FIRST DRIVE – ASTRA DAIHATSU SIGRA R DELUXE

Apa yang ditawarkan Sigra pada eksterior dan interior rasanya sudah cukup memenuhi kebutuhan sebuah mobil keluarga. Bagaimana karakternya ketika melaju di jalan raya?

Car & Tuning Guide - - Volume - FAJAR DIVA/PHOTOS: ADLISAL

Saat ini siapapun pasti penasaran untuk mengetahui bagaimana performa Astra Daihatsu Sigra. Bahkan, penasaran tingkat tinggi akan muncul saat mencari tahu bagaimana rasanya duduk di jok baris ketiga saat MPV LCGC ini melaju kencang.

Itulah alasan PT Astra Daihatsu Motor menyelenggarakan “National Media Test Drive Astra Daihatsu Sigra” yang melibatkan 10 unit Sigra tipe tertinggi untuk test drive dengan rute BSD Tangerang-Sentul pada Selasa (16/8) lalu.

Untuk sesi pertama, kami kebagian unit Astra Daihatsu Sigra R Deluxe bertransmisi manual. Melihat cuaca yang mulai panas ditambah kemacetan perjalanan, saya urungkan duduk di balik kemudi. Justru kami mau merasakan sebagai penumpang jok baris kedua dan ketiga.

Duduk di jok baris kedua terasa menyenangkan. Selain lapang, sandaran bangku juga bisa direbahkan (reclining). Jika duduk di baris kedua ini, akan terlihat di plafon terdapat rear air circulator. Inilah inovasi dari Daihatsu untuk memberikan angin sejuk bagi penumpang yang duduk di bangku baris kedua dan ketiga.

Cara kerjanya, rear air circulator akan menyedot hawa dingin dari tiupan AC di kabin depan dan selanjutnya diembuskan ke kabin belakang. Namun ketika diaktifkan maksimum, sirkulasi udara ini menghasilkan suara yang sedikit kencang. Efeknya, saya pun harus bersuara lebih kencang untuk berkomunikasi dengan penumpang lain dan pengemudi.

Memasuki tol JORR, saya pindah duduk ke baris ketiga. Saya pilih sebelah kanan karena duduk sebelah kiri kurang nyaman akibat penempatan jemari kaki yang terhadang rel jok baris kedua.

Postur tinggi badan 168 cm rasanya cukup nyaman duduk di bangku paling belakang. Meski bagian belakang kepala hampir mendekati plafon dan pilar D. Saya pun berpesan kepada pengemudi untuk berhati-hati ketika melintasi jalan berundak atau berlubang agar kepala tidak terbentur ke plafon.

Nah, yang paling menarik ketika Sigra dipacu kecepatan tinggi. Gejala limbung masih terasa dalam batasan wajar, tapi bantingan suspensinya benar-benar di luar ekspektasi. Karakternya agak sedikit keras tapi tetap terasa lembut. Indikator kenyamanannya adalah salah satu awak penumpang tertidur pulas selama perjalanan.

Jika pada edisi lalu kami sudah membahas versi manual, pada sesi test drive kami juga mencoba tipe transmisi otomatis 4-percepatan dengan rute Sentul menuju Gunung Pancar. Awalnya cukup pesimis ketika mesin 3NR-VE berkapasitas 1.197 cc 4 silinder Dual VVT-i dipacu di jalan menanjak dengan isi empat penumpang dewasa dan banyaknya barang bawaan. Terlintas pertanyaan, kuat menanjak tidak ya?

Sigra bertransmisi otomatis memiliki bobot kendaraan 990 kg, lebih berat 25 kg dari versi manual. Artinya, Sigra A/T memiliki power-to-weight ratio 11,25 kg/ps. Lebih baik dari Honda Freed (11,3 kg/ ps) dan Toyota Sienta (11,6 kg/ ps). Namun tidak sebaik Toyota Avanza (10,4 kg/ps) dan Sigra bertransmisi manual (11 kg/ps).

Saat diajak berakselerasi, Sigra A/T memang tidak seresponsif versi manual. Namun karakter performa tenaga 88 ps terbilang cukup memadai untuk komposisi tujuh penumpang. Kendalanya hanya terletak pada transfer tenaga ke roda, dimana peran transmisi menjadi penting. Alhasil ketika kondisi penumpang penuh, versi otomatis sedikit keteteran untuk mendapatkan performa optimal ketimbang tipe manual.

Hal tersebut kami rasakan ketika menaiki jalanan menanjak sedikit ekstrem di Gunung Pancar. Kami terpaksa menekan pedal gas lebih dalam dan memindahkan tuas transmisi ke angka ‘2’. Dan sayangnya, transmisi otomatis tidak tersedia pilihan mode angka ‘1’ atau ‘L’.

Sehingga untuk tanjakan panjang pun, kami menjaga putaran mesin agar tenaga tidak drop di tengah-tengah jalan menanjak akibat berpindahnya gigi ke lebih tinggi. Pasalnya, meski tuas di posisi angka ‘2’, klaim pihak pabrikan transmisi tetap berada di gigi 1. Hanya saja ketika putaran mesin diatas 3.000 rpm, maka akan berpindah ke gigi 2.

Meski begitu, saat dipacu di jalan datar tenaga masih terbilang cukup dengan formasi lima penumpang. Apalagi ketika hanya diisi 2-3 penumpang, dijamin lebih mengasyikkan lagi.

Sebagai perbandingan, kami juga mencoba versi manual dengan beban yang sama. Ketika melewati jalan sedikit menanjak ekstrem, perpindahan gigi harus dilakukan di atas 4.000 rpm. Pasalnya, torsi maksimum 108 Nm juga baru tercapai pada putaran mesin 4.200 rpm. Efek negatifnya hanya raungan suara mesin yang masuk ke kabin. Namun sudah pasti dalam kondisi seperti ini karakter berkendaranya lebih menyenangkan ketimbang versi otomatis.

Terakhir, kami juga mencatat konsumsi bahan bakar keduanya. Untuk perjalanan dari BSD-Sentul dengan jarak sekitar 70 kilometer, Sigra versi manual mencatat angka 15,1 km/liter. Sedangkan untuk versi otomatis yang melaju paling depan rombongan konvoi berhasil pada angka 23 km/liter. Oh ya, demi mencapai performa e siensi optimal Sigra telah dilengkapi indikator Eco untuk memberikan panduan cara mengemudi yang hemat bahan bakar.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.