami.”

Kemudian saya berpikir mengenai sebuah album yang dirilis Slank setahun lalu. Sebuah album yang menurut saya senada dengan tema August Man Indonesia akhir tahun ini – perubahan. Judul album tersebut adalah Restart ati.h “Ya, album tahun 2015 adalah Restart ati.h Pada saat itu, barangkali hingga saat ini, kami melihat bahwa di dalam masyarakat terdapat banyak orang yang berteriak, berkoar-koar, merasa paling benar, lepas kendali.o rang-orang juga semakin mudah menghakimi orang lain, memberikan stigma kepada orang lain, tanpa sadar – tanpa pernah memikirkan mengenai diri sendiri. Mereka lupa untuk refleksi diri. Padahal berdiam diri kemudian bertanya kepada diri sendiri dalam sebuah perenungan – introsepaksi merupakan sebuah terapi yang sangat bagus demi pendewasaan diri. Seperti komputer yang mulai bermasalah ketika terlalu banyak program berjalan, yang diperlukan adalah restart sehingga komputer bisa berjalan dengan lebih baik saat dinyalakan kembali. Saya sendiri secara rutin melakukannya. Ketika saya merasa memiliki waktu luang maka saya akan menjalankan hobby saya, yaitu pergi ke laut untuk diving. Saya sudah menjalani hobby diving ini selama lima tahun. Saat diving hanya aka nada diri saya sendiri, tubuh saya, dan keheningan. Jika terdengar suara, itu hanya bubble saja. Saya terlepas dari kebisingan – saat berada di panggung untuk menyanyi, di studio, atau di jalanan saat mengantar anak bersekolah, semua yang membuat telinga saya pekak. Menyendiri saat diving mampu membuat pikiran dan jiwa saya segar kembali, saya juga memanfaatkan kesendirian dan keheningan tersebut untuk refleksi diri.”

“Di dalam album yang akan datang, akan terdapat lagu-lagu berirama cepat. Saya sangat menikmati semua proses yang saya lakukan di dalam penggarapan album ini. Saya akan memberikan bocoran sedikit. Sebuah lagu yang rencananya akan diberi judul Kepala Lu Peyang, akan terdapat di dalam album tersebut. Sebuah lagu berirama mid-tempo yang bercerita mengenai sebuah generasi yang ada di masa kini, bukan generasi yang positif karena mereka menggunakan media sosial dan Internet dengan tidak baik. Mereka merasa pintar, merasa bisa menjadi guru atau bahkan menjadi pemimpin bagi yang lain karena mereka merasa yang paling tahu padahal informasi yang mereka dapatkan tidak benar. Teknologi memang diciptakan untuk membantu kehidupan manusia namun orang harus mampu menggunakannya secara proporsional, jika tidak maka jadinya akan norak. Ide pembuatan lagu biasana kami dapatkan dari pengalaman hidup sehari-hari. Tradisi kami adala mengeluarkan album baru pada awal atau akhir tahun, dan pada bulanbulan selanjutnya yang kami lakukan adalah promosi sekaligus mengumpulkan ide untuk menyusun album berikutnya.”

“Hingga saat ini saya masih menganggap pekerjaan saya ini sebagai sebuah hobby sehingga saya senang melakukannya dan menikmatinya. Meskipun demikian jika ada orang berpandangan bahwa kehidupan saya sangat menyenangkan – hanya menyanyi dapat duit, itu tidak benar. Setelah menjalani kehidupan saya bersama Slank, saya menyadari bahwa untuk dapat menyanyikan sebuah lagu merupakan hasil kerja keras yang dilakukan bersama sekaligus pribadi. Buruh kedisiplinan. Secara pribadi saya mempersiapkan diri agar tetap fit dengan cara rutin berolahraga, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.h al tersebut membuat stamina saya meningkat, tidur lebih nyenyak, badan terasa segar dan sehat, bahkan mood saya pun terpengharuh menjadi lebih positif. Kami memiliki banyak mimpi di dalam Slank. Satu per satu mimpi-mimpi tersebut kami wujudkan. Secara pribadi, saya beranganangan meninggalkan Jakarta dan menetap di Bali. Menikmati masa tua sebagai seorang petani.”

Givenchy. dan celana, Uniqlo. dan cincin kombinasi perak dan emas seluruhnya koleksi John Hardy.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.