HEBOH MOBIL NASIONAL

Car & Tuning Guide - - Editor's Note -

Dimana-mana, yang namanya kebijakan baru harus diiringi dengan outcome jelas. Dan apa yang saya takutkan selama ini menjadi kenyataan, bahwa tidak adanya visi jelas arah industri otomotif Indonesia dari pemerintahan terpilih berpotensi menelurkan kebijakan absurd. Dan tidak, saya tidak akan keluar dari konteks yang menjadi bidang keahlian kami, yaitu otomotif.

Dalam seminggu belakangan, kata mobil nasional alias mobnas kembali menjadi buah bibir. Proton Malaysia mengumumkan bahwa mereka bekerjasama dengan pemerintah RI untuk membuat mobnas. Setelah heboh sana-sini, belakangan muncul pernyataan bahwa itu hanya kerjasama B2B biasa.

Saya tidak tertarik menelusuri kenapa Proton bisa tahu-tahu mengaku bikin mobnas. Saya hanya terusik kepada definisi mobnas itu sendiri. Karena bisa diartikan ganda. Mobnas dalam konteks brand lokal. Atau made in Indonesia? Karena kalau definisi kedua, rasanya kita punya LCGC, Toyota Avanza, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio... dan lain-lain.

Kalau harus brand nasional? Tanpa bermasuk mengecilkan harapan, rasanya ini bagaikan mimpi siang bolong. Proton bisa sukses di Malaysia karena mendapatkan proteksi. Begitu proteksi dibuka, pangsa pasarnya langsung drop karena diserang brand-brand global.

Mendirikan brand mobil jelas bukan perkara mudah. Banyak tahap harus dilalui. Pertama, harus punya tim rekayasa dan perencanaan produk yang mumpuni. Kedua, proses produksinya harus efisien. Ketiga, produk harus punya daya tahan baik. Salah satu caranya, menguji coba ratusan ribu kilometer sebelum diluncurkan. Last but not least, layanan aftersales harus oke. Terbayang banyaknya pe-er harus dilakukan untuk dapat mendekati kualitas produk dari brand global.

Rasanya, fokus kepada made in Indonesia akan lebih pas. Mendorong tumbuhnya industri otomotif dari hulu ke hilir akan memberikan dampak signifikan pada jumlah lapangan kerja. Belum lagi pergerakan ekonomi sektor informal di sekitar pabrik.

Sekali lagi, saya bukannya anti mobnas brand lokal. Masalahnya, perjalanan menuju ke sana terlalu panjang. Apalagi jika mengimpikan mobil sekelas MPV berharga 200 jutaan. Rasanya, kalau ingin mobnas dari sisi brand, sebaiknya fokus pada konsep Kendaraan Bermotor Niaga Serbaguna (KBNS) untuk menggerakkan transportasi di daerah.

Aditya P. Siregar

Editor in Chief

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.