MENGUJI PERTAMAX TURBO, SHELL V-POWER, DAN TOTAL PERFORMANCE 95

Pertamina Pertamax Turbo berhasil menggoda pasar dengan nilai oktan yang lebih tinggi dibanding rivalnya. Kami melakukan pengujian menyeluruh untuk menilai performanya. Apakah sepadan dengan oktan dan harga jualnya?

Auto Bild Indonesia - - Content - FOTO: RYNOL SARMOND 4Penulis: Tim Auto Bild

Tes dyno, akeselerasi, efisiensi, dan value for money

Publik Indonesia sempat dibuat gempar beberapa waktu lalu berkat hadirnya bahan bakar bensin baru lansiran Pertamina, Pertamax Turbo.

Menggunakan tagline “Perfection in Perfor- mance”, bahan bakar ini digadang-gadang mampu memberikan performa lebih baik dibanding Pertamina Pertamax Plus dan rival lainnya dengan oktan 95.

Karena punya oktan 98, Pertamina Pertamax Turbo juga diklaim cocok un- tuk mobil performa tinggi macam Sportscar ataupun Supercar.

Selain itu, bensin oktan tinggi juga cocok untuk dikonsumsi oleh mobilmobil dengan induksi udara paksa seperti turbo atau supercharger.

Untuk menguji perfor- manya secara komprehensif, kami pun melakukan pengujian secara menyeluruh. Hal pertama yang kami lakukan adalah pengujian dynamometer atau dyno test.

Tapi, untuk memastikan tidak ada efek tercampurnya bahan bakar lain, kami menguras seluruh isi tangki bahan bakar sebelum melakukan pengetesan.

Uji dyno memiliki tujuan yang jelas. Melalui uji lewat mesin dynamometer, tenaga dan torsi yang dikeluarkan mesin saat menggunakan masing-masing

bahan bakar jadi terpapar dengan eksak.

Uji akselerasi juga perlu dilakukan. Karena, tenaga dan torsi juga berbanding lurus dengan kemampuannya membangun kecepatan. Kami menggunakan alat tes Racelogic Performan- ceBox untuk melihat siapa dari kontestan bahan bakar ini yang mampu membuat mesin menghasilkan akselerasi terbaik.

Selain itu, hal yang juga dianggap esensial adalah uji konsumsi bahan bakar. Apakah Pertamina Pertamax Turbo yang punya aditif bernama Ignition Boost Formula, lebih sempurna pembakarannya sehingga mampu menghemat konsumsi bahan bakar?

Parameter harga juga jadi hal yang sensitif. Apakah dengan harga dan kelebihan yang di- tawarkan, bahan bakar tertentu itu layak untuk dipakai?

Kami menghitung berapa Rupiah yang harus Anda keluarkan untuk membeli bahan bakar sejauh 10.000 km, 20.000 km, dan 50.000 km. Biaya per kilometer juga kami ka- lkulasi untuk membandingkannya secara lebih dramatis.

Banyak orang beranggapan bahwa mesin modern dengan kompresi tinggi, wajib menggunakan bahan bakar oktan tinggi. Pendapat ini tidak salah, tapi tidak selaman-

ya benar.

Pada mobil-mobil modern, sebenarnya sudah ada teknologi untuk menanggulangi detonasi atau pembakaran prematur akibat bahan bakar rendah di mesin kompresi tinggi.

Ialah knock sensor yang mampu memundurkan timing pengapian, menambah debit bahan bakar, hingga mengurangi boost turbocharger.

Kembali lagi ke pengujian. Pada pengetesan ini, kami menggunakan sebuah Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive 4Matic. Mobil ini menggunakan mesin 1.991 cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 211 dk.

Rasio kompresi mesinnya 9,8:1. Terlihat kecil, namun mesinnya sudah terdapat turbocharger. Perangkat ini tentunya akan menaikkan rasio kompresi saat udara tambahan dipampatkan masuk ke ruang bakar.

Untuk membuat pengujian ini fair, kami hanya menggunakan satu buah unit mobil saja. Hal ini kami lakukan karena untuk meminimalkan faktor “engine luck”.

Karena berdasarkan pengalaman, meski dari mobil yang sama di waktu produksi yang sama pula, mesin mobil bisa punya performa standar yang berbeda antara satu dan lainnya.

Singkat kata, inilah ulasan kami mengenai tes bahan bakar. Ada 3 BBM yang kami uji, selain Pertamina Pertamax Turbo, disertakan pula Shell V-Power dan Total Performace 95.

Shell V-Power dan Total Performance 95 memang terkesan tidak imbang dengan Pertamina Pertamax Turbo yang klaim oktannya lebih rendah. Namun secara harga dan ketersediaan di pasaran (SPBU), ketiganya adalah produk flagship reguler yang disediakan masingmasing produsen.

Apakah Pertamax Turbo layak untuk dipilih dibanding bahan bakar lain dengan oktan di bawahnya? Inilah hasil pengujian lengkap kami.

UJI DYNO

Pengujian pertama yang kami lakukan adalah uji dyno. Pengujian ini dinilai cukup penting, karena begitu canggihnya teknologi mesin saat ini hingga mampu mendeteksi gejala knocking atau biasa dikenal dengan istilah ngelitik sekaligus meminimalkannya meng- gunakan algoritma yang telah di set melalui ECU (Engine Control Unit).

Pada beberapa mobil canggih bermesin bensin misalnya, mampu meminimalkan gejala knocking dengan memundurkan timing pengapian, menambah debit BBM ke ruang bakar, hingga mengubah jumlah boost dari mesin yang menggunakan sistem pemampatan udara atau turbo.

Penyesuaian algoritma yang berlangsung sangat cepat bahkan dalam hitungan milisecond ini, biasanya adalah efek samping dari penggunaan bahan bakar bensin dengan nilai RON yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan mobil tersebut.

Sehingga, ia juga berefek langsung dengan berkurangnya tenaga yang dapat dihasilkan dari mesin.

Mengetahui penjelasan soal teknologi mesin yang canggih tersebut, semakin menambah rasa penasaran kami soal performa yang dapat dihasilkan dari ketiga merek BBM yang berbeda pun dengan spesifikasi nilai oktan yang berbeda ini.

Tentu saja kami berusaha berlaku adil di semua parameter pengetesan untuk masing-masing sampel BBM.

Salah satunya dengan menguras seluruh bahan bakar yang ada di tangki sebelum memulai pengetesan, untuk menjamin kandungan bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar yang nanti akan diisikan, sehingga tidak tercampur bahan bakar lain.

Selanjutnya setelah bahan bakar terisi ½ tangki, mobil segera kami arahkan ke lokasi uji dyno untuk mengetahui tenaga yang dapat dihasilkan oleh masing-masing merek

BBM.

Pada pengambilan data uji dyno, tiap merek BBM diberikan lima kali kesempatan run dan diambil angka terbaiknya.

Mengapa 5 kali? Jawabannya mudah saja, karena jika hanya satu kali run, hasil maksimal tidak dapat dicapai karena belum optimalnya komponen mobil dalam bekerja.

Bukan hanya faktor suhu ideal mesin, tapi juga ketika mesin sudah terlalu ‘lelah’ dapat membuat performanya menurun.

Kami memulainya dengan pendatang terbaru yaitu Pertamina Pertamax Turbo dengan nilai RON 98,1 sesuai dengan hasil uji lab yang kami lakukan. Secara mengesankan ia mampu menggapai tenaga sebesar 208,6 dk berikut torsi 367,3 Nm.

Lalu yang kedua adalah Shell V-Power yang memiliki nilai RON 95,3 pada uji lab kami. Ia dengan mudah meraih tenaga 204,7 dk serta torsi 359,6 Nm.

Giliran ketiga ialah Total Performance 95 yang juga bernilai RON 95,3 berdasarkan uji lab kami. Ia harus puas dengan raihan tenaga sebesar 203,7 dk dan torsi 361 Nm.

Setelah kami simpulkan, Pertamina Pertamax Turbo mampu meraih tenaga 3,9 dk dan 4,9 dk lebih besar secara berurutan dari Shell V-Power dan Total Performance 95.

Pun begitu soal torsinya, ia menggapai torsi 7,7 Nm dan 6,4 Nm lebih besar dari kedua kompetitornya, yakni Shell V-Power dan Total Performance 95.

Meski kenaikan tenaga yang dihasilkan tidak terlalu signifikan, kami rasa hasil ini sudah cukup menjelaskan bagaimana pengaruh dari nilai oktan yang lebih tinggi pada mesin canggih seperti mobil yang menjadi unit tes kami, Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive 4Matic.

UJI AKSELERASI

Performa adalah hal paling menarik ketika kita berbicara tentang mesin. Kurang afdal rasanya jika kami tidak menghadirkan parameter uji akselerasi dalam pengetesan kali ini.

Kembali muncul pertanyaan seberapa penting parameter uji akselerasi ini?

Menjadi penting karena baiknya kualitas bahan bakar tentu berpengaruh langsung kepada kemampuan mesin, tak hanya jumlah tenaga dan torsi yang dihasilkan, dalam hal ini juga menjaga performa mesin saat digunakan dalam kondisi ekstrem.

Agar mendapatkan hasil yang valid, keseragaman faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil uji akselerasi menjadi perhatian utama kami.

Seperti kondisi lintasan yang sama, temperatur yang relatif sama (malam hari), jumlah bahan bakar yang sama, hingga penggunaan satu orang tester dan satu mobil unit tes sebagai bentuk perlakuan adil untuk tiap merek BBM.

Tiap merek bahan bakar akan mendapatkan tiga kali kesempatan uji akselerasi dari 0-100 km/ jam lalu diambil hasil terbaiknya.

Tentu saja kami tetap memastikan bahan bakar yang digunakan tidak tercampur satu sama lain, dengan tetap melakukan kuras tangki setelah selesai uji akselerasi untuk tiap merek BBM.

Kami menguji Pertamax Turbo lebih dulu, dan dalam parameter sprint 0-100 km/jam kali ini, hasil terbaiknya adalah 6,9 detik. Kemudian kami lanjutkan dengan Shell V-Power. Tak disangka, ia juga mampu menuntaskan sprint dari 0-100 km/jam dalam waktu yang identik dengan lawan asal Tanah Air yang diklaim memiliki nilai RON 98, yaitu 6,9 detik.

Berlanjut untuk bahan bakar bermerek asal Perancis, Total Performance 95. Dalam soal ini, ia hanya mampu menyelesaikan sprint 0-100 km/jam dalam 7,3 detik.

Ada perbedaan di soal kemampuan berakselerasi. Lalu bagaimana soal efisiensi yang ditawarkan oleh ketiganya?

UJI KONSUMSI BAHAN BAKAR

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menentukan seberapa efisien konsumsi bahan bakar sebuah mobil. Faktor teknologi mesin, faktor manusia, dan yang tidak kalah penting tentu faktor bahan bakar.

Bahan bakar dengan nilai oktan lebih tinggi biasanya akan cenderung untuk lebih sulit terbakar jika dibandingkan dengan yang memiliki oktan lebih rendah.

Bukan berarti kabar buruk, jika digunakan pada mesin yang tepat justru akan membuat pembakaran lebih optimal dan tentunya lebih efisien dalam mengolah bahan bakar.

Dalam pengujian kali ini, kami menerapkan parameter yang berbeda dari pengujian standar di Auto Bild Indonesia. Normalnya kami melakukan pengujian dengan dua

rute, yaitu dalam kota dengan kecepatan ratarata 22 km/jam dan kecepatan rata-rata 90 km/ jam di rute tol.

Dengan dua rute tersebut, biasanya kami mencoba menggali teknologi olah bahan bakar dari mesin mobil yang dites.

Berbeda dengan pengujian bahan bakar kali ini. Untuk menggali potensi terbaik dari sebuah bahan bakar, kami menetapkan kecepatan rata-rata pada 45 km/jam dengan rute kombinasi.

Rute kombinasi yang dimaksud adalah adanya kombinasi kecepatan tinggi di tol dan kecepatan rendah di dalam kota.

Tak lupa kami sudah menguras tangki terlebih dahulu untuk memastikan bahan bakar tidak tercam- pur kembali satu sama lain. Pengujian pertama pun kami mulai dengan Pertamina Pertamax Turbo. Setelah menempuh jarak 90 km, kami mendapat angka 15,15 km/l.

Dengan kecepatan rata-rata dan jarak tempuh yang sama, Shell V-Power dapat meraih angka 14,92 km/l. Pun begitu dengan Total Performance 95 mampu meraih angka yang identik dengan produk Shell, yaitu 14,92 km/l.

Meski tidak terlalu jauh mendominasi, pembuktian efisiensi ini pun menjelaskan bahwa dengan nilai oktan yang lebih tinggi dan sesuai dengan rekomendasi berdasarkan kompresi mesinnya, membuat Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive 4Matic lebih baik dalam mengolah bahan bakar.

Pun begitu dengan mobil lainnya yang memiliki kompresi tinggi, apalagi yang menggunakan turbo. Kebutuhan nilai oktan tinggi menjadi faktor esensial untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dari mobil tersebut, dalam hal ini efisiensi bahan bakar.

VALUE FOR MONEY

Selain biaya servis berkala, salah satu pengeluaran terbesar lainnya dalam kepemilikan sebuah kendaraan adalah biaya pembelian bahan bakar.

Karenanya, salah satu pertimbangan utama seseorang dalam membeli sebuah mobil saat ini adalah seberapa hemat kon- sumsi bahan bakarnya.

Tak berbeda dalam hal pemilihan bahan bakar, BBM yang mampu menghemat konsumsi bahan bakar mutlak diperlukan agar biaya tersebut bisa ditekan.

Berdasarkan hasil pengujian konsumsi bahan bakar, kami akan menghitung biaya per kilometer hingga selama mobil digunakan sejauh 10.000 km, 20.000 km, dan 50.000 km.

Kami mengasumsikan, 10.000 km adalah jarak tempuh untuk setahun pemakaian. Selanjutnya 20.000 km dan 50.000 km adalah estimasi untuk 2 tahun dan 5 tahun pemakaian.

Perlu diingat bahwa harga ketiga bahan bakar dalam pengujian ini ber- sifat fluktuatif mengikuti harga minyak dunia, maka kami menggunakan harga yang ditetapkan pada tanggal pengujian ini, yakni 15 November 2016 di wilayah Jabodetabek.

Harga per liter Pertamina Pertamax Turbo berada pada Rp 8.700, harga per liter Shell V-Power dibanderol Rp 8.950, dan per liter Total Performance 95 dijual dengan harga Rp 8.550.

Pertama kami akan menghitung biaya per kilometer dari masingmasing merek. Mulai dari Pertamina Pertamax Turbo dengan angka konsumsi bahan bakar ratarata 15,15 km/l, ia dikenai biaya sebesar Rp 574,25/ km.

Shell V-Power yang mampu berjalan 14,92

km/l dengan harga per liter paling mahal, maka butuh uang sebesar Rp 599,86/km. Total Performance 95 menuai hasil yang sama dalam urusan konsumsi bahan bakar. Angka konsumsi bahan bakar rata-rata 14,92 km/l menjadikannya yang paling murah, karena hanya perlu merogoh Rp 573,05/ km dari kantong Anda.

Lalu dengan konsumsi BBM yang sudah kami sebutkan di atas dan harga jual Rp 8.700 per liter untuk menempuh jarak 10.000 km Pertamina Pertamax Turbo butuh 660,06 liter, dan biaya pembelian bahan bakarnya sebesar Rp 5.742.574.

Setelah menempuh 20.000 km Anda butuh 1.320,13 liter dengan biaya sebesar Rp 11.485.148, dan tentunya sesudah menempuh 50.000 km dengan total 3.300 liter bahan bakar, biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian bahan bakar adalah Rp 28.712.870.

Bagaimana dengan Shell V-Power? Harga jual paling mahal Rp 8.950 per liter, membuat Anda harus menyiapkan Rp 5.998.659 untuk menempuh 10.000 km dengan total 670,24 liter bahan bakar yang diperlukan.

Menempuh 20.000 km dengan total 1.340,48 liter bahan bakar, Anda wajib mengeluarkan Rp 11.997.318, lalu biaya sebesar Rp 29.993.295 menjadi total yang harus Anda keluarkan setelah menempuh 50.000 km dan mengkonsumsi 3.351,20 liter bahan bakar.

Strategi penjualan dengan harga per liter paling murah, membuat Total Performance 95 jadi yang paling terjangkau.

Ia dijual dengan harga Rp 8.550 per liter, dan untuk menempuh 10.000 km beserta 670,24 liter bahan bakar Anda butuh dana Rp 5.730.563.

Tak jauh berbeda dari rivalnya yang menggunakan RON 98, untuk menempuh 20.000 km ia dapat ditebus dengan biaya Rp 11.461.126 dengan total 1.340,48 liter bahan bakar.

Sedangkan bagi Anda yang ingin menggunakannya hingga 50.000 km, Anda hanya perlu menyiapkan Rp 28.652.815 setelah menghabiskan 3.351,20 liter bahan bakar.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, Pertamina Pertamax Turbo dengan nilai oktan 98,1 berhasil mendongrak performa mesin saat uji Dyno. Pun begitu soal efisiensi bahan bakarnya, ia menjadi yang paling irit meski belum mampu mendominasi terlalu jauh.

Kesempurnaan belum kami temukan dari Pertamax Turbo, Ia tidak superior dalam parameter uji akselerasi dengan harga jualnya yang berada di tengah-tengah kompetitornya.

Shell V-Power meskipun dengan nilai oktan 95,3, berhasil menyamai kemampuan Pertamax Turbo saat uji akselerasi. Hal ini membuktikan bahwa dalam hal menjaga performa mesin dalam kondisi ekstrem ia tetap dapat diandalkan. Sayang harga jualnya harus jadi yang paling mahal dalam pertarungan ini.

Total Performance 95 memang belum mampu menyamai performa dalam hal uji dyno, akselerasi maupun efisiensi bahan bakar dari lawanlawannya bahkan Shell V-Power yang memiliki nilai oktan sama, yaitu 95,3. Walau begitu, ia dijual dengan harga paling murah dan membuatnya memiliki nilai lebih dibanding lainny. Otomatis jika Anda memilih menggunakannya, paling tidak Anda membutuhkan biaya paling sedikit untuk menempuh 10.000 km, 20.000 km, dan 50.000 km nantinya.

Tetap saja pilihan untuk menggunakan merek dan jenis bahan bakar apa pun ada di tangan Anda. Namun, dengan hadirnya beragam pilihan yang disediakan oleh ketiga merek bahan bakar ini, membuat Anda lebih leluasa untuk memilih sesuai dengan kebutuhan mesin, daya guna, hingga anggaran dana yang Anda miliki.

Persiapan sebelum pengujian dyno

Uji dyno dilakukan dengan teliti dan seksama

Proses kuras bahan bakar agar tak tercampur

Mercedes-Benz GLC 250 Exclusive 4Matic memiliki mode dynamometer

Rekomendasi nilai oktan dari Mercedes-Benz untuk GLC 250 yang dipasarkan di Indonesia

Proses kuras dilakukan setiap akan memulai pengujian

Proses pengisian ulang bahan bakar lewat kemasan setelah tangki dikuras

Harga jual menjadi faktor pendukung dalam memilih BBM

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.