FIRST DRIVE: MERCEDES-BENZ E300 AVANTGARDE

Bicara teknologi, Mercedes-Benz E-Class baru memiliki cukup banyak amunisi. Meski sayang kiprahnya di Indonesia harus terbentur absennya beberapa fitur bernilai

Auto Bild Indonesia - - Content - 4Penulis : Ivan Casagrande Momot

Rahasia keunggulan generasi terakhir

Antusias penikmat Mercedes-Benz tentu terpuaskan dengan tampilan E-Class yang baru. Tidak ada lagi kesan aristokrat yang kental. Sebab yang disuguhkan kini ialah komposisi overhang pendek, wheelbase panjang, dan roda yang besar.

Proporsi ini sebenarnya sudah sangat sedap dipandang mata. Terlebih unit Mercedes-Benz E 300 Avantgarde yang kami coba dilabur warna merah Hyacinth. Pilihan berani untuk sebuah mobil yang notabene ada di kategori business-class. Namun, biarlah ini jadi selera konsumen masing-masing.

Lain di luar, lain juga di dalam. Masuk ke kabin kami disambut nuansa interior yang cerah. Meski sayang, ia tidaklah menyuguhkan sesuatu yang baru. Sebab layout dasbor EClass tampak mirip dengan dasbor S-Class plus dengan desain konsol tengah yang kental di C-Class. Namun, ternyata hal inilah yang turut mendongkrak kemewahan E-Class.

Toh dengan dasbor SClass, kami bisa menikmati widescreen cockpit selebar 12,3 inci. Terasa jelas saat kami mencoba fitur navigasi dalam format 2D atau 3D. Dimana resolusi yang disuguhkan tetap tajam meski diterpa sinar matahari langsung.

Kami juga bisa memilih tampilan instrument cluster ini dalam tiga model. Baik mode Classic, Sport dan Progressive. Pun dengan pengaturan konten tampilan utama sesuai dengan keinginan meski tidak semua menu bisa ditampilkan.

Di balik kemudi, pemendekan bagasi secara psikologis membuat kami lebih nyaman dibanding harus mengendarai SClass. Meski faktanya panjang keseluruhan mobil ini melar dari 4.880 mm menjadi 4.923 mm dibanding model sebelumnya.

Posisi duduk E 300 baru juga tergolong ergonomis. Kami tidak merasakan ruang kepala dan kaki yang terbatas. Hal mendasar yang memberi stimulus baik saat berkendara.

Berbeda dengan pendahulunya, mobil ini sudah tidak lagi menggunakan mesin besar 3.000 cc. Ia kini menggunakan mesin Mercy generasi baru berkapasitas 1.991 cc 4 silinder turbo. Sama dengan yang diusung Mercy C 300.

Getaran dan suara mesin mobil ini sebenarnya terdengar cukup jelas di luar. Namun, isolasi

kabin yang baik, mampu mereduksi degup jantung pacu mobil ini.

Dengan komposisi tenaga 245 dk dan torsi 370 Nm, E 300 diklaim bisa menuntaskan 0-100 km/jam dalam 6,2 detik saja. Lebih cepat 0,7 detik dibanding E 250 yang memang hanya bertenaga 211 dk.

Area pengetesan yang terbatas membuat kami hanya mencoba mode Comfort. Meski reaksi mesin seakan tertahan, kami cukup menikmati transfer tenaga via transmisi otomatis 9 percepatan yang berlangsung halus. Putaran setirnya juga enteng tapi senantiasa presisi dengan arah gerakan tangan.

Tuah lain yang tidak boleh diabaikan ialah imbas pemanjangan wheelbase yang berdampak pada bantingan suspensi yang lebih empuk. Ia seakan menawarkan kenyamanan mengemudi tanpa mengabaikan kecekatan.

Di luar semua itu berbagai fitur keselamatan berkendara sudah hadir di mobil ini. Sebut saja PRE-SAFE System yang mendeteksi adanya potensi kecelakaan. Active Parking Assist yang membantu pengemudi parkir otomatis. Tidak saja parkir dengan cara mundur tapi juga maju.

E 300 ini juga dilengkapi Crosswind Assist untuk meminimalkan bodyroll akibat tekanan angin dari samping. Hingga Active Brake Assist, yang mengingatkan pengemudi apabila ada dalam ancaman kecelakaan, memberikan bantuan berupa inisiasi rem oleh komputer, dan apabila perlu, rem secara total hingga berhenti.

Empat fitur di atas boleh lolos dari ‘sunat’ fitur EClass yang sebenarnya berlimpah. Padahal ia punya sistem semi autonomous berlabel Drive Pilot. Atau remote Parking Pilot layaknya remot di BMW Seri 7 untuk memarkirkan mobil secara otomatis.

Hingga Car-to-X-communication yang merupakan sistem komunikasi sesama mobil E-Class untuk mengetahui kondisi jalan yang akan dilalui. Hingga yang paling simpel tombol pintu bagasi elektris absen diberikan E 300 ini.

Namun, dalih menekan harga dan sarana prasarana yang kurang di Indonesia, membuat fitur-fitur bernilai itu absen diaplikasi. Intinya calon konsumen harus rela menggelontorkan Rp 1,3 miliar lebih untuk sebuah E 300 yang tak sepenuhnya paripurna.

Eksterior warna merah terlihat begitu eye catchy

Bagasi luas namun tidak dilengkapi pintu bagasi elektris

Mesin bensin turbo 1.991 cc bertenaga besar

Touchpad tidak tersedia di E 250 Avantgarde

Klaim 0-100 km/jam bisa dikunci dalam 6,2 detik

Jok kulit warna beige yang ergonomis

Atap panoramic-sunroof dibuat layaknya coupe

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.