FIRST DRIVE – MCLAREN 570S

Sehari bersama sang calon volume maker

Car & Tuning Guide - - Volume - RENDY SURYA/PHOTOS: MCLAREN, RENDY/DESIGN: AARON

Portimao dan Faro, adalah dua kota kecil bertetangga di distrik Algarve, Portugal. Satu jam saja perjalanan naik pesawat dari Lisbon. Kota turis ini terkenal salah satunya karena pantai dengan pasir putih dan tebingnya. Tapi tujuan kami kali ini bukanlah untuk berjemur sambil menikmati pemandangan. McLaren sengaja memilihkan kota ini sebagai rumah sementara bagi para jurnalis dari seluruh dunia untuk menjajal model terbaru dari Sport Series-nya McLaren, 570S Coupé .

Wayne Bruce, Global Communication Director, McLaren Automotive membuka perkenalannya pada kami, tim jurnalis dari berbagai negara, “Ini adalah lokasi yang tepat untuk menjajal produk terbaru McLaren, jalanannya dengan kontur variatif, mulai dari highway hingga jalanan sempit ala pedesaan di Eropa,” ujar pria berkepala licin asal Inggris ini.

Sejatinya McLaren membagi tiga seri produknya. Ultimate Series, Super Series dan Sport Series. McLaren P1 dan P1 GTR menempati slot Ultimate Series. Super Series 675LT, 650S Coupe, 650S Spider dan 650S Can Am Limited Edition. Nah Sport Series merupakan seri terbaru yang ditawarkan McLaren. Dan 570S Coupé adalah model pertama yang diperkenalkan sekaligus paling bertenaga. Di semester kedua 2016, rencananya McLaren juga akan memperkenalkan model 540S Coupé untuk menemani 570S Coupé .

Bicara Sport Series, McLaren mengklaim, seri ini menggabungkan unsur teknologi yang dipakai dalam balap, paket

performa tinggi seperti ciri khas McLaren, namun sangat mudah digunakan untuk pengendaraan harian alias daily driving. Harapan lebih tinggi, Sport Series mampu menjadi McLaren volume maker. Angka optimis pun dipatok sebesar 4.000 unit di tahun 2017.

Lebih lanjut soal desain, karakter khas McLaren begitu kental terlihat. Terutama tarikan garisnya. Saya yakin, orang awam tak bakal percaya kalau 570S Coupé termasuk entry-level McLaren. Contohnya detil lampu belakang, malah terkesan dipengaruhi karakter P1 daripada 650S. Desain front bumper dirancang membelah angin keempat sisi yang berbeda, kemudian diteruskan melalui lekukan bodi hingga sayap di buritan. Penampilannya makin advance lagi dengan kehadiran headlamp berteknologi LED.

Namun paling kentara ada pada bagian samping. Tarikan garis dari pintu ke belakang membentuk lorong “floating tendon’ yang berfungsi sebagai saluran udara menuju sidemounted radiators. Begitu juga dengan bagian atap ke belakang. Dimana terdapat celah antara pilar belakang dan atap. Ini yang disebut ‘Flying Buttresses’. Fungsinya untuk meningkatkan downforce. “A beautiful combination of form and function,” kata McLaren.

Seperti halnya pabrikan mobil berbasis motorsport, 570S juga dirancang dengan konstruksi sasis advance, desain bodi sangat aerodinamis dengan material berteknologi tinggi, mesin performa tinggi dan tentu saja bobot ringan. Soal bobot, 570S Coupé diklaim paling enteng di kelasnya atau lebih enteng 150 kg dari rivalnya. Dengan ukuran sekitar 1.313 kg (bobot kering), diperoleh berkat pemakaian sasis enteng dari bahan karbon fiber MonoCell II. Sasis karbon fiber diklaim lebih kaku, enteng, kuat dan menunjang performa tinggi.

Aplikasi karbon fiber di bagian eksterior menyumbangkan poin

tinggi dalam fashion maupun fungsi. Karbon fiber menjadi salah satu ciri khas bahan yang selalu ditampilkan pada setiap model McLaren. Sifatnya opsional ditawarkan dalam dua paket. Ada 7 titik aplikasinya pada bagian eksterior yaitu, aero blades di bumper depan, cover spion, sebagian pintu, side skirt, side intakes (fender belakang dekat pintu), serta rear deck alias kap mesin.

Untuk bagian kaki-kaki, peranti penghenti laju 570S langsung dipasangkan rem berbahan carbon ceramics, dengan kapiler 6-piston alumunium di bagian depan, serta 4-piston di kakikaki belakang. Sejatinya, warna kaliper standar adalah hitam dengan logo McLaren silver. Tapi McLaren, menawarkan opsi dress up warna kaliper sesuai keinginan (McLaren orange, silver, red, yellow dan polished) .

Sebagai peranti standar, ditawarkan velg Sport Forged Wheels 14 jari-jari kelir silver, stealth atau diamond cut. Namun begitu sebagian McLaren yang kami jajal di Portimao, sudah dipasangi velg opsional palang lima (5-spoke forged) dan desain ‘ranting’ palang 10 (superlightweight). velgnya lantas dibalut ban performa tinggi, Pirelli P-Zero Corsa ukuran 19x8 inci (depan) dan 20x10 inci (belakang).

Dapur pacu 570S sama dengan varian model McLaren lainnya. Berkode M838TE, twin-turbocharge 3,8 liter flatplane crank V8. Teknologinya ditingkatkan baik soal efisiensi, respon dan suara. Dibandingkan dengan versi 650S, mesin ini menggunakan 30 persen parts baru. Termasuk exhaust manifold untuk menghasilkan suara lebih ‘nakal’.

Output yang dihasilkan sekitar 562 dk pada putaran mesin 7.500 rpm. Memuntahkan torsi 600 Nm pada 5.000-6.000 rpm. Ia menjadi V8 McLaren pertama yang menggunakan fitur start-stop, dengan klaim rata-rata konsumsi bahan bakar 10,7 liter/100 km. Klaim lain, akselerasi 0-100 km/jam dapat ditempuh dalam waktu 3,2 detik, dengan top speed pada 328 km/ jam. Untuk perpindahan smooth dan cepat, disiapkan 7-speed twin-clutch gearbox juga dengan fitur paddle shift.

Esensi sebuah sports car dengan konsep praktis sepertinya benar dibuktikan. Saat masuk dalam kabin, pintu ‘sayap’ terbuka lebar vertikal untuk memberi kemudahan akses masuk. Disematkan pula fitur Soft Close Option (opsional) untuk kenyamanan saat menutup pintu. Ini yang disebut effortless cabin access.

Side sill (lis plang) rendah dan tipis memudahkan ketika memasuki kabin. Bicara ruang penyimpanan di bagian apron depan, mampu menampung barang dengan volume 150 liter. Cukup untuk dua ransel besar.

Masuk dalam kabin, jok desain sport nyaman dibalut dengan bahan kulit. McLaren menawarkan banyak variasi warna dan bahan. McLaren 570S yang pertama kali saya coba berwarna bodi Blade Silver, interiornya diberi sentuhan konsep Luxury Design. Beberapa bagian diberi motif perforated. McLaren sebenarnya menawarkan dua konsep interior, Sports Design dan Luxury Design. Masing-masing ditawarkan dalam 5 pilihan motif dan warna.

Desain dasbor termasuk simpel. Tak seperti ‘Godzilla’ asal Jepang yang penuh tombol dan

cukup memusingkan. Sebuah sports car dengan kelengkapan USB port, glove box, cup holder bahkan vanity mirror. Rasanya seperti fitur mobil harian. Pada dasbor tengah, terdapat display 7 inci touchscreen dengan sistem in-cartaintment yang disebut IRIS, plus dibekali 12 speaker Bowers & Wilkins.

Waktu satu hari untuk menjajal McLaren terbaru tidak terlalu memuaskan. Walau begitu McLaren Automotive mencoba memaksimalkan jadwal yang superketat ini. Kami diberi kesempatan mengemudi dari Conrad Algarve Hotel menuju sirkuit Autodromo Internacional Algarve (AIA), Portimao dan menjajal langsung performanya di trek ini.

Jalanan Faro ke Portimao dianggap ideal dan variatif baik lebar jalan maupun kontur permukaan, mewakili jalanan sebagian besar kota di Eropa. Kota dengan populasi penduduk tidak terlalu banyak ini juga dirasa pas untuk menjajal McLaren 570S.

Keluar parkiran hotel, jalanan berliku khas countryroad jadi pengalaman pertama saya. Tampilan eksotik, raungan knalpot kerap membuat patah leher para pejalan kaki sekitar Algarve. Cuaca saat itu, tidak menentu. Pagi cerah, memulai perjalanan sudah mulai gerimis. Injak gas sedikit saja, bodi 570S sudah lincah melesat.

570S dilengkapi adaptive damper dan Active Dynamic Panel yang terdiri dari dua setingan untuk Handling dan Powertrain, yang masing-masing punya tiga pilihan mode, Normal, Sport dan Track. Dengan begitu, kita bisa menyetel pilihan kombinasi setingan Powertrain dan Handling sesuai keinginan.

Pada posisi H (handling) di mode Normal, dan P (Powertrain) di mode Normal, paling enak untuk mengemudi harian dengan respon agresif khas McLaren. Namun perpindahan giginya tetap smooth dengan tingkat kekerasan damper lembut. Cocok banget buat berkendara santai. Saat memasuki jalan bebas hambatan, saya mulai sering kick down. Setel H dan P di posisi Sport. Akselerasi menuju 160 km/jam tak terasa hanya butuh 6 detik saja. perpindahan gigi sedikit agak lama, namun respon throttle lebih agresif.

Barulah ketika masuk sirkuit Autodromo Internacional Algarve (AIA), pindahkan H dan P di mode T (Track). Dengan begitu, suspensi langsung diset di level paling kaku dengan respon throttle paling spontan.

Sayangnya, waktu menjajal trek tidak terlalu lama, 5 putaran saja. Namun trek Autodromo Intenacional Algarve, sungguh memusingkan buat saya. Mungkin butuh berkali-kali mencoba untuk mengingat racing line yang benar. Haha, yap, sirkuit ini memang tricky. Apalagi dengan kontur tanjakan dan turunan.

Kadang di trek menanjak, langsung menghadap langit dan sedetik kemudian bertemu tikungan tajam. Ekstrem. Karena hujan, sebagian kondisi trek digenangi air membuat traksi ban tak terlalu maksimal di beberapa titik. Inilah yang membuat ‘pantat’ 570S sedikit bergeser. But it is really fun! Pun begitu, 165 km/jam sempat saya tembus saat keluar dari tikungan terakhir dan menuju trek lurus. Sampai tak terasa, angka 230 km/jam di spidometer pun diraih.

Kembali ke hotel dengan rute berbeda. Kalau di awal perjalanan saya mendapat 570S dengan jok sport normal. Ketika kembali ke hotel, saya menjajal McLaren 570S dengan bucket seat yang posisi duduknya lebih rendah. Jujur, saya lebih menikmati awal perjalanan dengan jok sport lebih nyaman dan terasa normal. Bucket seat saya rasakan agak keras dan di salah satu sisi yang lebih tinggi malah membuat saya agak kesulitan keluar dari mobil. Apalagi badan saya sedikit ‘ekstra’.

Prediksi kami setelah menjajal 570S di trek maupun jalanan, spesies baru ini sepertinya bakal bersaing ketat dengan modelmodel sepert Porsche Turbo, Aston Martin DB9, ataupun Audi R8. Sama-sama mid engine, bikin patah leher, dan performa tinggi. 570S mencoba memberikan pilihan baru bagi para penyuka sports car. Ia menjadi entry level sports car yang sangat menjanjikan.

Buat McLaren Automotive sendiri, spesies ini diprediksi akan menjadi salah satu spesies berstatus volume maker namun sangat layak dikoleksi. Apalagi tak lama lagi akan juga muncul kehadiran sang adik, 540c Coupé dengan desain tak jauh berbeda dari 570S sebagai pilihan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.