FORMULA E

/

Auto Expert - - Content -

CUACA CERAH MENAUNGI KOTA BEIJING NAMUN PERHATIAN PARA FANS MOTORSPORT TERTUJU KE AREA TAMAN OLIMPIADE. 20 MOBIL BERTENAGA LISTRIK SEDANG BERSIAP-SIAP MENCETAK SEJARAH DI SIRKUIT JALAN RAYA SEPANJANG 3,44 KM. SEBUAH VISI BESAR INGIN DISAMPAIKAN OLEH KEJUARAAN BARU FORMULA E: MELAJU KENCANG TIDAK SELALU BERARTI BURUK BAGI LINGKUNGAN. LIMA LAMPU MERAH MENYALA SATU PER SATU DIIRINGI MUSIK BERNUANSA KETEGANGAN. BRACE YOURSELF.

Semua lampu merah padam tanda balapan dimulai. Nicolas Prost dari pole position melaju ke depan sedangkan Nick Heidfeld dengan cerdik menyalip Karun Chandok dari sisi luar. Di tikungan kedua, Franck Montagny hampir menggiring rekan setimnya Charles Pic ke dinding pembatas. Di belakang mereka, Oriol Servia hampir saja memulai kecelakaan beruntun. Sementara itu, nasib buruk menimpa pembalap lain. Ho-Pin Tung harus start dari pit lane. Jarno Trulli tidak bisa bergerak dari grid. Bruno Senna berhenti dengan suspensi kiri depan patah setelah terjepit di antara Katherine Legge dan Takuma Sato. Sebelum lap pembuka usai, Servia pun hampir kehilangan kendali di entry tikungan kedua terakhir. Satu unit BMW i8 lalu memandu peserta dalam periode safety car. Musik latar kembali diputar.

Semua mobil melambat dan menghemat energi demi aksi agresif saat green flag. Lap 5, safety car sudah masuk pit dan pertarungan kembali memanas. Rombongan peserta lanjut mengular, nose-to-tail di jalanan yang sempit penuh chicane sambil mencari celah untuk overtaking. Komponen-komponen sasis Spark SRT_01E terbukti aman dan tangguh di lintasan jalan raya yang bumpy. Sesekali terdengar nyaring suara decitan karet ban. Sejumlah persaingan ketat pun muncul.

Satu hal berbeda dari FE adalah pergantian mobil saat pit stop di tengah race. Setiap pengemudi tidak perlu buru-buru mengganti mobil tanpa mengencangkan sabuk pengaman. Ada aturan durasi pit stop minimum yang mencatat waktu perjalanan dari entry menuju exit pit lane. Regulasi ini dimanfaatkan Heidfeld. Ia keluar garasi lebih cepat namun melambatkan mobilnya sebelum kembali ke lintasan balap.

Heidfeld mencuri dua posisi tambahan selepas pit stop dan terus membuntuti Prost hingga lap penutup. Jelang tikungan terakhir ke kiri, Prost melihat spion kanan namun Heidfeld mengambil jalur dalam. Prost terlambat memulai manuver blocking. Heidfeld tersenggol dan tidak bisa mencegah mobilnya melaju menuju kerb berbentuk sosis raksasa. “Quick Nick” pun terlempar ke udara dan jungkir balik setelah menabrak dinding Tecpro.

Tidak ada yang terluka serius. Di tengah kekacauan itu, Lucas di Grassi menjadi juara pertama. Podium dilengkapi Montagny dan Sam Bird yang masing-masing start dari posisi 8 dan 11. Sato gagal mencapai finish namun mendapat 2 poin untuk fastest lap. Balapan berlangsung dramatis. The dream of electric vehicle (EV) racing has become a reality. How long will it survive?

CHALLENGING THE SKEPTICS

Electric racing sebenarnya adalah konsep “lama tapi baru”. Pada tahun 1899, La Jamais Contente yang merupakan sebuah EV menjadi mobil pertama yang mencapai kecepatan 100 km/jam. Terlepas dari teori konspirasi bahwa perusahaan-perusahaan minyak meredam perkembangan energi alternatif satu abad yang lalu, EV kini mulai bangkit kembali.

Kesadaran untuk segera menggantikan mesin konvensional mulai memberikan tekanan pada pengembangan EV. Hanya saja, masih terdapat

ELECTRIC RACING SEBENARNYA ADALAH KONSEP “LAMA TAPI BARU”. PADA TAHUN 1899, LA JAMAIS CONTENTE YANG MERUPAKAN SEBUAH EV MENJADI MOBIL PERTAMA YANG MENCAPAI KECEPATAN 100 KM/JAM.

kekhawatiran utama seputar harga, keselamatan, charging time, dan mileage. Diharapkan FE bisa mendorong perkembangan EV lebih jauh. Perlahan tapi pasti.

FE memberi pesan yang kuat dengan menyelenggarakan seluruh event di tengah kotakota ikonik dunia seperti Miami, Monte Carlo, hingga London. Fans tidak perlu mengemudi jauh dari pusat kota untuk datang ke sirkuit balap. Jika tidak memiliki tiket, jangan khawatir karena ada layar video raksasa tersedia di venue.

Sebuah digital app bahkan dikembangkan supaya penonton bisa melihat mobil meski terhalang oleh gedung-gedung. Untuk meminimalisasi gangguan

pada aktivitas masyarakat sekitar, perhelatan acara digelar dalam satu hari saja. Tidak banyak waktu tersedia antara sesi practice, qualifying, dan race.

Oke, kita berbicara efisiensi resource tapi mengapa seorang pembalap perlu dua mobil saat race? Tenang, nantinya mobil bisa saja dibuat bertahan sepanjang race. Atau, tetap memakai dua mobil namun dengan horsepower masingmasing dua kali lebih besar. Integrasi wireless charging pun nantinya bisa membuat mobil tidak perlu berhenti sama sekali untuk mengisi energi - sebuah revolusi di bidang otomotif.

Bagaimana dengan FanBoost yang memberikan 3 pembalap paling populer tambahan 40 bhp selama 5 detik untuk setiap mobil? Terdengar seperti gimmick yang terlalu berlebihan. Tetapi, pernahkah terbayang suatu hari berseru: “Hei, sayalah yang memberi Sebastien Buemi FanBoost yang ia manfaatkan untuk merebut posisi pertama di lintasan!”. It’s all about interactivity they said. Pembalap dan fans diharapkan menjadi lebih komunikatif di social media.

FE tidak (atau belum) menandingi Formula 1 secara langsung dari lap time. Namun, FE memiliki tantangan tersendiri. Strategi penggunaan energi adalah faktor kunci di FE. Terlalu banyak menggunakan energi, maka bersiaplah mobil overheat, kehabisan baterai, atau mendapat penalti.

Terlalu menghemat energi, maka tentu performa mobil akan menurun. Tak dilengkapi dengan kopling, saat start pengemudi pun harus lihai dalam transisi rem dan gas. Selain itu, ada regenerative braking paddle di balik kemudi untuk untuk mengisi baterai dan melambatkan mobil.

FE memiliki tiga nilai inti: Energy, Environment, dan Entertainment. Kompetisi

FE MEMILIKI TIGA NILAI INTI: ENERGY, ENVIRONMENT, DAN ENTERTAINMENT. KOMPETISI BALAP MENJADI AJANG PEMBUKTIAN TEKNOLOGI BARU YANG NANTINYA BISA DITRANSFER KE KENDARAAN UMUM

balap menjadi ajang pembuktian teknologi baru yang nantinya bisa ditransfer ke kendaraan umum. Masih banyak ruang pengembangan tersedia, khususnya energy storage. Jika FE begitu memperhatikan efisiensi, bisa saja semua badan mobil menjadi movable aerodynamic. Suksesnya FE akan turut membantu penetrasi EV di pasaran.

Apakah lantas ini berarti FE merupakan preview masa depan motorsport? Rasanya masih jauh panggang dari api. Teknologi belum siap, pun dengan mindset kita semua. Ada pendapat bahwa EV adalah delusi dunia utopisa Suara dan mileage rendah dari EV sudah cukup membuat banyak orang jengah. Juara dunia F1 3 kali Niki Lauda bahkan berkomentar mobil FE adalah “The worst thing I’ve seen for a long time.”

Namun, langkah menuju balap bebas emisi setidaknya sudah dimulai. Dan tidak. FE tidak semata-mata dibuat oleh para fundamentalis pecinta lingkungan. Anda tidak akan disuruh berhenti makan daging atau jangan memakai jaket kulit. Selama mesin konvensional masih ada, keberadaan FE dan balap lainnya akan berjalan paralel.

Kita masih menunggu kehadiran inovasi-inovasi baru yang lahir dari FE. Di masa kelahirannya, komputer saja membutuhkan satu ruangan besar tapi sekarang sudah berukuran lebih kecil dari genggaman tangan.

Terlalu naif jika buru-buru menyatakan FE akan menggantikan F1 yang umum diklaim sebagai the pinnacle of motorsport. Tidak fair membandingkan keduanya, khususnya dari segi performa mobil dan fanbase. Kejuaraan dunia F1 sudah dimulai sejak lebih dari 6 dekade lalu sedangkan FE baru saja lahir di abad ke-21.

Baiklah, penyelenggaraan event FE sekarang tidak sepenuhnya ramah lingkungan. Ekstraksi material, pembuatan komponen mobil, dan transportasi untuk keperluan logistik tidak semuanya bebas emisi. Pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil pun bisa berujung pada ketergantungan lain. Untuk mengubah persepsi orang-orang terhadap EV, FE setidaknya sudah memulai langkahnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.