Suka tidak suka, semua ini disebabkan oleh kehebohan dilakukan enterpreneur visioner Elon Musk dengan Tesla-nya. Tanpa gebrakan Tesla, hampir dipastikan balap EV takkan seheboh saat ini.

Auto Expert - - Editorial - Aditya P. Siregar aditps@gramedia-majalah.com

Mendadak, terjadi pergeseran fokus besar-besaran di kalangan industri mobil. Jika tadinya, semua pihak seakan tidak sepakat seperti apa dapur pacu masa depan. Kini, semua agaknya sepakat dan mulai mencurahkan fokusnya ke mobil listrik (EV, electric vehicle).

Suka tidak suka, semua ini disebabkan oleh kehebohan dilakukan enterpreneur visioner Elon Musk dengan Tesla-nya. Tanpa gebrakan Tesla, hampir dipastikan balap EV takkan seheboh saat ini.

Salah satu ‘korban’ EV-race adalah Toyota. Masih segar dalam ingatan saya ketika berkunjung ke HQ Toyota empat tahun silam saat peluncuran eQ. Pada waktu itu, Toyota dengan gamblang mengatakan tidak percaya EV akibat lambannya perkembangan baterai. Akan tetapi, berita terkini menyebut bahwa Toyota mengakselerasi riset EV-nya demi mengejar target launch 2020.

Bagaimana dengan VW dan Audi? Kemarin-kemarin, raksasa Jerman ini begitu bangga dengan kecanggihan mesin dieselnya. Gara-gara skandal emisi gas buang, kesaktian diesel mereka pun diragukan. Seperti sudah kita lihat di Paris Motor Show, inisiatif besar-besaran EV mereka agaknya akan segera dimulai. Dalam kasus Audi, perubahan strategi dari diesel ke EV memakan korban berupa dihentikannya program balap sports car setelah 18 berlaga tanpa henti.

Hampir pasti, cabang motorsport menjadi lahan exercise dan ‘buang duit’ marketing adalah Formula E. Ditahun ketiganya, Formula E telah diikuti pabrikan lebih banyak dari arena F1. Sebuah era baru akan segera dimulai....

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.