The Magic of Hope

Berhenti total dari profesi sebagai pesulap yang telah membesarkan namanya untuk membangun sebuah yayasan non profit tentu bukan perihal mudah bagi Georges Hilaul

Augustman (Indonesia) - - Featu Re Man - Te ks Adhi Triputra Foto Willie William

Mungkin nyak yatidak bang mengenal pria kaki untuk berjalan, jarang dari mereka yang memilih berdarahindonesia-belanda ini. Jika kita untuk bersekolah, mereka justru mengumpulkan mencari namanya di search engine Google, kita akan plastik bekas dan sebagainya. Karena itu saya memilih diarahkan menuju profil seorang pesulap profesional, untuk memulai proyek ini di sini. lengkap dengan video atraksi di atas panggung; Sejak tahun 2012 saya sudah mengamati beberapa memotong-motong bagian tubuh seseorang di dalam daerah yang cukup memprihatinkan di kota ini, kotak dan menyambungkannya kembali hingga seperti Gambir, Kelapa Gading, Pluit, Roxi, Pondok membuat banyak orang begitu takjub. Benar, dia kkacang dan masih banyak lagi. Banyak keluarga lah Georgesh ilaul dengan profesi yang sudah yang tinggal di rumah triplek ataupun kardus dengan digelutinya selama 15 tahun. beratapkan seng, dekat dengan daerah pembuangan

Tapi saat ini kita hanya bisa menyaksikan sampah. Mereka tidak memiliki apa-apa, hanya ada kemahiran sulapnya di kanal Youtube dalam video matras dari plastik di dalamnya, saya sangat prihatin, yang sudah diunggah bertahun-tahun silam. Pasalnya lingkungan mereka tidak baik, banyak sekali penyakit Georges telah memilih hijrah ke Indonesia untuk yang dapat timbul karena lingkungan yang tidak mendirikan Yayasan Belajar Bersama Sjors.u ntuk bersih. Seperti air yang tercemar dan tidak higienis, sebuah lompatan besar itu, Ia memutuskan berhenti serta banyak infeksi yang disebabkan oleh kotoran secara total dari segala aktivitas profesionalnya, hewan, saya bersama Yayasan Belajar Bersama Sjors termasuk sebagai seorang pesulap. mencoba untuk mencari solusi untuk semua hal

tersebut.

Mengapa Anda memilih untuk mendirikan yayasan ini?

Saya ingin melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang dapat membuat saya bahagia. Saya lebih senang melihat anak - anak di Indonesia bahagia, dibandingkan saat saya harus berada di atas panggung untuk melakukazp di pemukiman kumuh. Hal ini sangat menyentuh saya, khususnya anak-anak kecil yang tentu saja masih memiliki banyak harapan dan masa depan yang lebih baik.

Lalu mengapa Indonesia?

Sebenarnya saya lahir dan dibesarkan di Belanda, Ibu saya Dutch tapi ayah saya Indonesia. Saya sudah sering ke Indonesia sejak umur saya 4 tahun untuk bertemu keluarga saya di Jakarta, jadi saya sangat kenal dengan budaya Indonesia, khususnya di Jakarta. Keadaan anak-anak dari keluarga misikin di sini cukup memprihatinkan, mereka tidak menggunakan alas

Apa keseharian Anda hanya disibukkan dengan kepentingan yayasan?

Setiap harinya saya bekerja untuk Yayasan ini, meeting dengan beberapa partner, donatur dan volunteer, pergi melihat anak-anak dan juga melihat kondisi kesehatan mereka, setiap akhir pekan saya juga melakukan kunjungan ke rumah-rumah di pemukiman kumuh untuk mendengarkan masalah mereka dan membawa dokter untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. Tapi saya juga selalu menyempatkan diri untuk ke gym, lari untuk menyegarkan pikiran saya dan memberikan tambahan energi, saya juga senang traveling, tapi belakangan ini saya cukup sibuk dengan Yayasan Belajar Bersama Sjors, saya hanya sempat melakukan perjalanan ke Belanda untuk mengunjungi keluarga.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.