Road to Hybrid/Electric Car

Auto Bild Indonesia - - Mailbox - Bimo Aribowo Editor in Chief Auto Bild Indonesia www.autobild.co.id

Untuk kesekian kali isu mobil hybrid dan listrik saya sampaikan dalam Inside Line. Namun, bedanya kali ini sudah mulai terbentuk road map hingga 8 tahun ke depan. Sekitar 2 bulan lalu, pemerintah resmi mengeluarkan Peraturan Presiden No. 22 tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional. Di situ tertuang target untuk pengembangan kendaraan listrik dan hybrid hingga 2.200 unit mobil dan 2,1 juta sepeda motor pada tahun 2025. Siap-siap delapan tahun lagi, ada ribuan mobil listrik dan hybrid berseliweran di jalanan kota-kota besar di Indonesia.

Kebijakan soal mobil listrik dan hybrid memang tidak dapat ditunda. Ini bukan soal bisnis semata, tapi sudah menjadi tren dunia yang kian sulit dan mahal memakai energi fosil. Meski telat, tapi Indonesia belum terlambat. Sayangnya sampai lebih dari 2 bulan Perpres diterbitkan, belum ada regulasi jelas soal solusi dari kendala mobil hybrid dan listrik.

Problem utama soal mobil listrik dan hybrid adalah harga jual. Meski bukan temuan baru, tapi teknologi mobil listrik dan hybrid masih mahal. Satu-satunya cara untuk mereduksi harga jual agar bersaing dengan mobil berbahan bakar fosil hanyalah insentif pajak dari pemerintah. Ini yang paling ditunggu-tunggu agen pemegang merek (APM) di Tanah Air. Sinyal ke arah itu sudah berembus dari Departemen Perindustrian sebagai kementerian teknis bersama Departemen Perhubungan. Tentunya penentuan besarnya insentif akan diketok palu oleh Departemen Keuangan. Jika presiden saja sudah menetapkan target di 2025, sudah pasti para menteri terkait juga harus mendukung keberhasilan 2.200 unit mobil listrik dan hybrid di 2025.

Insentif pajak buat mobil hybrid dan listrik bukanlah hal baru di dunia. Sudah banyak negara-negara lain yang melakukan kebijakan tersebut. Ambil contoh Jepang yang saat ini menjual lebih banyak mobil hybrid dan listrik dibanding mobil bermesin konvensional. Bahkan ketika Indonesia nanti euforia dengan mobil hybrid dan listrik di tahun 2025, Jepang sudah menargetkan mobil swakemudi (otonomus) di tahun 2020.

Saya teringat 2 tahun lalu merasakan mobil otonomus buatan Toyota yang sudah mampu membaca sensor-sensor di jalanan umum sehingga tak lagi perlu pengemudi. Pemerintah Jepang optimis di 2020 saat Olimpiade Tokyo, sudah ada mobil otonomus yang berseliweran di jalan raya.

Kemudian Malaysia yang juga memberi insentif pajak (National Automotive Policy/NAP) untuk mobil hybrid sehingga harganya lebih terjangkau. Salah satu efek regulasi tersebut, Mercedes-Benz Malaysia mampu meraih sukses penjualan S-Class hybrid yang dirakit lokal dalam 2 tahun belakangan. Maklum harga S-Class hybrid pasca NAP jadi ‘murah’, bahkan nyaris setara E-class bermesin bakar konvensional.

Jika Indonesia tidak cepat bergerak, mobil-mobil hybrid dan listrik akan lebih dulu dibuat di negara-negara tetangga kita. Malaysia yang dengan NAP di tahun 2014 (berlaku mulai 2015) menyasar para produsen mobil hybrid dan listrik untuk mendirikan pabrik di Malaysia. Ini malah telah terjadi di Mercedes-Benz dengan S400L Hybrid rakitan Pekan Pahang, Malaysia. Jika Indonesia tidak cepat menelurkan regulasi untuk memasok kebutuhan mobil hybrid dan listriknya sendiri dari pabrik lokal dalam negeri, maka kita kembali jadi importir. Kasus sama sudah pernah terjadi dengan Thailand, dimana iklim investasi pabrik mobil Indonesia kalah bersaing. Mau mengulangi kesalahan yang sama? Meski telat, semoga belum terlambat!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.