TEST DRIVE: MERCEDESBENZ E 250 AVANTGARDE CKD

E-Class paling terjangkau di Tanah Air

Auto Bild Indonesia - - CONTENT - 4Penulis: Anton Hari Wirawan

April 2017 lalu, PT MercedesBenz Distribution Indonesia resmi meluncurkan E 250 rakitan lokal. Karena hasil karya pabrik Mercedes-Benz di Wanaherang, Bogor, Jawa Barat, harga mobil ini bisa lebih ditekan. Jika dibandingkan E 250 versi impor Jerman, E 250 completely knockdown (CKD) ini dijual lebih murah Rp 50 jutaan.

Dari poin pertama, mobil ini jelas terbukti lebih efisien dari segi harga, lantaran dirakit di dalam negeri. Poin selanjutnya yang menguatkan mobil ini sebagai pilihan efisien, adalah dari trimnya. Mercedes-Benz punya nomenklatur ‘kasta’ berdasarkan angka. Semakin kecil angka, semakin dibawah tingkatnya. Jadi, secara garis lahir, Mercedes-Benz E 250 ini adalah pilihan entry level yang punya harga paling terjangkau di Indonesia saat ini.

Meski entry level, tampilannya sama sekali tidak terlihat ada di level bawah. Sosoknya tetap terlihat mewah dan megah berkat desain membulat dan dimensi bongsornya. Jika dibandingkan dengan E 300 AMG yang berada di atasnya, E 250 memang punya pendekatan yang berbeda. Mobil ini terlihat lebih bersahaja dengan minimnya elemen desain yang striking. Wajar rasanya, mengingat E 300 punya imbuhan AMG Line yang harus bernuansa agresif. Satu hal yang perlu kami komentari adalah desain pelek dari E 250. Menurut kami, desainnya terlalu sederhana untuk ukuran Mercedes-Benz E-Class.

Tekan tombol engine start/ stop, dan mesin mobil hidup dengan halusnya. Jangan harap Anda jumpai suara apalagi getaran mesin. Kenyamanan memang sungguh hadir di mobil ini. Sebelum melaju, kami suka dengan tawaran desain instrument cluster-nya. Tampilan dua monitor besar, mendominasi dasbor yang terlihat sangat modern.

Karena pakai instrument cluster model full digital, Jadi Anda bisa personalisasi tampilannya. Tersedia tiga pilihan tema, ada Classic, Progressive, dan Sport. Keren!

Saat mulai melaju, kami rasa bantingan suspensinya masih mirip E-Class non-AMG lain. Pas. Tidak keras tapi tidak empuk. Soal mode berkendara, E 250 CKD juga sama dengan beberapa Mercedes-Benz lainnya. Ada Eco, Comfort, Sport, Sport+, dan Individual yang bisa diatur berbagai parameternya sesuai kebutuhan.

Saat mengemudikannya, Anda tidak akan menyadari atau bahkan ingat bahwa mobil ini adalah se-

buah entry level. Kualitas interior dan pengendaraan, tetap sama premium dengan trim di atasnya. Ambient light juga tetap hadir untuk menghadirkan nuansa tertentu di dalam kabin.

Hal lain yang membuatnya jauh dari kesan ‘murahan’ adalah fiturnya. Lengkap, bahkan dengan tetap hadirnya fitur Parking Pilot. Dengan fitur ini, mobil bisa parkir otomatis tanpa perlu asistensi apapun dari Anda. Kontrol kemudi, posisi gigi, dan pedal gas-rem semuanya diatur komputer.

Cara aktivasinya juga mudah. Anda tinggal pencet tombol dengan ikon kamera di area dekat tuas transmisi, dan lajukan mobil perlahan hingga komputer menemukan lokasi potensial untuk parkir. Setelah itu, pilih model parkir seri atau paralel serta posisi parkir mun- dur atau bagian depan yang masuk. Lalu biarkan mobil bermanuver parkir secara otomatis. Tapi saran kami, tetap siagakan kaki Anda di pedal rem untuk antisipasi.

E 250 punya mesin berkapasitas identik dengan E 300. Hanya saja, output tenaga E 250 lebih kecil 34 dk dengan 211 dk. Tenaga lebih kecil, bukan berarti musibah. Nyatanya, Mercedes-Benz E 250 terbukti bisa lebih irit dari sang kakak E 300. Konsumsi bahan bakar rute dalam kotanya, berhasil mencatatkan angka 10,5 km/l. Lebih irit 0,5 km/l. Sementara rute tolnya, mobil ini barulah bisa digdaya. Ia berhasil membuat selisih 1,7 km/l lebih irit, di angka 17,5 km/l. Ternyata, selain efisien dari segi harga, E 250 juga efisien dari segi konsumsi bahan bakar. Terbukti lebih efisien bukan? u

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.