S

Auto Expert - - Motorsport - Teks: ADITYA P SIREGAR Foto: ADRENAL MEDIA, BYKOLLES RACING

ejak diberlakukannya regulasi baru kelas puncak LMP1 (Le Mans Prototype) tahun 2014 di arena FIA World Endurance Championship (WEC) dan Le Mans, kategori ini hanya diikuti dua tim privateer. Rebellion dan ByKolles (dulu Lotus). Rebellion menurunkan dua mobil, sementara ByKolles tampil single fighter.

Hadir minus daya dorong ERS, sejak dari awal semua pihak memprediksi LMP1 privateer takkan sanggup ber tarung dengan tim pabrikan bersenjatakan mobil balap tercanggih di muka bumi. Bagaimana mungkin mesin konvensional AER P60 500 dk memberi tenaga Rebellion dan ByKolles mampu menandingi serangan hybrid berdaya 900 – 1.000 dk milik Audi, Porsche maupun Toyota.

Meski sama-sama dipanggil LMP1, pada kenyataannya Rebellion dan AER berada di liga terpisah dengan tim pabrikan. Sebagai contoh, pada seri ke-2 WEC di sirkuit Spa (7/5) catatan waktu Rebellion R-One terpaut lima detik dari tim pabrikan. Tepat berada di tengahtengah catatan waktu antara LMP1 hybrid dengan LMP2.

Jelas bukan ini harapan Rebellion dan ByKolles saat memutuskan untuk terjun di kelas utama. Rebellion, ByKolles dan juga banyak tim lain ingin berada dalam liga sama dengan tim-tim terbaik dan tetap mampu memberikan perlawanan sengit.

Satu-satunya harapan adalah ketika ada mobilmobil tim pabrikan mengalami masalah. Seperti dialami Rebellion yang berhasil meraih dua podium berturut-turut di dua seri WEC. Lumayan, tetapi jelas bukan prestasi seperti ini diinginkan tim privat.

Jelas, sesuatu harus dilakukan. Gerard Neveu, CEO WEC menyadari betul hal tersebut. “Kami harus menciptakan regulasi yang secara teknis dan bisnis memberikan alasan bagi tim untuk berkompetisi,” ucap Neveu. Ditambahkan bahwa

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.