TEST DRIVE: LAMBORGHINI AVENTADOR S

Menguji supercar spesial 740 dk

Auto Bild Indonesia - - Content - 4Penulis: Ralf Kund 4Alih Bahasa: Stefanus Yoga

Revisi yang diberikan Lamborghini terhadap Aventador sesederhana huruf “S” sebagai tambahan nama. Meskipun demikian, Aventador S memberikan lebih dari sekadar nama. Karena selain 740 dk dan berpenggerak empat roda, lebih dari itu Aventador S menganut sistem kemudi empat roda/ four

wheel steering (4WS). Lamborghini menghadirkan karakter seorang penari balet ke dalam seekor banteng, menjadikannya sebuah kesatuan yang semakin hidup. Perbedaan mudah terlihat saat dikomparasi dengan LP700-4 dalam sebuah slalom.

Pendahulunya, saat dipaksa berganti arah dengan cepat di tikungan, ban depan terasa lebih susah dibelokkan dan membu- tuhkan usaha lebih di kemudinya.

Sedangkan versi baru dengan tambahan huruf “S” ini sudah mendapatkan fitur baru yakni Geometry Dynamic Steering. Berkat fitur itu, Aventador S tidak hanya memiliki sudut kemudi lebih kecil, tapi juga memberikan pengendalian lebih akurat. Ada sebagian orang menyebut Aventador payah dalam faktor ini – nyatanya, tidak sama sekali.

Dengan aplikasi kemudi 4 roda, maka Lamborghini bermesin V12 ini mampu bergerak lebih lincah karena manuver mobil juga diarahkan dari poros roda belakang. Fitur yang bertanggung jawab terhadap teknologi ini adalah Lamborghini Real-wheel Steering (LRS) yang bekerja berdasarkan kecepatan aktual.

Pada kecepatan rendah, arah kemudi roda belakang mengarah berlawanan dengan roda depan. Hasilnya, sudut belok menjadi semakin tajam dan hasilnya manuver mobil yang semakin lincah.

Lalu pada kecepatan tinggi, arah belok roda belakang akan paralel dengan arah belok roda depan. Tapi tentu dengan sudut yang berbeda. Dampaknya, stabilitas di kecepatan tinggi jadi meningkat sehingga kontrol pengemudi terhadap mobil jadi lebih baik.

Apa yang dilakukan kemudi roda belakang ini seperti memanjang-pendekan wheelbase demi kelincahan atau stabilitas mobil. Hal ini membuat Aventador lebih mudah dipakai sehari-hari meski dengan banderol seharga 335.050 euro (Rp 5 miliar).

Jangan lupakan juga adanya peningkatan pada sistem aerodinamika. Bagian depan kini 130% lebih baik di soal downforce. Artinya, roda depan mendapat kemudi yang lebih melekat ke aspal, sehingga kian membantu Aventador S saat menangani tikungan dengan kecepatan tinggi.

Mesin V12-nya menawarkan tenaga 40 hp lebih besar dari Aventador biasa. Namun, kenyataannya, Aventador S tidak lebih cepat dalam hal akselerasi dari Aventador biasa yang tenaganya “hanya” terpaut 40 dk. Di akselerasi 0-100 km/jam, Aventa- dor S menyelesaikannya dalam 2,9 detik. Lalu topspeed menyentuh titik 350 km/jam.

Dapur pacu berkapasitas 6.500 cc itu tak hanya lebih bertenaga, namun juga terasa lebih berkarakter karena mengeluarkan suara lebih lantang. Ini tak lain berkat dukungan sistem knalpot baru yang lebih lancar pembuangannya.

Transmisi Aventador S juga terasa lebih tenang untuk pengendaraan sehari-hari. Musababnya karena transfer tenaga yang lebih lembut dan lebih minim entakan.

Sebelumnya Aventador memiliki 3 mode berkendara yakni Strada, Sport dan Corsa. Strada yang paling beradab, dan Corsa atau ‘sirkuit’ sebagai wujud dari karakter terliar.

Namun, di Aventador S, ada mode berkendara keempat yang bernama Ego. Di mode Ego, pengemudi memiliki kebebasan penuh untuk mengatur beberapa parameter sesuai keinginannya. Seperti respons mesin atau bantingan suspensi (damping).

Tingkat aerodinamika meningkat berkat spoiler depan baru dan sayap belakang

Mesinnya menyalak hingga 8.000 rpm

Revisi aerodinamika membuat gaya tekan roda depan meningkat 130%

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.