DAYTONA 24 HOURS 2015 America’s Greatest Endurance Race

Auto Expert - - Content - Teks: ADITYA P SIREGAR Foto: GETTYIMAGES, PORSCHE, FERRARI, NISSAN

JIKA EROPA PUNYA LE MANS 24 HOURS, MAKA AMERIKA SERIKAT PUNYA DAYTONA 24 HOURS. DAN BERSAMA-SAMA SEBRING 12 HOURS, KETIGA BALAPAN TERSEBUT DIJULUKI TRIPLE CROWN OF ENDURANCE. SAYANG, PERJALANANNYA TIDAK SEMULUS LE MANS DAN TERBILANG PENUH TURBULENSI...

Akan tetapi, Daytona bagaikan jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan Le Mans. Malah, perjalanan sejarahnya terbilang penuh turbulensi. Sempat diisi sports car racer terbaik, namun tak jarang hanya diikuti peserta kelas dua. Lebih sedih ketika dunia sports car racing AS dilanda perang saudara antara Grand-Am dengan ALMS.

Unifikasi kedua badan tersebut tahun silam memang memberikan angin segar. Akan tetapi, patut dicatat bahwa peserta Daytona bukanlah sports car racer terbaik di muka bumi. Kelas utama P (Prototipe) yang merupakan asimilasi dari Daytona Prototype (DP) dan LMP2 (Le Mans Prototype 2) jelas kalah canggih dari mesin-mesin LMP1 berlaga di Le Mans.

Dan untuk kedua kalinya, Daytona menjadi saksi dari pertarungan ego antara DP melawan LMP2. Andalan skuad DP adalah Riley MKXVI bermesin Ford Ecoboost dan Chevrolet Corvette DP. Sementara di kubu LMP2 hadir Ligier JS P2 bermesin HPD (Honda Performance Development) dan Judd, HPD ARX-04b serta Mazda SKYACTIV-D bersasis Lola.

Pelajaran didapat dari season pertama Tudor United Sportscar Championship (TUSC) membuat pertarungan DP vs LMP2 semakin seimbang dan menarik. Meski kali ini pole position ditempat Ligier bermesin HPD dari Michael Shank Racing, untuk kedua kalinya gelar juara jatuh ke tangan DP. Tahun lalu Corvette DP, kini giliran Riley-Ford. Bahkan, DP menguasai tiga podium teratas. LMP2 terbaik hanya menempati posisi ke-11, itupun kalah dari kelas GTLM (Grand Touring Le Mans).

BRIEF HISTORY

Memiliki visi bahwa Amerika harus punya balap selain NASCAR di trek oval, Daytona International Speedway menyelenggarakan balap sports car untuk pertama kalinya tahun 1959. Konfigurasi sirkuit ini unik, merupakan gabungan antara lintasan oval dengan trek

DAYTONA INTERNATIONAL SPEEDWAY MENYELENGGARAKAN BALAP SPORTS CAR UNTUK PERTAMA KALINYA TAHUN 1959. KONFIGURASI SIRKUIT INI UNIK, MERUPAKAN GABUNGAN ANTARA LINTASAN OVAL DENGAN TREK JALANAN DI DALAMNYA

jalanan di dalamnya. Balap perdana hanya berdurasi 6 jam / 1.000 km dan dimenangkan oleh Antonio Von Dory dan Roberto Mieres mengendarai Porsche 718.

Format 24 jam baru diberlakukan tahun 1966, bersamaan naik statusnya Daytona menjadi bagian dari World Sportscar Championship (WSC) untuk kelas tertinggi Prototipe. Dan dimenangkan oleh legenda balap ketahanan, Ford GT40.

Pernah menjadi saksi ‘war of attrition’ antara Henry Ford II dengan Enzo Ferrari. Ingin membalas

kekalahan di Le Mans setahun sebelumnya, Enzo Ferrari memerintahkan tiga Ferrari berada pada posisi teratas untuk melintasi finish bersamaan. Tujuannya, mempermalukan Henry Ford II di kandangnya sendiri. Adalah 330 P3/4 finish pertama, diikuti 330 P4 dan 412 P pada balap 1967.

Sempat berubah format menjadi 6 jam pada 1973 karena CSI (badan pendahulu FIA) ingin Le Mans menjadi satu-satunya balap 24 jam di seri WSC. Tetapi, setahun kemudian kembali ke format ‘semalam suntuk’. Meski krisis ekonomi membuat balap 1974 batal diselenggarakan.

Sejak 1983, Daytona 24 Hours tidak lagi menjadi bagian dari seri balap internasional. Meski begitu era antara 1981 – 1993 diikuti IMSA GTP (Grand Touring Prototype) yang tak kalah canggih dari Group C. Dengan Eagle-Toyota MK III menjadi IMSA GTP terakhir memenangkan Daytona.

Punahnya Group C dan IMSA GTP akhir 1993 membuat Daytona 24 Hours dan seluruh balap sports car terombang-ambing mencari format. Penyelenggara

SEBAGAI SPESIALIS KETAHANAN, TAK ANEH JIKA GELAR KING OF DAYTONA 24 HOURS JATUH KE TANGAN PORSCHE. PERTAMA KALI MENANG DI 1968, HINGGA DETIK INI TAK KURANG DARI 22 GELAR JUARA DIREBUT HOUSE OF STUTTGART

Daytona sempat meratifikasi regulasi Le Mans. Lantas sejak 2003 memutuskan untuk jalan sendiri dengan konsep low cost DP.

DAYTONA PROTOTYPE

Tahun 2000 dunia balap sports car AS terpecah dengan berdirinya Grand-Am Road Racing (GA) sebagai pesaing American Le Mans Series (ALMS). Sadar bahwa kecepatan mobil-mobil LMP yang terlalu tinggi dan diiringi biaya meroket, GA menelurkan program DP mulai kompetisi 2003. Nama Daytona sengaja dipilih sebagai tribute kepada seri Daytona 24 Hours. Mungkin untuk menyaingi nama LMP.

Pengalaman sebagai pengelola NASCAR membuat regulasi DP sangat ketat. Ucapkan selamat tinggal kepada material eksotis. Sebagai contoh, sasis terbuat dari baja biasa. Aerodinamika juga diatur seketat mungkin. Sementara mesin pun dihomologasi. Hasilnya? Salah satu sports car racer terjelek pernah ada.

Di antara konstruktor DP, adalah Riley pantas disebut sebagai yang paling sukses. Berhasil memenangkan Daytona 24 Hours antara 2005 – 2011. Riley sendiri merupakan reinkarnasi Riley & Scott yang koleps akibat bangkrutnya sang pemilik Reynard. Sekadar kilas balik, Riley & Scott tiga kali memenangkan Daytona 24 Hours (1996,1997 dan 1999).

PORSCHE, THE KING OF DAYTONA

Sebagai spesialis ketahanan, tak aneh jika gelar King of Daytona 24 Hours jatuh ke tangan Porsche. Pertama kali menang di 1968, hingga detik ini tak kurang dari 22 gelar juara direbut House of Stuttgart. Baik sebagai konstruktor maupun penyuplai mesin.

Kemenangan pertama direbut oleh Porsche 907 pada era pasca prototipe bermesin besar seperti Ford GT40 pensiun. Tak mau kalah oleh aksi dilakukan Ferrari setahun sebelumnya, tiga 907 melintasi garis secara bersamaan untuk finish 1-2-3.

Gelar Porsche terbanyak menjadi pemenang diperebutkan oleh 935 dan 962. Keduanya sama-sama menang sebanyak enam kali. Untuk 935, menjadi pemenang enam kali berturut-turut (1978 – 1983). Sementara 962 merebut 6 gelar selama 10 tahun sejak menang pertama 1985. Digabung, keduanya menguasai Daytona antara 1977 – 1987.

Sang model jalan raya 911 juga pernah mencicipi podium tertinggi sebanyak empat kali. Masih ada ‘monster’ Gulf 917 yang menang antara 1970 – 1971.

Gelar kemenangan terakhir diraih tahun 2010. Kali ini lewat Daytona Prototipe Riley MKXI bermesin Porsche V8. Mengikuti kemenangan setahun sebelumnya. Dimana, kemenangan 2009 dirasa cukup emosional bagi pecinta balap ketahanan karena diraih Porsche ber-livery Brumos. Sewarna dengan 911 Carrera pemenang Daytona 1973.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.