Mass-industry. Passion Driven Adventures

Passion mengenai alam membuat saya terus mengejar petualanganpetualangan. Saya mengenal freediving dan spearfishing di Australia Barat dan menjadikannya karier saya. Memotret pemandangan bawah laut merupakan salah satu hal favorit saya. Saya menangkap sen

Augustman (Indonesia) - - Featu Re Man - Te ks Maximillian Samuel Puji Foto HUBERT HACISKI

“Pasionsaya dalam fishing dimulaisejak saya berusia muda ketika saya di Polandia bersama kakek. Ia seringkali mengajak saya memancing di sebuah danau menggunakan rod dan reel – saya akui saya merasa sangat bosan melakukannya.n amun fakta bahwa kami menangkap ikan untuk kami santap kemudian merupakan suatu hal yang luar biasa. Selalu diperlukan kerja keras untuk menangkap, membunuh, membersihkan, dan kemudian memasaknya. Hal tersebut membutuhkan keterampilan serta pengetahuan mengenai apa yang dilakukan atau apa yang akan dimasak – bagaimana agar hidangan yang diolah memiliki citarasa paling sempurna. Pada akhirnya seluruh upaya tersebut membuat hidangan yang tersaji terasa lebih nikmat karena seluruh prosedur yang dilakukan hingga hidangan tersebut tersaji.”

“Hal tersebut juga menginspirasi saya menjadi seorang chef. Makanan yang bagus serta prosedur bagaimana material mentah berubah menjadi sebuah hidangan di tangan saya, dimana orang-orang dapat menikmatinya dan saya menciptakan ikatan di antara orang-orang - makanan menghubungkan kita satu dengan yang lain, kita pergi keluar dan menikmati dinner untuk pada saat-saat istimewa, kita pergi berkencan sambil menyantap makanan karena makanan membuat kita gembira.”

Setelah belajar selama empat tahun di sebuah culinary school, H uberth aciski melamar apprenticeship di Karlheinzh ause Suellberg di Hamburg pada tahun 2009 dimana ia terlibat di dalam berbagai hal yang berhubungan dengan F&B, mulai dari bartender, waiter hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkarier sepenuhnya sebagai seorang chef. Setelah bekerja selama enam tahun, sejak ia berusia 14 tahun untuk menopang kehidupannya, ia mulai berpikir mengenai kehidupan di balik dinding dapur, apakah ia ingin tetap berada di dalam dapur atau sebaliknya.

Sebuah keputusan harus ditetapkan secepatnya. Ia dan seorang kawannya berhenti bekerja dan kemudian membeli tiket ke Melbourne, Australia. Hanya berbekal uang 500 dolar yang kemudian ia habiskan setengahnya untuk membayar hostel. Ia tidak ingin menjadi seorang chef namun situasi memaksanya untuk kembali ke dapur karena banyak tenaga chef dibutuhkan di Australia. Ia tidak hanya berada di Melbourne, perjalanan ia lanjutkan ke Sydney hingga Perth sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengerjakan private garden landscaping karena merasa gengsi untuk meminta bantuan demi uang 400 dolar yang ia perlukan untuk membeli tiket pesawat menuju Broome dimana ia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang chef di sebuah resort bernama Eco Beach.

“Pada hari kedatangan saya, saya melihat sebuah speargun terletak di dalam staffarea. Saya memegangnya dan kemudian Dominic Matsumoto – seorang tour guide Aborigin bertanya apakah saya pernah melakukan spearfishing. Saya jawab tidak dan kemudian saya kembali bertanya apakah ia bersedia menunjukkan cara menggunakannya. Dan ia mengiyakan. Setelah hari itu saya mulai menjelajah Youtube untuk melihat berbagai video mengenai spearfishing. Saya menonton video-video Kimi Werner dan Youngbloods serta berbagai nama besar lainnya, namun Kimi Werner adalah yang paling menginspirasi karena ia juga seorang chef.”

“Saya membeli perlengkapan spearfishing dari gaji pertama dan meminta Dominic untuk pergi melakukan spearfishing setiap kali saya libur kerja. Saya bangun tidur pukul 5 pagi dan pergi ke laut menggunakan kayak, terjun ke dalam laut dan berburu ikan sebelum akhirnya kembali ke dapur jam 10 untuk menambah skill atau melihat pemandangan bawah laut yang spektakuler untuk saya ceritakan di dalam dapur. Perlu waktu sekitar 3 minggu dengan 4 hingga 5 diving session sebelum saya berhasil menangkap ikan pertama saya karena gelombang Broome yang cukup besar mencapai 10 meter dengan perairan kotor yang dipenuhi hiu – meskipun tidak terlalu menakutkan bagi saya. Ikan pertama tersebut saya masak di dapur dan saya bagi bersama staff lainnya.”

“Saya terus menerus berusaha untuk improvement serta mencari ide-ide baru. Tidak terdapat batasan di dalam diri manusia selama kita sungguh-sungguh menginginkan sesuatu dan berusaha untuk mendapatkannya. Bahksan di dalam masa-masa baik atau buruk, selalu terdapat solusi jika Anda memikirkannya dan hal tersebut membutuhkan kita untuk terus melangkah dan positif. Saya merasa apa yang telah saya lakukan ini hanyalah sebuah permulaan. Kesuksesan bagi saya adalah ketika saya bangun tidur dan pergi bekerja namun saya tidak merasa sedang bekerja karena saya mencintai apa yang saya lakukan. Saat ini saya merasa seperti pergi mencari ikan bersama para customer dan kami menciptakan kenangan-kenangan luar biasa, berbagi cerita mengenai kehidupan, dan kemudian kami menjadi teman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.